kisah

Tersapu ombak Aegea

"Kami ingin dunia memperhatikan kami, jadi mereka bisa mencegah tragedi serupa terulang kepada yang lain," kata Abdullah.

07 September 2015 04:35

Selasa malam, 1 September 2015. Sebanyak 12 pengungsi Suriah, termasuk Aylan Kurdi sekeluarga, telah bersiap buat menyeberangi Laut Aegea dari Semenanjung Bodrum, Turki.

Aylan, 3 tahun, begitu senang. Wajahnya dihiasi senyum. Matanya berbinar-binar. "Kita akan memiliki kegembiraan," kata Abdullah Kurdi kepada putranya itu.

"Memangnya kita mau pergi ke mana?" tanya Aylan kepada ayahnya. "Ke Eropa," jawab Abdullah, seperti dia ceritakan melalui telepon kepada Tima Kurdi, saudara kandung perempuannya tinggal di Kota Vancouver, Kanada.

Tapi Rihan, ibunya Aylan, malah cemas. "Saya takut laut," kata Rihan kepada saudari iparnya itu melalui telepon sepekan lalu. "Saya tidak tahu cara berenang jika terjadi sesuatu...saya tidak mau pergi."

Abdullah memang yakin malam itu mereka sekeluarga bakal tiba di Pulau Kos, Yunani. Apalagi pelayaran itu cuma bakal menempuh jarak sekitar 3,2 kilometer. "Air laut begitu tenang dan terlihat bening seperti kristal," ujarnya.

Ini merupakan upaya ketiga Abdullah membawa keluarganya ke Eropa buat mencari kehidupan dan masa delapn lebih baik. Selama setahun menetap di Turki dia kesulitan mencari pekerjaan lantaran beretnik Kurdi.

Abdullah sekeluarga asli dari Kobani, kota berbatasan dengan Turki dan dihuni sebagian besar etnik Kurdi. Mereka lari dari sana tiga tahun lalu ke Aleppo, lalu pindah ke Ibu Kota Damaskus dan balik lagi ke Kobani. Setelah milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) menguasai Kobani, mereka mengungsi ke Turki.

Usaha perdananya gagal lantaran penyelundup bakal menyeberangkan keluarga Abdullah dan pengungsi Suriah lainnya ketahuan patroli pantai Turki. Yang kedua kali juga mentok karena penyelundup tidak datang di tempat pertemuan telah disepakati. Upaya ketiga dilakoni setelah Abdullah bareng pengungsi Suriah lainnya patungan membeli perahu sepanjang hampir lima meter dan mesin bermotor.

Mereka terbilang nekat. Karena menurut seorang pejabat pelabuhan di Bodrum, perahu dan mesin bermotor itu tidak layak dipakai buat menyeberangi Laut Aegea. "Perahu itu mirip mainan anak-anak. Mesinnya juga," tutur lelaki menolak disebutkan identitasnya ini. "Saban pekan empat atau lima orang mati tenggelam."

Harapan Abdullah sekeluarga menjejakkan kaki di daratan Eropa pun kandas. Baru 20 menit berlayar ombak besar sudah menghantam dan membikin perahu berisi 12 penumpang itu oleng dan akhirnya terbalik. Nahkodanya, orang Turki, buru-buru terjun ke laut sebelum kejadian nahas itu berlangsung.

Hingga akhirnya Abdullah memegang kendali, namun dia tidak kuasa. "Saya memegang tangan istri saya," kenang Abdullah kepada kantor berita Dogan. "Namun kedua anak lelaki saya terlepas dari pegangan saya. Malam itu gelap dan semua orang histeris."

Setelah tiga jam berjuang keras, Abdullah, 40 tahun, akhirnya berhasil selamat berenang menuju pantai di Bodrum. Hingga esoknya dia mengetahui istrinya, Rihan (35 tahun) bersama dua putra mereka - Galip (5 tahun) dan Aylan (3 tahun) - tewas tenggelam. Mayat mereka terseret hingga ke pantai.

Foto jenazah Aylan dalam posisi tertelungkup di atas pasir segera tersiar luas. Dunia terhenyak. Eropa tersentak. "Kami ingin dunia memperhatikan kami, jadi mereka bisa mencegah tragedi serupa terulang kepada yang lain," kata Abdullah.

Aylan, Galip, dan Rihan sudah dikubur di Kobani Kamis pekan lalu. Abdullah seolah kehilangan segalanya. Karena itu dia tidak bernafsu lagi pindah ke Eropa. Dia ingin menetap di Kobani hingga akhir hayatnya.

"Saya tidak menuding siapapun atas musibah ini. Saya menyalahkan diri saya sendiri," kata Abdullah sambil terisak kepada ratusan pelayat juga sesenggukan. "Saya harus menanggung rasa bersalah ini selama hidup saya."

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Basrah pada 1913, dipotret oleh pengusaha Swedia bernama Arne C Waern. (Wikimedia Commons)

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

Sheikha Latifa, daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, with her Finnish friend, Tiina Jauhiainen. (@detainedindubai for Albalad.co)

Nestapa Syekha Latifah

Bahkan sepanjang hidupnya, Syekha Latifah baru sekali keluar Dubai, yakni saat kabur tahun ini.

Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhamnad bin Abdurrahman ats-Tsani. (Saudi Gazette)

Duit sebukit tebusan pangeran

Uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR