kisah

Perang dan cinta di Jalan Suriah

Saat berlatih, banyak pemain drama Perang dan Cinta membawa pisau. Sehabis pementasan, mereka tadinya bermusuhan menjadi teman.

04 Desember 2015 14:52

Di awal 1900-an, Jalan Suriah di Tripoli, kota di utara Libanon, sibuk dan penuh oleh barang dagangan asal Asia. Dibawa dari Beirut ke Tripoli sebelum dikirim ke Suriah.

Sekarang kebanyakan bangunan di sana bercirikan lubang-lubang peluru. Sebagian kecil bangunan di Jalan Suriah, membelah dua kawasan bermusuhan - Bab al-Tabbanih dan Jabal Muhsin - telah terbebas dari momok kekerasan pernah mengganggu penduduk setempat.

Sejak 2008, milisi bermusuhan di dua permukiman itu sudah bertempur sedikitnya 20 kali, menewaskan lebih dari 200 orang dan memaksa ribuan lainnya lari dari rumah mereka. Kekerasan kian memuncak sejak 2011, ketika perang meletup di Suriah membuka kembali perpecahan politik antara dua distrik itu, telah mengakar saat perang saudara di Libanon. Selama konflik bersenjata itu, masyarakat di Jalan Suriah akrab dengan para penembak jitu.

Di Bab al-Tabbanih, kawasan Sunni dihuni seratus ribu orang dengan hubungan sejarah ke Homs, Hama, dan Aleppo, perlawanan terhadap rezim Presiden Basyar al-Assad kuat. Sebaliknya, sebagian besar dari 60 ribu warga Jabal Muhsin menganut paham Syiah Alawi, sama dengan Assad, mendukung pemerintah Suriah. Perbedaan ideologi ini ikut membakar kekerasan di wilayah dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan mengerikan ini.

Tahun ini bentrokan bersenjata sudah mereda setelah Angkatan Bersenjata Libanon menyerbu daerah itu untuk memberangus milisi. Lembaga-lembaga nirlaba lokal dan kelompok-kelompok sipil ikut membantu menjembatani perbedaan di antara dua komunitas itu.

"Mulanya menjalin kontak dengan milisi-milisi di Jabal Muhsin sulit," kata Hana Abu Khalil, koordinator proyek di Dewan Pemuda Tabbanih. "Namun kami sedang mengalami kemajuan."

Satu contoh menarik adalah pertunjukan teater berjudul Perang dan Cinta di Atap, dimainkan oleh 16 aktor berumur 16-29 tahun. Seluruh pemain drama itu berasal dari Bab al-Tabbanih dan Jabal Muhsin, kebanyakan mantan anggota milisi.

Untuk mencari 16 pemain drama itu, March, kelompok masyarakat sipil berkantor di Ibu Kota Beirut, bekerja sama dengan Dewan Pemuda Tabbanih dan sejumlah organisasi non-pemerintah di Jabal Muhsin, seperti Lubnan al-Mahabba (Libanon Cinta) dan Syabab al-Ghad (Pemuda Masa Depan). Audisi dimulai Februari lalu.

Awalnya semua orang membawa pisau (waktu latihan)," kenang Lucien Bourjeili, penulis Libanon sekaligus sutradara dari pementasan drama Perang dan Cinta. Dia menceritakan seorang aktor pernah menyembunyikan sebuah granat dalam pisang saat sedang berakting. "Mereka tadinya saling mencurigai dan mencurigai kita. Tapi akhirnya banyak aktor tidak lagi membawa pisau."

Pementasan Perang dan Cinta berlangsung Juni lalu di gedung teater Masrah al-Madinah di Distrik Hamra, Beirut, sekitar 80 kilometer sebelah selatan Tripoli. "Kebanyakan dari aktor-aktor itu tadinya anggota milisi, orang mesti Anda takuti," ujar Bourjeili. "Namun ketika Anda melihat mereka tampil di atas panggung, mereka seperti kaum pemuda lainnya di Libanon."

