kisah

Surga Gaza

Keluarga kelas menengah di Gaza masih bisa mengecap sedikit kenikmatan.

09 September 2015 17:06

Makan susah, air seret, listrik padam, duit cekak, obat mampet, pekerjaan nihil. Begitulah sebagian kehidupan getir dirasakan oleh hampir seluruh penduduk Jalur Gaza. Sampai-sampai Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam laporan terbaru menyimpulkan wilayah luasnya setengah lebih sedikit ketimbang Jakarta itu tidak layak dihuni manusia lagi paling lambat 2020.

Tapi bagi kaum berkocek tebal, berjumlah sekitar seratus ribu dari 1,6 juta warga Gaza, masih ada surga di sana. Kelebihan fulus mereka miliki membikin mereka masih mampu mengecap kenikmatan.

Keluarga-keluarga kelas menengah ini masih bisa makan enak, relaksasi di spa, atau menginap di vila bertarif US$ 140 semalam. Sejumlah delar mobil mewah, butik pakaian bermerek, dan segera hadir restoran Sushi Nights di jantung Kota Gaza bisa memanjakan selera mereka.

"Saya suka pelesiran satu atau dua malam dalam sebulan," kata Samia Hillis, 33 tahun, bekerja di sebuah pusat terapi buat anak-anak mengalami trauma akibat perang. "Anda harus bila mampu. Anda mesti punya kehidupan walau sedikit, bahkan di Gaza sekalipun."

Hillis, ditemui bulan lalu, tengah duduk bareng sepupunya di restoran terbuka Level Up, terletak di atas Menara Zafir. Meja-meja di rumah makan ini dipenuhi tamu. Ada yang merayakan ulang tahun, pasangan muda tengah bermesraan, dan kaum hawa - kebanyakan berjilbab - sedang mengisap syisya.

Menara Zafir menjadi sasaran enam roket Israel dalam perang musim panas tahun lalu. Militer negara Zionis itu beralasan bangunan ini menjadi salah pusat komando Hamas. Akibatnya, dapur Level Up ikut hancur berantakan.

"Penduduk Gaza mestinya mendapat lebih baik ketimbang mereka peroleh saat ini," kata Basil al-Aiwa, Manajer Level Up. Dia menambahkan restorannya berusaha mempertahankan harga roti isi ayam dan menu ikan bream dengan lemon agar terjangkau.

Di sebuah tepi pantai di Kota Gaza sudah berdiri dealer mobil mewah Grand Motor, memasarkan sedan Mercedes Benz keluaran terbaru. "Kami baru buka dua bulan lalu dan sudah terjual dua unit," ujar Muaimin Abu Ras. Keluarganya sudah berdagang mobil bekas selama tiga generasi.

Salah satu barang dagangannya berupa Mercedes E-class hitam keluaran tahun lalu, baru dipakai 20.000 kilometer. Bakal dilepas seharga US$ 80 ribu. "Pajaknya mematikan," ucapnya.

Abu Ras menjelaskan dia membeli tunai tunai mobil-mobil jualannya itu di Jerman, kemudian dikapalkan lewat Pelabuhan Ashdod, Israel. Selain membayar bea cukai dan pajak ke Israel, dia harus membayar tagihan serupa ke pemerintah Palestina dan Hamas.

Salah satu keluarga memiliki Mercedes Benz adalah pemimpin senior sekaligus pendiri Hamas Mahmud Zahar. Selain itu, waktu Albalad.co bertamu ke rumahnya di Kota Gaza tiga tahun lalu, dia juga mengoleksi satu Land Cruiser dan dua Harrier.

Satu kilometeran dari dealer mobil itu, terdapat pusat kebugaran Techno Gym. Dengan iuran anggota US$ 100 sebulan, mereka bisa belajar berenang, terapi jantung dan air. "Ini bukan sebuah bisnis, ini suatu impian," tutur salah satu pemilik, Ammar Abu Karsy. Klub ini sudah menggaet 500 anggota.

"Gaza mempunyai banyak pusat kebugaran, tapi tidak ada yang seperti ini," kata binaragawan Muhammad Migdad. Dia menjadi pelatih kebugaran di Techno Gym.

Namun dia mengakui sulit menjadi binaragawan profesional di Gaza. "Anda tidak bisa berkompetisi di luar negeri dan tidak ada sponsor," ujarnya. Belum lagi harga suplemen dibutuhkan kelewat mahal. Satu tabung protein saja seharga US$ 130, tiga kali lebih mahal ketimbang di pusat kebugaran di California, Amerika Serikat.

Gaza juga sudah mempunyai satu-satunya hotel berbintang bernama Al-Masytal, diresmikan sejak 2011. Di seberang jalannya kini sudah berdiri resor Blue Beach, memiliki kolam renang ukuran olimpiade dan pantai tertutup buat berpesta.

Ketika Albalad.co ke Gaza tiga tahun lalu, pembangunan resor ini masih terbengkalai. Semua gara-gara blokade Israel.

Ahli ekonomi terkemuka di Gaza, Umar Syaban, menjelaskan di setiap wilayah perang selalu saja ada pengusaha berani mengambil risiko. "Jadi mereka menjual sesuatu di Gaza, mobil, restoran, resor. Tidak banyak."

Namun bagi warga Gaza mampu, sedikit kenikmatan kelas menengah membikin mereka mampu melanjutkan hidup. Seperti dirasakan keluarga Ammar Abu Karsy saat menginap di sebuah vila pantai bertarif US$ 140 semalam. Sepiring hummus dengan minyak zaitun pedas, roti isi daging, mangga, anggur, dan hiburan musik seolah membuat mereka lupa sengsara Gaza.

"Kalau saja saya bisa meninggalkan Gaza," kata Hiba Ammar, 24 tahun, "Saya akan berlari."

Seorang anak penderita kolera di Yaman tengah dirawat. (Al-Jazeera)

Dedaunan pengganjal perut anak-anak Yaman

Perang antara milisi Al-Hutiyun menghadapi pasukan koalisi Arab Saudi telah menciptakan tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Derma Zionis buat pemberontak Suriah

Jumlah senjata dan dana diberikan Israel kepada para pemberontak Suriah kecil ketimbang bantuan diberikan negara-negara lain, termasuk Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.

Seorang anak penderita kolera di Yaman tengah dirawat. (Al-Jazeera)

Kehormatan Ramadhana martabat Yaman

Mufti Agung Yaman Syekh Syamsuddin telah menyerukan kepada rakyat Yaman untuk berjihad mengusir invasi pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi itu.

Syekh Mansur bin Zayid an-Nahyan, pemilik Manchester City. (Luxatic)

Fulus Syekh Mansur sukses City

Selama satu dekade terakhir, Syekh Mansur sudah menghabiskan sekitar US$ 1,5 miliar untuk mengakhiri dominasi tim sekota, Manchester United.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Dedaunan pengganjal perut anak-anak Yaman

Perang antara milisi Al-Hutiyun menghadapi pasukan koalisi Arab Saudi telah menciptakan tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah.

21 September 2018

TERSOHOR