kisah

Yahudi buncit dari Aleppo

"Saya tidak hanya menolong orang Yahudi. Saya sudah menyumbang US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta buat rakyat Suriah," kata Moti Kahana.

30 November 2015 17:33

Malam pekat masih membekap Kota Aleppo di utara Suriah. Di malam senyap pada 13 Oktober lalu itu seorang pemberontak dari kelompok FSA (Tentara Pembebasan Suriah) menggedor pintu sebuah rumah keluarga Yahudi.

Penghuninya dari klan Halabi - Mariam (88 tahun) dan dua putrinya: Sara (60-an tahun) dan Gilda (50-an tahun), serta suami Gilda, Khalid, dan tiga anak mereka - kemungkinan besar sudah terlelap tidur terkejut sekaligus ketakutan.

Selama empat tahun mereka hidup di tengah kecamuk perang telah mencabik-cabik Aleppo. Pasukan pemerintah, FSA, Jabhat an-Nusrah (sayap Al-Qaidah di Suriah), dan milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) saling berebut buat menguasai kota kuno ini.

Mereka berupaya merahasiakan identitas Yahudi mereka. Hidup dengan pasokan air dan listrik seadanya. Meski kehabisan makanan kosher (berarti halal dalam bahasa Ibrani), Mariam dan Sara tetap menjalankan ibadah sesuai agama Yudaisme mereka anut. Sedangkan Gilda sudah masuk Islam sejak menikah dengan Khalid tiga tahun lalu.

Masyarakat Yahudi sudah ada di Suriah sejak tiga ribu tahun lalu, hingga mereka eksodus saat negara Israel berdiri pada 1948. Migrasi massal orang Yahudi asal Suriah ke Israel terjadi lagi pada 1960-an. Sekarang diyakini tersisa 18 orang Yahudi di Suriah dan semuanya tinggal di Ibu Kota Damaskus.

Untuk meyakinkan pemilik rumah, lelaki dari FSA itu bilang dia disuruh oleh Yoni, putra dari Mariam tinggal di Kota New York, Amerika Serikat, untuk menyelamatkan keluarga Yahudi terakhir dari Aleppo itu.

Misi ini bermula dari kekhawatiran Yoni terhadap keluarganya di Aleppo itu. Dia lantas menghubungi seorang rabbi di New York. Sang rabbi lantas menelepon Moti Kahana, pengusaha Yahudi kelahiran Yerusalem, untuk meminta bantuan.

Kahana menyanggupi dan segera menghubungi orang-orangnya di Suriah. Sejak konflik meletup, dia berinisiatif menyelamatkan warga sipil dari medan perang dengan koceknya sendiri. Bukan hanya orang Yahudi, muslim pun dia bantu.

"Saya tidak hanya menolong orang Yahudi. Saya sudah menyumbang US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta buat rakyat Suriah," katanya kepada Albalad.co Selasa pekan lalu melalui WhatsApp. "Sekali lagi, saya tidak hanya membantu orang Yahudi."

Mariam sekeluarga akhirnya yakin dan bersedia keluar meninggalkan kota kelahiran mereka itu. Tiap orang disuruh membawa satu tas berisi perlengkapan pribadi. Semua serba cepat dan mereka bergegas masuk ke minibus putih sudah menunggu di luar rumah. Mariam, Sara, dan Gilda berjilbab untuk menyamar sebagai muslimah.

Di dalam minibus ketujuh orang itu diberikan paspor. Selama konflik, paspor Suriah mudah diperoleh dan dipalsukan. Diduga banyak para pengungsi berbondong-bondong menuju Eropa saat ini menggunakan paspor palsu Suriah

Misi penyelamatan keluarga Yahudi ini sangat berisiko. Mereka mesti melewati beragam pos pemeriksaan dibikin pelbagai milisi. Setelah menempuh perjalanan berisiko selama 12 jam, keluarga Mariam tiba di Istanbul.

Kahana lantas bilang kepada mereka tidak mudah memperoleh visa ke Amerika. Dia menjelaskan lebih mudah untuk pindah ke Israel atau Aliyah. Sesuai Undang-Undang Kembali, orang Yahudi dari mana saja berhak menetap di Israel dan diberi kewarganegaraan.

Kahana lalu menghubungi the Jewish Agency, lembaga bertanggung jawab untuk migrasi orang Yahudi ke Israel. Namun hanya Mariam dan Sarah diberi visa. Sedangkan Gilda ditolak karena dia sudah tidak dianggap Yahudi setelah masuk Islam.

Yigal Palmor, Direktur Komunikasi the Jewish Agency, sudah menyarankan agar Gilda sekeluarga meminta visa turis ke Israel sebelum memgajukan permohonan izin tinggal. Namun Gilda menolak gagasan ini.

"Saya cuma bisa menebak dia sebenarnya ingin tinggal di Amerika Serikat," ujarnya. Dia menyalahkan Kahana lantaran sudah menjanjikan Mariam sekeluarga pindah ke sana.

Kahana menjelaskan keluarga itu sangat kecewa karena akhirnya terpisah. Dia juga frustasi dengan keputusan the Jewish Agency menolak mengizinkan Gilda sekeluarga pindah ke Israel. "Seseorang akan selalu menjadi orang Yahudi kalau beribu orang Yahudi," Kahana menegaskan.

Mariam dan Sara kini menetap di Ashkelon, kota di selatan Israel. Sedangkan Gilda sekeluarga balik lagi ke Aleppo. Dia masih menjadi Yahudi buncit dari Aleppo.

Prasasti soal Kerajaan Himyar di Bir Hima, Arab Saudi. (You Tube)

Kerajaan Yahudi di tanah suci

Arab Saudi dulunya masuk wilayah Himyar, kerajaan Yahudi.

Karl Marx, pencipta paham komunis, juga orang Yahudi. (Wikimedia)

Seencer otak Yahudi

Sejak abad pertama, seluruh anak lelaki Yahudi wajib disekolahkan paling lambat umur enam tahun.

Perempuan Haredim di Yerusalem. (Al-Arabiya)

Cinta gadis Yahudi saleha

Orang tua sang gadis menolak Moshe karena dia belajar di sekolah umum dan tidak mengenakan yarmulke.

Perempuan Haredim di Yerusalem. (Al-Arabiya)

Ongkos mahal menjadi Yahudi sekuler

Dalam masyarakat Haredim semua berbau sekuler dilarang, termasuk radio dan televisi.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR