kisah

Ambruk Trump di Arab Teluk

Donald Trump mengaku tidak peduli meski pernyataan anti-Islamnya merugikan bisnisnya.

11 Desember 2015 16:29

Di Lifestyle, toko perabotan rumah murah dalam the Mall of the Emirates di Kota Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), para pengunjung Rabu lalu melihat-lihat beragam lampu dan kaca cermin. Bedanya, mereka tidak akan menemukan satu pun cermin atau dispenser bermerek Trump Home.

Hanya dalam hitungan jam setelah Donald John Trump, konglomerat sekaligus bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik menyatakan bakal melarang warga muslim masuk ke negara adikuasa itu, salah satu rekan bisnisnya di Timur Tengah, Landmark Group berpusat di Dubai, menarik semua produk bermerek Trump Home dari seluruh gerai Lifestyle milik mereka.

"Lantaran pernyataan dibuat bakal calon presiden Amerika (Donald Trump), kami menghentikan penjualan semua produk Trump Home," kata Presiden Direktur Lifestyle Sachin Mindhwa lewat pernyataan tertulis kepada Arabian Business.

Landmark Group meneken kontrak kerja sama dengan Donald Trump Februari lalu untuk menjual semua produk dari Trump Home di 180 gerai Lifestyle di UEA, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi.

Konglomerat asal Dubai Khalaf al-Habtur mengaku menyesal telah menyatakan sokongan kepada lelaki 69 tahun itu lewat artikel Agustus lalu. Dia kini menjuluki Trump sebagai musuh terbesar Islam. "Saya tidak akan bekerja sama dengan dia, saya tidak percaya dia lagi," ujarnya kepada CNN. "Saya kira dia sudah merusak namanya di seluruh negara muslim. Tidak akan ada yang menerima dia, tak seorang pun akan memakai mereknya."

Taipan UEA lainnya, Misyaal Kanu, pemilik konglomerasi the Kanoo Group, berpendapat serupa. Dia tidak mau berbisnis dengan Trump. "Seseorang membikin pernyataan seperti itu tidak masuk hitungan kami. Tentu saja saya merasa terhina," tuturnya kepada surat kabar 7Days.

Padahal bisnis Trump di Timur Tengah, kawasan dihuni jutaan orang Islam, sangat berkembang. Meski perekonomian global dilanda krisis beberapa tahun belakangan, pria berharta US$ 4,5 miliar atau kini setara Rp 63,2 triliun menurut majalah Forbes tahun ini, berhasil meneken sejumlah kontrak bisnis. Perusahaan miliknya, the Trump Organization, berhasil mendapat proyek pembangunan lapangan golf dan permukiman elite di Dubai, hotel di Turki, dan penjualan produk perabotan dan aksesoris rumah di seantero Timur Tengah.

Namun namanya ambruk seketika buat sekitar 1,8 miliar pengikut Nabi Muhammad setelah komentar anti-Islamnya itu.

"Saya sekarang malu tinggal dalam bangunan terkait lelaki busuk itu," kata Melek Toprak, 38 tahun. Dia tinggal bareng saudara kandung perempuannya di Trump Towers, gedung kaca berbentuk asimetris berlokasi di Kota Istanbul, Turki.

Tapi tidak semua pengusaha elite muslim menjauhi Trump. Perabotan bermerek Trump Home masih terpajang di toko Dorya kepunyaan At-Tayir Group, konglomerasi dari Dubai.

Presiden Direktur Qatar Airways Akbar al-Bakir tidak menanggapi serius komentar kontroversial Trump. Dia menilai hal itu sekadar taktik Trump buat menggaet pemilih. "Lihat, Donald (Trump) adalah teman saya dan kami sudah berteman lama," ujarnya.

Walau kemarin sudah menghilangkan nama dan foto Donald Trump di lokasi proyek pembangunan lapangan golf, vila, dan permukiman elite senilai US$ 6 miliar (Rp 84,3 triliun), Damac Properties tidak berniat memutus kontrak bisnis dengan Trump. "Kami tidak mengomentari agenda pribadi atau politik Tuan Trump, atau berkomentar soal politik dalam negeri Amerika," ujar Damac melalui pernyataan tertulis.

Sejatinya Trump sudah pernah memicu kontroversi. Saat berkampanye beberapa waktu lalu, dia memuji Bandar Udara Internasional Syekh Hamad bin Khalifah di Ibu Kota Doha, Qatar, baru dibangun dengan biaya sedikitnya US$ 15 miliar (Rp 210,8 triliun) dan menyebut bandar-bandar udara di Amerika seperti di negara-negara dunia ketiga.

Pada 2011 dia salah menuding Kuwait tidak berkontribusi dalam Perang Teluk 1991, buat membebaskan negara itu dari invasi Irak. Padahal menurut catatan Kongres Amerika Serikat, Kuwait menyumbang US$ 16,1 miliar.

Trump tidak peduli dengan reaksi kaum muslim. "Jika saya kehilangan sejumlah bisnis di luar negeri, itu tidak berpengaruh apaun buat saya. Apa yang saya kerjakan sekarang jauh lebih penting ketimbang bisnis apa saja saya miliki," tuturnya dalam acara the O'Reilly Factor di stasiun televisi Fox News.

Dia bilang usulannya melarang kaum muslim memasuki Amerika Serikat bersifat sementara. Trump mengklaim teman-teman muslimnya dan rekan bisnisnya di Timur Tengah senang dengan pernyataannya itu. "Itu masalah mereka bilang semua orang takut untuk melontarkan."

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan penguasa Oman Sultan Qabus bin Said di Muskat, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Langkah awal akhiri karier Netanyahu

Rakyat Israel sekarang menghadapi dilema: mengakhiri karier politik Netanyahu atau mati-matian mempertahankan sang pemimpin legendaris dengan segudang prestasi setelah itu terus berkuasa.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Tipuan Bin Salman di malam Ramadan

Proses pemilihan Bin Salman menjadi putera mahkota Arab Saudi tidak sah.

Bakal lokasi pembangunan kota raksasa Neom senilai lebih dari US$ 500 miliar di wilayah barat Arab Saudi. (Neom)

Kilau Neom petaka Huwaitat

Paling sedikit akan ada 20 ribu orang dari suku Huwaitat bakal terusir dari kampung halaman mereka tanpa ada informasi di mana mereka bakal diberi lahan pengganti.

Struktur ISIS diambil dari dokumen bikinan Haji Bakar. (derspiegel.de)

Ramadan dan kebangkitan ISIS

Kebangkitan ISIS bukan sekadar jumlah serangan mereka lakukan kian banyak. Namun serbuan mereka lakoni berakibat fatal dan serangan mereka bervariasi.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Langkah awal akhiri karier Netanyahu

Rakyat Israel sekarang menghadapi dilema: mengakhiri karier politik Netanyahu atau mati-matian mempertahankan sang pemimpin legendaris dengan segudang prestasi setelah itu terus berkuasa.

25 Mei 2020

TERSOHOR