kisah

Revolusi keluarga anti-Salman

Delapan dari sebelas saudara Raja Salman bin Abdul Aziz ingin dia lengser. Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz difavoritkan menjadi pengganti.

26 Oktober 2015 07:36

Angin revolusi kian kencang bertiup di Arab Saudi. Bukan dengan demonstrasi besar-besaran ke jalan seperti dilakoni rakyat Tunisia, Mesir, atau Libya, namun gerakan antipemerintah itu bergerak dari kalangan dalam istana.

Dua surat terbuka bikinan seorang pangeran menyerukan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz untuk segera lengser bukan isapan jempol. Sokongan atas seruan itu kian besar.

Pangeran menolak ditulis identitasnya itu demi alasan keamanan mengungkapkan delapan dari sebelas putra mendiang Raja Abdul Aziz bin Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi, menginginkan Raja Salman, 79 tahun, mundur dan digantikan oleh adiknya berusia 73 tahun.

Dia bilang para ulama akan mendukung kudeta atas Raja Salman dan menobatkan Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz, mantan menteri dalam negeri sebagai raja. "Ulama dan orang-orang saleh lebih menyukai Pangeran Ahmad. Memang tidak semua tapi 75 persen," kata sang pangeran, merupakan salah satu cucu dari mendiang Raja Abdul Aziz.

Lampu hijau dari kaum ulama sangat penting dalam perebutan takhta di negara Kabah itu. Sebab mereka berkuasa atas masalah agama dan pemberian legitimasi politik terhadap raja.

Pada 1964 Raja Saud akhirnya lengser setelah pergulatan lama dalam keluarga kerajaan, ketika sebagian besar pangeran senior dan kaum ulama satu suara menarik dukungan. Pangeran yang menulis dua surat terbuka itu mengatakan kejadian serupa bakal segera terjadi terhadap Raja Salman.

"Apakah Raja Salman akan meninggalkan Arab Saudi seperti Raja Saud dan dia sangat dihormati di dalam dan luar negeri," ujarnya kepada surat kabar the Independent. "Atau Pangeran Ahmad menjadi putera mahkota tapi dengan kontrol dan tanggung jawab menyeluruh atas negara, dalam soal ekonomi, minyak, angkatan bersenjata, garda nasional, kementerian dalam negeri, badan intelijen, segalanya dari A sampai Z."

Ketidaksukaan terhadap menurunnya kemampuan Raja Salman - dia dilaporkan menderita penyakit alzheimer - makin menggumpal akibat sejumlah keputusan kontroversialnya, terus berlanjutnya perang di Yaman menguras anggaran, dan dua musibah saat musim haji bulan lalu.

IMF (Dana Moneter Internasional) awal pekan lalu memperingatkan Arab Saudi bakal bangkrut dalam lima tahun kecuali pemerintah memotong besar-besaran pengeluaran, karena kombinasi antara melorotnya harga minyak mentah dunia dan dampak ekonomi dari sejumlah perang di kawasan Timur Tengah.

Penunjukan Raja Salman terhadap putra favoritnya, Pangeran Muhammad bin Salman, 30 tahun, sebagai wakil putera mahkota April lalu, dan keputusan menjadikan dia sebagai menteri dalam negeri - sehingga membikin dia berwenang melancarkan perang atas milisi Al-Hutiyun telah memaksa Presiden Abdu Rabbu Mansyur Hadi pro-Saudi kabur - telah memperuncing ketegangan dalam keluarga kerajaan.

Pangeran Muhammad bin Salman dikabarkan memiliki terlalu banyak kewenangan dan kekayaan sejak menjabat posisi barunya itu. "Semua surat atau telepon untuk ayahnya harus melalui dia," kata pangeran pembangkang ini. Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Nayif, 56 tahun, merupakan keponakan Raja Salman, juga tidak populer.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz, lelaki mendapat sokongan luas untuk mengambil alih takhta, adalah putra bungsu dari pasangan mendiang Raja Abdul Aziz dengan istri kegemarannya, Hissa binti Ahmad as-Sudairi. Dia pernah menjabat menteri dalam negeri selama 37 tahun. Selama empat tahun dia bertanggung jawab atas semua tempat religius di Makkah sebelum ditunjuk sebagai menteri dalam negeri pada 2012.

Dia meninggalkan posisi itu lima bulan kemudian, secara resmi atas kemauan sendiri, dan digantikan oleh Pangeran Muhammad bin Nayif, kini menjadi putera mahkota. Pangeran pembocor rahasia itu membisikkan Pangeran Ahmad minta berhenti lantaran tidak setuju soal perlakuan terhadap para tahanan politik. "Pangeran Ahmad ingin melakukan perubahan, seperti kebebasan berpikir, membersihkan sistem hukum, dan membebaskan tahanan politik tidak terkait terorisme," tuturnya.

Dia menjelaskan banyak orang dipenjara sejak 2001 karena menyuarakan pendapat bijaksana dan pandangan Islam moderat. "Bila Pangeran Ahamd berkuasa, dia akan melepaskan orang-orang semacam ini."

Sang pangeran menjelaskan Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz, memiliki gelar master dalam ilmu politik, disukai para ulama dan pihak keluarga kerajaan karena pengalaman profesionalnya serta bergaya hidup moderat. "Abang-abangnya menyukai dia karena dia sehat dan bijak. Dia bersih dari catatan kejahatan selama hidupnya. Dia tidak pernah terlibat judi, main perempuan, mabuk-mabukkan, atau memakai narkotik."

Pangeran itu mengumpamakan Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz mirip gurun pasir dikelilingi Laut Merah atau seperti Taif dikepung pengunungan. "Dia religius tapi berpikiran terbuka, dia fasih berbahasa Inggris dan selalu mengikuti perkembangan dunia," katanya.

Istri ketiga Raja Salman, Fahda al-Hithlain, juga tokoh kunci dalam perebutan takhta di negara itu. "Dia adalah ibunya Pangeran Muhammad bin Salman dan berpengaruh terhadap ayahnya," kata sang pangeran. "Raja Salman sangat mencintai dia begitu pula terhadap Muhammad bin Salman." Namun karena sudah sakit-sakitan, dia saat ini jarang tinggal di Arab Saudi.

Perjuangan untuk menjungkalkan Raja Saud berlangsung beberapa tahun dan mengakibatkan ketegangan antara angkatan darat, kementerian dalam negeri, serta garda nasional sebelum akhirnya sang raja mundur tanpa adanya pertumpahan darah. Pangeran itu memperkirakan hal serupa akan terjadi sekarang ini.

"Ini semacam revolusi internal," ujarnya. "Kami ingin perubahan dalam hal keuangan dan politik, kebebasan berpikir dan membersihkan sistem hukum, membebaskan tahan politik dan menjalankan syariat Islam yang benar."

Alhasil, berakhirnya kuasa Salman di negeri Dua Kota Suci itu tinggal menunggu waktu saja.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bom waktu di negara Kabah

Raja Salman sudah menanam bom waktu itu sejak April 2015, tiga bulan setelah dirinya naik takhta.

Pangeran Khalid bin Farhan dari Arab Saudi, mendapat suaka politik di Jerman sejak 2013. (Middle East Eye)

Pangeran Arab Saudi serukan kudeta terhadap Raja Salman

"Kalau Ahmad dan Muqrin bersatu, saya yakin 99 persen anggota keluarga kerajaan, pasukan keamanan, dan tentara akan mendukung mereka," kata Pangeran Khalid, mendapat suaka politik di Jerman sedari 2013.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Arabian Business)

Pengamanan semua istana Raja Salman kian diperketat

Selain Istana Auja diserang Sabtu malam lalu, Raja Salman juga memiliki istana di kota Jeddah dan Makkah.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR