kisah

Laskar Fatimiyun

Iran memakai para pengungsi Afghanistan untuk berperang menumpas pemberontakan di Suriah.

20 November 2015 15:46

Pasukan ini berisi para pengungsi Afghanistan tinggal di Iran dan Suriah. Mereka tergabung dalam Laskar Fatimiyun merupakan milisi terbesar setelah Hizbullah, ikut membantu pasukan pemerintah Suriah menumpas para pemberontak.

Orang-orang Afghanistan ini mendapat gaji bulanan dan dijanjikan izin tinggal bila mau bergabung dengan Laskar Fatimiyun, bertugas mengamankan tempat dikeramatkan kaum Syiah di Suriah. Media-media berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan Mei lalu paling tidak 200 anggota Laskar Fatimiyun tewas sejak Perang Suriah meletup empat tahun lalu.

Iran selalu mengklaim menyokong Presiden Suriah Basyar al-Assad dengan mengirim komandan-komandan senior untuk membikin rencana dan memantau operasi militer. Namun keterlibatan orang-orang Afghanistan dalam Laskar Fatimiyun menunjukkan dukungan Iran lebih dari itu.

Rekrutmen berlangsung saban hari di Masyhad dan Qom, dua kota dengan jumlah pengungsi Afghanistan terbesar di Iran. Masyhad, kota berpenduduk terbanyak kedua di negara Mullah itu, hanya tiga jam bermobil dari daerah perbatasan dengan Afghanistan.

Iran juga menerima orang-orang Afghanistan berumur di bawah 18 tahun asal mendapat izin tertulis dari orang tua. Setidaknya ada satu bocah pengungsi Afghanistan berusia 16 tahun dan menetap di Iran tewas di Suriah musim gugur tahun ini. Para anggota Laskar Fatimiyun terbunuh dijuluki "para pembela tempat suci".

Masjid Abulfazli di kawasan Golshahr, timur Masyhad, berada di jantung permukiman miskin tempat tinggal sebagian besar orang Afghanistan di kota itu, merupakan lokasi di mana tiap hari para pemuda mendaftar untuk pergi berperang ke Suriah demi Iran.

Suatu pagi di musim gugur tahun ini, sekitar 50 pemuda Afghanistan mengantre di masjid itu untuk mendaftar menjadi anggota Laskar Fatimiyun. Syaratnya sederhana: mereka harus membuktikan sebagai orang Afghanistan tulen dan masih lajang.

"Ini adalah eksploitasi terhadap orang-orang lemah," kata Mujtaba Jalali, 24 tahun, pengungsi Afghanistan baru-baru ini kabur dari Masyhad ke Eropa. Pewarta foto profesional ini setidaknya sudah sepuluh kali menghadiri pemakaman anggota Laskar Fatimiyun terbunuh di Suriah.

Meski Jalali dilahirkan di Iran, dia tidak bisa menjadi warga negara itu, seperti nasib anak-anak Afghanistan lainnya lahir di Iran. Orang-orang kayak Jalali sulit melanjutkan sekolah, memiliki rekening bank, bekerja di Iran, atau mendapat izin untuk mencari nafkah di luar negeri.

"Ini adalah perang di mana Iran mengorbankan orang lain," ujar Jalali. "Para pengungsi Afghanistan di Iran membayar harga dari sokongan Teheran kepada Assad. Bukannya melindungi pengungsi, Iran malah memperalat mereka."

Menurut Jalali, kebanyakan orang Afghanistan bermukim di Iran, juga beraliran Syiah, tidak akan pergi ke Suriah mengorbankan nyawa mereka demi agama. Tapi untuk fulus dan stabilitas buat mereka dan keluarga. Hampir sejuta orang Afghanistan terdaftar sebagai pengungsi di Iran, namun diyakini negara ini menampung paling tidak dua juta pengungsi Afghanistan, selebihnya hidup ilegal.

Pentingnya peran Laskar Fatmiyun ini disampaikan Qasim Sulaimani, panglima pasukan elite Al-Quds, sayap luar negeri dari Garda Revolusi Iran, dalam sebuah rekaman audio awal bulan ini. Dia mengomentari kematian Mustafa Sadrzadeh, menyamar sebagai orang Afghanistan dengan nama Sayyid Ibrahim agar bisa mendaftar menjadi anggota Laskar Fatimiyun untuk bertempur di Suriah. Dia terbunuh akhir bulan lalu.

Lelaki beraksen Teheran kental itu tinggal di Dair al-Adas, desa di selatan Suriah. Dia tadinya meminta bertempur namun ditolak Sulaimani. "Dia lalu ke Masyhad dan mendaftarkan namanya sebagai orang Afghanistan untuk bisa bergabung dengan Fatimiyun," tutur Sulaimani.

Fatimiyun dibentuk Iran setelah pecah Perang Suriah pada 2011 dengan bantuan para pengungsi Afghanistan sebelumnya bekerja sama dengan Iran menghadapi Taliban. Tidak jelas berapa jumlah anggotanya, statusnya dinaikkan tahun ini dari brigade menjadi divisi atau laskar.

Dengan status sebagai divisi atau laskar, Fatimiyun mestinya beranggotakan sepuluh ribu hingga 12 ribu personel. Komandan Laskar Fatimiyun Reza Khavari dilaporkan tewas di Suriah bulan lalu tapi belum diketahui siapa penggantinya.

"Keterlibatan orang-orang Afghanistan telah membuat perbedaan besar bagi Iran dan lebih menolong mereka ketimbang milisi lain kecuali Hizbullah," kata Morad Veisi, ahli militer Iran, kepada surat kabar the Guardian.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir didampingi Duta Besar Indonesia buat Yordania berbincang dengan keluarga Isa Saleh, pengungsi Suriah asal Palmyra di kamp Azraq, Yordania, 10 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan hambar di kamp Azraq

Di sanalah, seperti tahun lalu, sinterklas Suriah dari Indonesia ini merayakan ulang tahunnya ke-66.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

23 April 2018

TERSOHOR