kisah

Kenapa Prancis jadi target lagi

Prancis akan tetap dalam daftar utama target serangan ISIS.

16 November 2015 08:12

Milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Sabtu lalu mengaku bertanggung jawab atas serangan teror berlangsung sehari sebelumnya di seantero Ibu Kota Paris, Prancis.

Lewat pernyataan tertulis dilansir di Internet, ISIS menyebutkan delapan penyerang bersenjata rompi bahan peledak dan senapan serbu otomatis AK-47 telah menyerbu sasaran-sasaran telah dipilih dengan cermat di "ibu kota perzinahan dan maksiat".

Hingga artikel ini dilansir, serbuan Jumat malam pekan lalu itu menewaskan 164 orang, termasuk delapan pelaku. Tujuh pelaku terbunuh setelah meledakkan diri dan satu lagi meninggal ditembak polisi. Setidaknya 82 orang lainnya luka serius.

Presiden Prancis Francois Hollande mengumumkan keadaan darurat dan berkabung nasinal sejak Sabtu hingga hari ini. Semua perbatasan Prancis ditutup. Sebanyak 200 polisi dan tiga ribu tentara diterjunkan untuk memburu para pelaku lainnya.

"Bau amis darah tidak akan hilang dari hidung mereka selama mereka tetap di garis depan dalam kampanye kaum kafir, berani menghina nabi kami, mengobarkan perang terhadap Islam di Prancis, dan menyerang kaum muslim di wilayah khilafah menggunakan jet tempur," kata ISIS.

Prancis ikut dalam pasukan koalisi dipimpin Amerika Serikat untuk menggempur ISIS di Suriah dan Irak tahun lalu. Negara Mode ini juga menjadi sasaran jihadis karena terlalu toleran terhadap kebebasan berekspresi telah menodai Islam. "Prancis akan tetap dalam daftar utama target serangan ISIS."

Klaim itu dibikin dalam bahasa Arab dan Prancis serta disebarluaskan para penyokong ISIS. Juga ada klaim versi audio dilansir stasiun radio Al-Bayan kepunyaan kelompok bersenjata dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu.

Tiap negara Barat sadar mereka bakal selalu menjadi incaran teroris. Tapi kenapa Prancis lagi menjadi target?

Jawaban singkatnya adalah karena Prancis memerangi terorisme di seluruh dunia, merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di Eropa dan rakyatnya paling terbelah. Prancis juga menjadi pusat peredaran senjata ilegal.

"Ini untuk Suriah," kata seorang penyerang. Padahal dia bisa saja menyebut Mali, Libya, atau Irak.

Prancis dengan bangga proaktif menentang Islam, di mana Inggris dan Amerika Serikat kerap mundur. Lebih dari sepuluh ribu serdadu Prancis diterjunkan di seluruh dunia: tiga ribu di Afrika Barat, dua ribu di Afrika Tengah, dan 3.200 di Irak.

Keterlibatan militer Prancis dalam menumpas AQIM (Al-Qaidah di Islam Maghribi) di Mali dipandang sebagai momen sangat penting bagi kebangkitan kelompok jihadis itu. Dua pekan lalu seorang pemimpin milisi berafiliasi ke AQIM mendesak para pengikutnya menyerang Prancis sebagai balasan atas intervensi negara itu di kawasan ini.

Presiden Francois Hollande pekan lalu mengumumkan Prancis akan menurunkan sebuah kapal induk di Teluk Persia untuk membantu memerangi ISIS.

Tapi persoalan kuncinya tetap di dalam negeri.

Perasaan terasing dan terpinggirkan sangat luar biasa. Hanya sangat sedikit tokoh muslim Prancis masuk jajaran elite di sektor bisnis dan politik. Prancis sekuler, melarang bercadar di muka umum, dan rezim Barisan Nasional berkuasa tidak menolong mengurangi ketegangan antar komunitas.

Muhammad Mirah, pelaku Teror Toulouse pada 2012, besar di permukimah kumuh dan keras, bermula sebagai penjahat kelas teri lalu dipenjara, dan kemudian muncul sebagai jihadis garis keras.

Mahdi Nemouche, pembunuh empat orang pada Mei 2014 di Brussels, Belgia, juga menjadi radikal di penjara. Dia pergi ke Suriah setelah bebas dan kembali untuk menyerang museum Yahudi.

Syarif Kouachi dan Amedy Coulibaly, juga memiliki jejak serupa. Kurang kesempatan dalam ekonomi, menjadi penjahat, dipenjara, dan menjadi radikal.

Sekitar 70 persen dari seluruh penghuni penjara di Prancis diperkirakan muslim. Sesuai hukum berlaku, Prancis tidak boleh meminta seseorang menyebut agamanya. Di Inggris, 14 persen dari total populasi penjara orang Islam dan berjumlah lima persen dari seluruh penduduk di negara ini.

Sehabis Teror Charlie Hebdo, surat kabar the Telegraph menulis Prancis berupaya keras menghilangkan radikalisasi di penjara. Tapi tidak seperti Inggris, Prancis sangat sedikit jumlah imam atau ulama dikirim ke penjara untuk program deradikalisasi.

Mantan Menteri Kehakiman Prancis Rasyidah Dati April lalu bilang Prancis tidak cukup serius untuk menumpas radikal-radikal Islam dalam penjara.

Persoalan lainnya adalah begitu mudahnya senjata ilegal diselundupkan ke Prancis. Para pennyerang kantor redaksi majalah Charlie Hebdo diyakini memperoleh senjata dari Belgia.

Paris kembali berduka. Sedihnya lagi, pemerintah Prancis tahu itu bisa terjadi kapan saja.

Bintang sepak bola Mesir Muhammad Salah. (liverpoolfc.com)

Dakwah Salah

Sebagian pendukung Liverpool sampai bernazar untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad kalau Salah terus menambah pundi-pundi golnya.

CEO Saudi Aramco Amin Nasir (tengah dan berkemeja batik biru) berpose bareng Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik usai pertemuan di Jakarta, 7 Juli 2017. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Lika liku IPO Aramco

Pertanyaannya adalah sejauh mana Saudi bakal membuka tabir Aramco untuk memaksimalkan perolehan dana dari IPO?

Pangeran Al-Walid bin Talal, pemilik Kingdom Holding Company sekaligus keponakan dari Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Syed Saleem/Facebook)

Misteri pembebasan Pangeran Al-Walid

Pangeran Al-Walid dikabarkan merelakan hampir seluruh hartanya untuk menebus kebebasannya dan dia akan diberi tunjangan bulanan.

Restoran Merkez, perintis tradisi memberi makan gratis saban hari bagi orang-orang miskin di Kota Karakocan, Turki. (Achhi Khabre)

Kota dermawan nihil kelaparan

Tradisi itu pertama kali berlangsung pada 1940-an di Merkez, salah satu restoran pertama dibuka di Karakocan.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Dakwah Salah

Sebagian pendukung Liverpool sampai bernazar untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad kalau Salah terus menambah pundi-pundi golnya.

16 Februari 2018
Lika liku IPO Aramco
02 Februari 2018

TERSOHOR