kisah

Raksasa Persia di panggung global

Puncaknya, Iran ialah negara paling melek membaca di Timur Tengah, negara urban di mana 60 persen dari penduduknya berumur di bawah 30 tahun.

07 Desember 2015 18:31

Iran bakal segera memasuki perekonomian global dan beberapa pengamat bank investasi mulai gembira.

Kebanyakan pihak asing melihat Iran sebagai negara bersyariat Islam anti-Israel, dijalankan oleh kaum ekstremis membiarkan terorisme sepanjang itutidak berlaku di dalam negeri. Tapi negara Mullah itu juga sebuah perekonomian besar, modern, dan terdidik namun terasing dari sistem global. Iran merupakan perekonomian terbesar kembali ke panggung global sejak berakhirnya Perang Dingin.

Sejumlah pabrikan mobil sangat kesengsem ingin memasuki pasar Iran bila sanksi dicabut, kemungkinan besar awal tahun depan. "Masih terlalu dini untuk mengatakan produk mana bisa kami pakai untuk masuk tapi tentu saja kami melihat Iran potensial," kata Direktur Riset dan Pengembangan Merek Volkswagen Heinz-Jakob Neusser kepada kantor berita Reuters September lalu. "Iran adalah pasar sangat menarik dengan kesempatan besar."

Negeri Persia itu bisa mengobati kelesuan pasar dialami pabrik mobil asal Jerman itu di Cina dan Brasil. Penjualan produk mereka di dua negara itu - merupakan 40 persen dari total penjualan global Volkswagen - melorot.

Skoda, merek bikinan Volkswagen di Ceko, juga tertarik memasuki Iran. "Jika kondisinya berkembang bagus, Iran bisa menjadi pasar di mana bisa sangat cocok dengan produk kami tawarkan," ujar Direktur Riset dan Pengembangan Skoda Frank Welsch.

Iran sudah menjadi pasar mobil terbesar di Timur Tengah. Para pengamat meyakini hal ini bisa tumbuh cepat, mengingat jumlah penduduk negara itu 80 juta orang dan penjualan mobil tahun lalu mencapai 1,1 juta unit.

Seorang sumber dalam Volkswagen membisikkan mereka siap membangun pabrik di Iran untuk memproduksi merek Skoda dan Seat.

Volkswagen tidak sendirian. PSA Peugeot Citroen dan Renault dari Prancis juga siap bersaing memikat rakyat Iran.

Tentunya Iran juga siap merebut ceruk pasar minyak dan gas dunia. Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar keempat sejagat setelah Venezuela, Arab Saudi, dan Kanada, yakni berjumlah 157 miliar barel, menurut data tahun lalu. Cadangan gas alamnya terbanyak kedua di dunia sehabis Rusia, yaitu 1.193 triliun kaki kubik.

Duta Besar Indonesia untuk Iran Dian Wirengjurit menjelaskan kapasitas produksi normal bisa 4,2 juta barel sehari, namun kalau mau bisa digenjot sampai lima juta barel. Karena masih dikenai sanksi, produksi minyak Iran sekitar dua juta barel saban hari.

Saat ini sumber minyak baru di Laut Kaspia atau di wilayah selatan Iran sudah mulai dieksplorasi, baik di daratan atau lepas pantai. "Bisa dibayangkan kalau sanksi dicabut, Iran akan kembali menjadi pemain utama," katanya kepada Albalad.co akhir pekan lalu.

Dian menambahkan secara umum minyak Iran bermutu bagus karena antara lain kandungan sulfurnya rendah. Sejak dua bulan lalu, harga dua jenis bahan bakar kendaraan bermotor berstandar Eropa di Iran naik menjadi 10 ribu riyal atau kini setara Rp 4.600 dan 12 ribu riyal (Rp 5.500).

Dalam konferensi internasional di Ibu Kota Teheran dua pekan lalu, Iran menawarkan kontrak model baru dengan durasi lebih lama dan insentif lebih besar buat menarik investor asing. Pertemuan ini dihadiri 137 perusahaan minyak dunia, termasuk Pertamina dari Indonesia.

Bukan soal minyak dan gas saja membuat Iran mampu menjadi raksasa dalam panggung ekonomi global. Iran juga negara berpendapatan menengah dengan potensi sangat besar. Sebelum pecah Revolusi Islam pada 1979, negara ini memiliki kelas menengah amat besar dengan selera fesyen dan konsumerisme Barat.

Puncaknya, Iran ialah negara paling melek membaca di Timur Tengah, negara urban di mana 60 persen dari penduduknya berumur di bawah 30 tahun.

Dalam beberapa tahun mendatang perekonomian bakal berkembang cepat. Bank Dunia memperkirakan produk domestik bruto negara ini akan tumbuh menjadi 6,7 persen di 2017, disokong oleh kenaikan produksi minyak dan gas alam.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir didampingi Duta Besar Indonesia buat Yordania berbincang dengan keluarga Isa Saleh, pengungsi Suriah asal Palmyra di kamp Azraq, Yordania, 10 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan hambar di kamp Azraq

Di sanalah, seperti tahun lalu, sinterklas Suriah dari Indonesia ini merayakan ulang tahunnya ke-66.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

23 April 2018

TERSOHOR