Bedanya, menurut Bourjeili, mereka hidup miskin tanpa masa depan ekonomi. "Satu hal membikin mereka mendapat fulus adalah bertempur," tuturnya.

Dia menjelaskan salah satu tujuan utama pertunjukan Perang dan Cinta yakni menyoroti faktor sosial ekonomi sebagai penyebab meletupnya kekerasan di antara dua komunitas itu, juga menjawab pandangan negatif sudah terlanjur melekat dalam masyarakat Libanon.

Hasil survei tahun ini oleh Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan 56 persen keluarga di Kota Tripoli hidup miskin. Angka ini naik menjadi 69 persen di kawasan Jabal Muhsin dan 87 persen di Bab al-Tabbanih.

Sebelum tampil dalam drama Perang dan Cinta, Samir Atris, pemuda 25 tahun dari Bab al-Tabbanih, berpikir untuk pergi berperang di Suriah. Ratusan lelaki Tabbanih telah bergabung dengan para pemberontak Suriah, termasuk ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), Jabhat an-Nusrah (sayap Al-Qaidah di Suriah), dan Ahrar asy-Syam.

"Tidak ada pekerjaan, peluang, dan layanan kesehatan di sini. Berperang mendapat gaji," kata Atris beralasan, ditemui ketika sedang duduk di pinggir Jalan Suriah. "Karena itulah saya di sini bertempur menghadapi warga Jabal Muhsin."

Ali Amun, lelaki 26 tahun dari Jabal Muhsin serta bermain pula dalam drama Perang dan Cinta, tadinya mengira penduduk Tabbanih itu teroris. "Banyak politikus menciptakan kebencian buat kepentingan mereka. Rakyatlah menjadi korban," ujarnya.

Suatu pagi di Juni lalu. Amun ditusuk di bagian rusuknya oleh seseorang tidak diketahui identitasnya. Insiden ini terjadi setelah dia bersama Khidr Mukhaibar, 21 tahun dari Tabbanih, rekannya dalam drama Perangdan Cinta, menjadi tamu di acara bincang-bincang di televisi. Keduanya bersahabat selama latihan untuk pementasan. Namun tidak semua orang senang melihat pertemanan mereka.

"Saya ditelepon dari nomor-nomor tidak kelihatan menanyakan kenapa saya bergaul dengan orang-orang dari Tabbanih," tutur Amun. "Pemain drama lainnya juga sama, dihubungi orang-orang tidak dikenal."

Tidak gentar, March bekerja sama dengan Dewan Pemuda Tabbanih kini memperbaiki sebuah bangunan kecil di Jalan Suriah, untuk dijadikan kafe sekaligus tempat pertunjukan drama. Amun, Mukhaibar, serta aktor Perang dan Cinta lainnya bakal dilibatkan dalam mengelola pertunjukan dan menjalankan kafe.

"Saya ingin tetap berakting. Mungkin bakal ada pertempuran lagi, tapi saya tidak mau terlibat," kata Mukhaibar, pertama kali mengangkat senjata di umur 15 tahun.

Mukhaibar bilang sebelum pementasan Perang dan Cinta, dia tidak pernah bertandang ke Jabal Muhsin. Saat ini dia dan Amun bisa saling mengunjungi. "Sekarang keluarga kami sudah akrab. Kami telah kehilangan banyak teman tapi kini dia sudah seperti abang saya."

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Basrah pada 1913, dipotret oleh pengusaha Swedia bernama Arne C Waern. (Wikimedia Commons)

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

Seorang lelaki memegang elang di resor di gurun Al-Maha, Dubai. (weekenduae.com)

Sandera ningrat Qatar dan konflik Suriah

Pembebasan 26 pangeran Qatar diculik di Irak terkait pertukaran penduduk Syiah dan Sunni di Suriah. Qatar membayar tebusan jutaan dolar Amerika.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR