kisah

Fulus judi permukiman Yahudi

Pengusaha judi asal Amerika Serikat Irving Moskowitz sudah mengirim lebih dari US$ 100 juta untuk membangun permukiman Yahudi di Tepi Barat.

16 Desember 2015 17:04

Barangkali para petaruh di Hawaiian Gardens tidak pernah tahu menang atau kalah bukan hanya milik mereka. Padahal nasib mereka terima di meja judi terasa pula hingga ke Yerusalem Timur, Tepi Barat, berjarak ribuan kilometer dari kota kecil di selatan Negara Bagian California, Amerika Serikat, itu.

Yang beruntung adalah para pemukim Yahudi, sedangkan yang ketiban sial warga Arab Palestina lama mendiami kota suci bagi tiga agama itu, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Hingga kini Irving Moskowitz, pemilik rumah judi itu, telah menyumbang lebih dari US$ 100 juta untuk pembangunan permukiman orang Yahudi.

Masalah permukiman inilah mengganjal untuk dimulainya lagi perundingan Palestina-Israel. Sebab Presiden Palestina Mahmud Abbas menuntut penghentian perluasan permukiman Yahudi di Tepi Barat, memang ilegal menurut hukum internasional, sebagai syarat berunding lagi dengan Israel.

Moskowitz, 87 tahun, memulai bisnis di bidang rumah sakit lantaran profesinya sebagai dokter penyakit dalam. Haluannya berubah pada awal 1969. Dia mulai membeli tanah dan rumah-rumah milik warga Palestina di Yerusalem Timur untuk dijadikan yeshiva (sekolah seminari Yahudi).

Bisnisnya kian mencorong setelah dia mengambil alih rumah judi bingo di Hawaiian Gardens. Pihak kota pun bersedia menerima syarat hanya memperoleh satu persen dari pendapatan Moskowitz saban tahun mencapai puluhan juta dolar.

Untuk menyiasati hukum di California, dia mendirikan Yayasan Moskowitz sebagai pengelola bingo itu. Alhasil, penganut Yahudi Ortodoks ini leluasa mentransfer dana jutaan dolat buat mendirikan permukiman Yahudi di Tepi Barat sekaligus terhindar dari kewajiban membayar pajak Amerika.

Imigran asal Polandia ini memang sangat getol menyokong proyek permukiman Yahudi sejak Israel memenangkan Perang Enam Hari 1967. Salah satu lembaga menjadi penerima donasi tetap dari dirinya adalah Ateret Cohanim. "Kami pulang, kami sedang berkembang, kami akan membangun dan akan terus melanjutkan itu," kata Yossi Baumol, mantan direktur pelaksana organisasi itu.

Pada 1985, Moskowitz membeli Hotel Sheperd seharga US$ 1 juta. Ikon bersejarah ini tadinya milik mufti Yerusalem Haji Amin al-Husaini. Dia berencana merobohkan hotel itu untuk dibangun 20 apartemen mewah dan satu garasi bawah tanah.

Presiden Amerika Barack Obama boleh saja menuntut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu segera menghentikan pembangunan permukiman di Tepi Barat. Namun selama rumah judi milik Moskowitz tidak ditutup, proyek-proyek itu bakal terus bermunculan.

Seperti kata pegiat hak asasi dari Israel, Rabbi Haim Beliak, Moskowitz berusaha membersihkan etnik Arab di Yerusalem Timur.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Maha as-Subaii (28 tahun) dan adiknya Wafa as-Subaii (25 tahun), dua gadis asal Arab Saudi meminta suaka ke Georgia. (Twitter/@GeorgiaSisters)

Pelarian Maha dan Wafa

Jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR