kisah

Semai teror di Sinai

Terpinggirkan dalam hal ekonomi dan teraniaya secara politik membikin Sinai menjadi basis radikalisme.

13 November 2015 17:38

Bersetelan jins abu-abu dengan peluncur roket di tangan, lelaki itu menunggu di bawah sebuah pohon di wilayah Semenanjung Sinai. Dia menanti sasarannya berupa helikopter militer pemerintah akan terbang.

Targetnya terlihat dan dia langsung menembakkan roket dari darat ke udara. Helikopter itu meledak, korban dan puing-puingnya luruh ke tanah. Serangan berlangsung Januari tahun lalu itu direkam oleh kelompok kemudian menjadi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Provinsi Sinai dan videonya langsung disebarluaskan di media sosial.

Peristiwa itu memberi pesan kepada militer Mesir dan negara-negara lain: pemberontak di Sinai telah meningkatkan ambisi dan kemampuan mereka. Kalau ledakan menjatuhkan pesawat penumpang Metrojet Rusia di Sinai pekan lalu benar-benar pekerjaan ISIS cabang Sinai, berarti ambisi mereka sudah mencapat tingkatan baru.

Tim investigasi sudah 90 persen meyakini pesawat Rusia mengangkut 224 orang, termasuk kru, itu jatuh karena ledakan bom. Amerika Serikat bersama Inggris hakul yakin memang itu sebabnya. Hanya saja muncul dugaan kuat bom berhasil diselundupkan ISIS ke dalam pesawat karena longgarnya pengamanan di Bandar Udara Syarm asy-Syekh, Sinai.

Kairo sudah lama berupaya mengontrol wilayah Sinai nan luas namun berpenduduk sangat jarang. Di sanalah kelompok Islam radikal bareng para penyelundup, penjahat, pihak-pihak lain menemukan surga karena jauh dari pengawasan ketat pemerintah. Hingga satu dasawarsa lalu, Sinai menjadi tempat bagi kaum militan bersenjata untuk berlindung, berlatih, dan membikin rencana serangan terhadap fasilitas serta aparat keamanan Mesir.

Pergeseran ideologi, operasi penumpasan dilakukan pemerintah, dan kekacauan di negara-negara tetangga telah mengubah Sinai dari wilayah berbahaya menjadi zona konflik. Faksi-faksi ada di sana telah bersatu membentuk sebuah kelompok memiliki akses atas dana dan senjata, serta bahkan telah menjadi cabang ISIS di luar Suriah dan Irak paling ambisius.

Ini adalah kelompok mengklaim bertanggung jawab terhadap jatuhnya pesawat Metrojet bernomor penerbangan 9268 Sabtu pekan lalu. Bila terbukti bom berhasil diselundupkan ke dalam pesawat nahas itu, berarti menjadi yang pertama sejak 2004 bom dipakai untuk menjatuhkan pesawat. Kejadian serupa berlangsung saat dua bom meledak dalam dua pesawat Rusia sebelas tahun lalu.

Menurut Muhannad Sabri, penulis buku Sinai: Egypt’s Linchpin, Gaza’s Lifeline, Israel’s Nightmare, kelompok-kelompok teror di Sinai itu kemudian melebur menjadi satu di bawah payung Ansar Bait al-Maqdis, beroperasi sejak 2011 dan tahun lalu berbaiat kepada ISIS. Bahkan mereka diakui sebagai cabang ISIS terkuat di luar Suriah dan Irak.

Personel mereka tidak pernah lebih dari 500 atau 600 orang. "Pasukan inti amat terlatih cuma beberapa lusin saja dan sangat rahasia, sisanya kelompok personel berjalan kaki dikirim ke garis depan pertempuran," kata Sabri.

Meski dari segi anggota kecil, Ansar Bait al-Maqdis memiliki pengaruh besar. Serangkaian serangan mematikan terhadap hampir tiap sasaran di Sinai - mulai pasukan pemerintah, peninjau militer internasional dan kepentingan ekonomi, hingga bus pelancong asing - telah menggaet perhatian nasional dan internasional.

Sejumlah serangan bom bunuh diri terhadap pos-pos militer Oktober tahun lalu dan Januari serta Juli tahun ini, menewaskan lusinan orang, merupakan insiden paling berdarah. Yang terakhir bahkan kian menguatkan kekuasaan Ansar atas wilayah kecil di Sinai untuk pertama kali.

Serangan menjatuhkan sebuah helikopter militer Mesir di 2004 itu menjadi bukti Ansar memiliki roket-roket canggih, kemungkinan diselundupkan dari Libya, kacau setelah kejatuhan rezim Muammar al-Qaddafi.

Provinsi Sinai tahun lalu mengisyaratkan perluasan wilayah perang dari utara Mesir ke kawasan wisata di selatan, dengan serangan bom atas sebuah bus menewaskan tiga turis Nasrani asal Korea Selatan dan sopir mereka. Di luar Sinai, sel-sel kelompok Ansar beroperasi dengan mengebom markas kepolisian di Ibu Kota Kairo dan Mansyura, serta berupaya membunuh menteri dalam negeri.

Serangan mematikan milisi Ansar dan balasan brutal dari militer Mesir telah membikin persoalan di Sinai mendapat sorotan lebih luas. Krisis saat ini berakar pada isu geografi, Sinai berada di lokasi amat penting. Dicaplok Israel selepas Perang Enam Hari 1967 hingga akhirnya kembali ke pangkuan Mesir setelah kedua negara meneken Perjanjian Camp David pada 1979.

Ketika Presiden Husni Mubarak berkuasa pada 1980-an, Syarm asy-Syekh menjadi kawasan wisata internasional dan tempat pelesiran favorit bagi kaum elite Mesir. Bangunan vila kemudian menjamur di sepanjang pantai.

Barangkali lantaran terbatasnya kehadiran militer Mesir di sana - sesuai Perjanjian Camp David, perbatasan di Sinai diawasi pasukan internasional - Mubarak cuma berbuat sedikit untuk membikin penduduk Sinai merasa menjadi bagian dari Mesir. Dia kurang membangun perekonomian di daerah itu.

Selama beberapa dekade perjuangan penduduk Sinai karena terpinggirkan secara ekonomi dan teraniaya secara politik tidak tersiar luas atau tenggelam oleh promosi di kawasan wisata pantai di bagian selatan Sinai.

Penduduk Arab Badui di Sinai memendam rasa kecewa teramat sangat terhadap pemerintah. Mereka disuir dari tanah leluhur untuk para pemukim sokongan Kairo, tidak dilibatkan dalam perjanjian-perjanjian untuk mengolah kekayaan alam di daerah mereka, seperti minyak dan gas, dan penduduk asli Sinai kalah jumlah ketimbang pendatang.

Tidak ada data pasti mengenai jumlah penduduk asli Sinai. Namun dengan perkembangan wisata dan industri lainnya di wilayah itu, jumlah mereka mungkin kurang dari setengah atau bahkan di bawah seperempat dari total 500 ribu warga bermukim di Sinai.

Jaringan perdagangan tradisional telah menjadi jalur penyelundupan, sebagian karena kurangnya kesempatan, mendorong warga Arab Badui kian benci kepada pemerintah. Dalam revolusi 2011, mereka termasuk pertama memberontak dan melancarkan serangan terhadap pemerintah.

Ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan terpeliharanya rute penyelundupan membuat Sinai menjadi basis bagi pihak-pihak ingin menyasar Kairo. Memberikan simpati dan merekrut penduduk setempat, kelompok Islam radikal di Sinai tidak pernah menentang perjuangan kaum Arab Badui. "Para pemimpin suku tidak mendorong cara-cara kekerasan, pemberontak dilakoni milisi Islam bahkan berlawanan dengan struktur dan pandangan mereka," ujar ahli keamanan Zack Gold.

Terutama setelah bergabung dengan ISIS, milisi Ansar telah menyetir kebencian terhadap Kairo untuk menguasai penduduk setempat. Mereka telah membunuh lusinan orang dituduh mata-mata, mengancam para kepala suku mereka yakini menentang mereka, dan berusaha menyetop penyelundupan rokok dan ganja karena keduanya dianggap haram.

Serangan-serangan ini, dampak tidak langsung terhadap ekonomi akibat serbuan atas turis dan pemantau militer asing, telah merusak simpati penduduk Sinai kepada milisi Anbar.

Masyarakat Badui telah menyerukan kepada rezim Mesir sejak 2011 untuk melibatkan mereka dalam operasi serius menumpang kelompok militan," tutur Sabri. Bila kaum Arab Badui ini memberontak atau bergabung dengan ISIS, pejuang mereka berjumlah ribuan dan sejauh ini itu belum terjadi.

Gold menjelaskan pada 1980-an dan 1990-an pertempuran kebanyakan berlangsung di Kairo dan wilayah utara Mesir. "Orang-orang akan pergi ke Sinai untuk berlatih tapi tidak buat melancarkan serangan," kata Gold. Perubahan terjadi setelah milisi Ansar akhirnya mendorong para anggota mereka melakukan serangan bom bunuh diri di Sinai pada 2004.

Tauhid wal Jihad, kelompok bernama dan berideologi serupa dengan cikal bakal Al-Qaidah di Irak, melancarkan bom bunuhd diri pertama di kota wisata Taba, membunuh lebih dari 30 orang. Sebanyak 88 orang tewas akibat bom mobil di Syarm asy-Syekh setahun kemudian. Tahun berikutnya lusinan orang terbunuh di Dahab akibat serangan bunuh diri.

Gold menjelaskan milisi Tauhid wal Jihad selama 2004-2006 melancarkan bom bunuh diri terhadap pusat-pusat wisata. "Tauhid wal Jihad memusatkan serangan mereka terhadap industri wisata," kata Gold. Tapi ada juga pertempuran mereka lakukan dengan pasukan pemerintah.

Sabri bilang para mantan anggota Tauhid wal Jihad bergabung dengan milisi Ansar Bait al-Maqdis sejak awal berdiri. Kelompok ini tadinya berfokus menyerang Israel sesuai arti nama kelompok mereka, yakni Pendukung Yerusalem. Para pendiri Ansar barangkali dilatih di kamp militer di Gaza dan menjalin kontak dengan para pejuang di sana.

Afiliasi ke ISIS terjadi setelah tahun lalu seorang komandan Ansar tinggal di Raqqah beberapa bulan. Gold mengungkapkan sepulang dari ibu kota ISIS itu, dia membawa banyak fulus dan senjata. Sasaran serangan pun berubah.

Meski Mesir berhasil menumpas kelompok bersenjata di Sinai, radikalisme di sana tidak bakal habis. Sebab dendam penduduk lokal terpendam lama dan dalam bakal menjelma menjadi organisasi militan.

Ulama Syiah berpengaruh asal Irak Muqtada Sadr bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Kota Jeddah, Arab Saudi, 30 Juli 2017. (Supplied)

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR