kisah

Di Bucca ISIS dilahirkan

"Penjara telah menjadi universitas teroris sesungguhnya: profesornya adalah orang-orang radikal, tahanan lain jadi mahasiswa, dan otoritas penjara berperan sebagai pelindung."

14 Januari 2015 07:19

Suatu hari pada Maret 2009. Semilir angin seolah menemani para keluarga tahanan menunggu dengan harap-harap cemas sekaligus gembira pembebasan putra, kakak, dan ayah mereka dari Kamp Bucca di Garma, kota kecil di selatan Irak dan dekat perbatasan Kuwait. Hari itu ratusan penghuni salah satu penjara militer Amerika Serikat tersohor paling kejam selama Perang Irak ini meraih kebebasan.

Namun seorang pejabat setempat mengomentari pembebasan itu dengan sinis. "Mereka bukan menanam bunga di kebun," kata Saad Abbas Mahmud, Kepala Kepolisian Garma, kepada surat kabar the Washington Post.

Dia memperkirakan 90 persen dari tahanan dibebaskan bakal berperang lagi. "Mereka bukan akan berkeliaran di jalan. Ini persoalan besar dan berbahaya," ujarnya. "Sayangnya, pemerintah dan pihak berwenang Irak tidak tahu sudah seberapa besar masalah itu."

Penilaian Mahmud soal Kamp Bucca - dihuni seratus ribu tahanan dan ditutup beberapa bulan kemudian - terbukti tepat. Kamp itu kini mewakili bab permulaan dalam sejarah ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Banyak dari pemimpin mereka, termasuk Abu Bakar al-Baghdadi, pernah mendekam di sana dan kemungkinan berkenalan di dalam penjara itu.

Menurut mantan komandan penjara, pakar, dan tentara sipir, Kamp Bucca memberikan sebuah keadaan unik bagi radikalisasi dan kerja sama di antara tahanan. Bentukan ini terlihat dalam perkembangan pasukan jihadis paling potensial saat ini.

Semuanya, sembilan anggota komando tertinggi ISIS, pernah menghuni Kamp Bucca, menurut Soufan Group, organisasi analisa teroris. Selain Baghdadi pernah ditahan di sana lima tahun, pemimpin nomor dua ISIS, Abu Muslim at-Turkmani, pemimpin militer senior Haji Bakar (telah meninggal), dan komandan pejuang asing Abu Qasim, juga merasakan tinggal di Kamp Bucca.

Sama saat mereka masuk ke Kamp Bucca, setelah keluar pun mereka tetap orang-orang radikal. "Sebelum ditahan, Baghdadi dan pemimpin ISIS lainnya merupakan orang-orang radikal, garis keras, dan ingin menyerang Amerika," tulis tentara veteran Andrew Thompson dan akademisi Jeremi Suri November tahun lalu di surat kabar the New York Times.

"Waktu mereka di penjara kian meneguhkan ekstremisme mereka dan memberi mereka kesempatan memperluas pengikut," tutur keduanya. "Penjara telah menjadi universitas teroris sesungguhnya: profesornya adalah orang-orang radikal, tahanan lain jadi mahasiswa, dan otoritas penjara berperan sebagai pelindung."

Bekas komandan penjara Kamp Bucca James Skylar Gerrond memiliki penilaian khusus mengenai Baghdadi. "Banyak dari kami di Kamp Bucca prihatin. Kami bukannya menawan tahanan tapi malah menciptakan sebuah alat masak bagi ekstremisme," tulisnya di Twitter Juli tahun lalu. Gerrond bertugas di Kamp Bucca selama 2006-2007 saat penjara itu dihuni puluhan ribu orang, termasuk Baghdadi.

Banyak dari mereka terbukti bersalah menyerang prajurit Amerika, tapi banyak juga yang tidak. Orang-orang sebenarnya tidak bersalah ini dijebloskan ke dalam Kamp Bucca karena cuma memandang penuh curiga ke arah tentara Amerika. Mereka diperlakukan tidak adil, ditahan tanpa dakwaan, atau tidak diizinkan melihat barang bukti. Akhirnya orang-orang diperlakukan semena-mena ini saat bebas berubah menjadi pemberontak sebab merasa tertindas.

Pada puncak Perang Irak di 2007, ketika Kamp Bucca dihuni 24 ribu tahanan, situasi di sana mendidih oleh ekstremisme. Sebuah laporan militer mengungkapkan tahanan-tahanan dibedakan atas dasar sekte buat meredakan ketegangan. Mereka memakai hukum Islam untuk menyelesaikan sengketa. "Di dalam sel ekstremis-ekstremis Islam bakal melukai atau membunuh rekannya sebab tindakan melanggar ajaran Islam," kata laporan militer itu.

"Pengadilan syariah memaksakan banyak aturan dalam Kamp Bucca," ujar seorang serdadu seperti ditulis dalam laporan itu. "Siapa saja berlaku kebarat-baratan akan dihukum keras oleh orang-orang ekstremis. Kadang hukuman dijatuhkan sangat menggemparkan."

Gerrond pun mengakui soal perkembangan ekstremisme di Kamp Bucca. "Ada sebuah tekanan sangat besar kepada para tahanan untuk menjadi lebih radikal dalam keyakinan mereka," ujarnya. "Jika ada elemen radikal dalam sebuah kumpulan tahanan, selalu ada potensi mereka menjadi lebih radikal."

Namun situasi di Bucca unik. Kaum Baathis sekuler dan Islam fundamentalis bekerja sama. Soufan melaporkan di sana dua kelompok kelihatan tidak layak bergabung malah membentuk sebuah kesatuan, lebih dari sekadar sebuah perkawinan untuk kenyamanan.

Masing-masing menawarkan sesuatu tidak dipunyai oleh kelompok lain. Para jihadis menemukan keahlian berorganisasi dan disiplin militer dalam kubu bekas anggota Partai Baath. Dalam kelompok jihadis, eks Baathis memperoleh tujuan. "Di Bucca matematika berubah. Ideologi mengadopsi militer dan birokrasi serta birokrat menjadi ekstremis berbahaya," seperti tertulis dalam laporan Soufan.

Para mantan penghuni Bucca menyebut sebagai sebuah sekolah Al-Qaidah berkembang menjadi Negara Islam. Akhirnya ketika mereka dibebaskan pada 2009 dan kembali ke Baghdad, cuma dua mereka bicarakan: perubahan mereka ke arah radikalisme dan balas dendam.

Poster Huzaifah al-Badri, putra pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi, tewas dalam pertempuran di Homs, Suriah. (Amaq)

Putra pemimpin ISIS tewas di Suriah

Baghdadi memiliki empat anak dari istri pertama dan satu putra dari iatri kedua.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

ISIS benarkan Abu Bakar al-Baghdadi tewas

Dia dinyatakan terbunuh akibat serangan udara di Provinsi Ninawih, Irak.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Calon pengganti Baghdadi

Iyad al-Ubaidi dan Ayad al-Jumaili sebagai dua kandidat terkuat merupakan bekas perwira angkatan darat zaman Saddam Husain.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Rusia sangat yakin serangan udaranya tewaskan pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi

Serangan udara itu terjadi pada 28 Mei dini hari di pinggiran selatan Kota Raqqah.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Dedaunan pengganjal perut anak-anak Yaman

Perang antara milisi Al-Hutiyun menghadapi pasukan koalisi Arab Saudi telah menciptakan tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah.

21 September 2018

TERSOHOR