kisah

Tersedak minyak

Tinggal Qatar menegaskan masih kuat bertahan.

18 September 2015 15:15

Hingga setengah tahun lalu keyakinan kuat masih menghinggapi para pejabat Uni Emirat Arab (UEA): negara mereka tidak akan tersedak oleh melorotnya harga minyak mentah dunia. Ketika itu harga emas hitam ini sedikit di bawah US$ 60 per barel, menukik sekitar 60 persen sejak Juni 2014.

Ahmad al-Kaabi, Direktur Ekonomi Perminyakan di Kementerian Energi UEA, Maret lalu bilang penurunan harga minyak sudah pernah terjadi sebelumnya. "Kami tidak khawatir dengan penurunan harga minyak. Perekonomian kami kuat," katanya dalam sebuah simposium soal perkembangan harga minyak di Ibu Kota Abu Dhabi, UEA.

Kepercayaan diri tinggi itu, menurut dia, lantaran UEA tidak lagi terlalu mengandalkan pendapatan dari penjualan minyak. Negara Arab superkaya ini sudah mulai beralih ke energi alternatif. "Paling lambat 2020, kami akan memiliki empat pembangkit listrik tenaga nuklir dan bisa memasok 25 persen dari kebutuhan energi UEA," ujar Kaabi.

Namun keyakinan itu cuma bertahan empat bulan. Sejak 1 Agustus lalu negara pengekspor minyak terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi ini mencabut subsidi atas bahan bakar kendaraan bermotor. Harga jual bensin pun naik rata-rata 24 persen. Seiring dengan perkembangan ini, harga minyak mentah dunia terus menukik hingga di bawah US$ 50 tiap barel.

Sebelumnya harga jual bensin dan solar di UEA termasuk termurah sejagat. Subsidi selama ini diberikan termasuk tertinggi ketiga di Timur Tengah, setelah Arab Saudi dan Mesir.

Langkah UEA ini kemungkinan besar diikuti oleh Saudi. Negara Kabah itu tengah mempertimbangkan kebijakan mencabut subsidi bahan bakar kendaraan bermotor lantaran harga minyak dunia terus melorot, sehingga kian membebani anggaran negara.

Harga seliter bensin di negeri Dua Kota Suci ini hanya sekitar US$ 15 sen atau kini setara Rp 2.124, termasuk termurah kedua di dunia setelah Venezuela.

Mengutip sejumlah sumber, Al-Watan awal bulan ini melaporkan Saudi tidak bisa lagi membiarkan harga bensin benar-benar rendah karena mampu menghancurkan ekonomi negara itu. Namun surat kabar ini tidak menjelaskan kapan kebijakan mencabut subsidi itu diterapkan.

Seorang sumber di industri minyak Teluk membisikkan para pejabat Saudi memang serius mempertimbangkan mengurangi subsidi secara bertahap.

Dia bilang Riyadh tidak akan berlaku seagresif UEA karena pertimbangan politik dan ekonomi. Dia menambahkan para pejabat UEA sudah menyarankan kepada Saudi untuk menaikkan harga bahan bakar sedikit saja.

Al-Watan menulis beberapa ahli ekonomi memperkirakan penghapusan subsidi bensin itu bisa menghemat anggaran Saudi US$ 8 miliar (Rp 113,3 miliar) saban tahun. Pengiritan itu signifikan di tengah anggaran Saudi tahun ini diperkirakan defisit US$ 120 miliar (Rp 1.699,3 triliun) atau lebih bila harga minyak mentah dunia tetap rendah.

Tekanan juga dirasakan oleh Bahrain. Gara-gara rendahnya harga minyak, anggaran negara disetujui bulan lalu memperkirakan terjadi defisit US$ 3,98 miliar atau kini setara Rp 55,8 triliun tahun ini. Karena itu, mulai 1 Oktober nanti mereka bakal mencabut subsidi atas harga jual daging, setelah dua kali ditunda.

Kuwait, negara pengekspor minyak terbesar kelima di dunia, juga ikut merasakan akibat buruk dari turunnya harga minyak. Sejak tahun anggaran dimulai April lalu, kata Kementerian Keuangan Kuwait, pendapatan negara anjlok 42,5 persen menjadi 7,3 miliar dinar (Rp 89 miliar). Sebanyak 94 persen dari jumlah penerimaan itu berasal dari minyak.

Untuk mengurangi tekanan anggaran, diperkirakan defisit 17 persen tahun ini, Kuwait sedari awal tahun ini sudah mencabut subsidi atas harga jual diesel, minyak tanah, dan avtur. Mereka sedang mempertimbangkan mengambil langkah serupa terhadap bensin dan listrik.

Tinggal Qatar menegaskan masih kuat bertahan menghadapi robohnya harga minyak mentah dunia.

Ketika harga minyak mentah dunia pernah di atas US$ 100 saban barel, negara-negara Arab supertajir di Teluk Persia - Arab Saudi, Qatar, UEA, Kuwait, Bahrain, dan Oman - seolah mandi fulus emas hitam. Namun sekarang mereka tersedak oleh melorotnya harga minyak.

Emir Dubai Syekh Mugammad bin Rasyid al-Maktum bersama istri, Puteri Haya binti Husain, serta dua anak mereka, Al-Jalila dan Zayid. (Twitter)

Duda selingkuhan Puteri Haya

Perselingkuhan antara Puteri Haya dan Russell Flowers sudah berjalan tiga tahun.

Konferensi membahas pembangunan ekonomi Palestina digelar di ibu Kota Manama, Bahrain, pada  25-26 Juni 2019. (BNA)

Mesra Manama

Bagi rakyat Palestina, kemerdekaan harus lebih didulukan sebelum kesejahteraan.

Mantan Presiden Mesir Muhmmad Mursi. (MidEast Posts)

Ultimatum bagi Mursi

Setidaknya, sudah dua kali ultimatum diberikan kepada pimpinan Al-Ikhwan: dibebaskan dengan syarat tidak berpolitik untuk jangka waktu tertentu dan dilepaskan dengan syarat tidak berpolitik tapi boleh berdakwah.

Wartawan Jamal saat akan memasuki kantor Konsulat Arab Saudi di Kota Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018. (Screengrab)

Ajal Khashoggi di Konsulat Saudi

Di bagian kesimpulan, Agnes mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan sebuah penyelidikan pidana.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Duda selingkuhan Puteri Haya

Perselingkuhan antara Puteri Haya dan Russell Flowers sudah berjalan tiga tahun.

12 Juli 2019
Mesra Manama
05 Juli 2019
Ultimatum bagi Mursi
26 Juni 2019
Ganti Tuhan di Kobani
27 Mei 2019

TERSOHOR