kisah

Semerbak kopi Yaman

Salah satu kombinasi kopi paling tersohor di era modern ini adalah kopi Mokha-Jawa.

18 Desember 2015 21:50

Mukhtar al-Khansyali, saudagar kopi berdarah campuran Yaman-Amerika, sedang melangkah di sebuah jalan di Kota Aden, selatan Yaman, saat disergap. Kedua matanya lalu ditutup dan keduanya tangannya diikat ke belakang sebelum dilempar ke atas sebuah truk bak terbuka.

Ketika berupaya kabur, dia mendengar para penculiknya membahas soal jalur laut menghubungkan kota pelabuhan Mokha di selatan Yaman dengan Djibouti, negara Arab di Benua Afrika.

Sepekan berikutnya dia mulai berkemas untuk pulang ke Amerika Serikat, buat menghadiri konferensi industri kopi tahunan digelar oleh SCAA (Asosiasi Kopi Khusus Amerika) di Seattle.

Namun rencananya itu terganjal lantaran bandar udara di Ibu Kota Sanaa dibom beberapa saat sebelum dia akan meninggalkan Yaman. Karena kebelet ingin datang ke acara SCAA dan mau menceritakan perjuangan industri kopi di Yaman, Khansyali dan Andrew Nicholson, pedagang kopi dari Texas dan kini tinggal di Yaman, melakoni perjalanan dramatis agar bisa tiba tepat waktu.

Khansyali dan Nicholson bermobil tujuh jam menuju pelabuhan di Mokha. Dari sana mereka menyewa sebuah perahu nelayan dan menyeberangi Laut Merah selama lima jam ke Afrika. Keduanya kemudian terbang ke Seattle dari Kenya dan akhirnya tidak ketinggalan datang ke konferensi kopi tahunan itu.

Kisah Khansyali ini muncul di beragam media besar dunia, seperti BBC, CNN, dan Al-Jazeera. Dia pun langsung mendapat julukan "the Indiana Jones of Coffee".

Hikayat Khansyali dan Nicholson ini mendapat sorotan luas di konferensi SCAA. Khansyali adalah pemilik perusahaan ekspor kopi Mocha Mill berkantor di Oakland, California, dan Nicholson merupakan pemilik pabrik dan perusahaan ekspor kopi Rayyan Mill.

Meski Ethiopia dikenal sebagai tempat kelahiran kopi, di Yaman biji kopi pertama kali diperdagangkan, khususnya di Kota Mokha, sejak 1450. Waktu itu minyak dan gas menyumbang seperempat dari total produk domestik bruto Yaman, pertanian juga penyokong perekonomian negara ini. Kopi dihasilkan di 17 dari 21 provinsi di Yaman dan ditanam oleh sekitar 600 ribu petani.

Pemberontak Syiah Al-Hutiyun sempat mengambil alih Mokha saat milisi itu melancarkan serangan Maret lalu. Industri kopi pun menjadi korban konflik telah berlangsung sembilan bulan terakhir itu. Bahkan sebelum itu pun, produksi kopi di Yaman stagnan, kurang lebih 300 ribu karung setahun.

Nilai ekspor kopi Yaman melorot dari US$ 17.584.341 pada 2005 menjadi US$ 10.381.619 di 2012. Menurut IFAD (Dana Internasional bagi Pembangunan Pertanian), secara keseluruhan produksi kopi di Yaman sebelum konflik meletup pun sudah turun 50 persen dari total produksi pada 1950-an.

Ketika produksi kopi di sejumlah wilayah di Yaman kembali normal, sebagian pelaku industri yakin kopi Yaman dapat berjaya lagi. Namun Andrew Hetzel, spesialis kualitas dan perdagangan kopi di CQI (Institut Kualitas Kopi), pesimistis. "Dengan adanya perubahan iklim dan ketidastabilan politik, rasanya tidak mungkin," katanya.

Tapi kopi Yaman memiliki empat keistimewaan, menurut laporan dilansir USAID (Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat) dua tahun lalu, yakni keunikan varietas kopi, perkebunan kopi di ketinggian lebih dari dua ribu meter, tradisi tanam dan pengolahan biji kopi telah berlangsung berabad-abad, dan tantangan pertanian kopi.

Popularitas dan kurangnya pasokan membikin kopi Yaman termasuk termahal sejagat. "Kopi Yaman sangat tersohor di Arab Saudi, negara ini rela membayar mahal untuk kopi Yaman tanpa peduli kualitasnya," ujar Hetzel.

Garfield Kerr, mantan pialang di Bursa Wall Street dan awal tahun ini membuka kedai kopi Mokha 1450 di Mal Aswaaq, berlokasi di Jalan Al-Wasl, Kota Dubai, Uni Emirat Arab, membuat perbandingan betapa mahalnya kopi Yaman. Dia bilang harga rata-rata satu kilogram biji kopi berkualitas internasional US$ 10. "Kalau biji kopi Yaman bisa sekitar US$ 30," ucap pecinta kopi Yaman ini.

Sejak tahun lalu, CQI didanai USAID memulai proyek lima tahun untuk melatih para petani kopi di Yaman cara terbaik bertani kopi. Program ini juga membangun pasar khusus bagi kopi Yaman di Amerika Serikat dan negara lain. Namun karena konflik meletup, proyek ini dihentikan.

Ancaman besar lainnya terhadap industri kopi di Yaman adalah meningkatnya produksi qat, tanaman mengandung katinon, semacam zat narkotik. Para petani di Yaman sekarang lebih suka menanam qat karena lebih mudah tumbuh dan gampang dijual. IFAD melaporkan tahun lalu 22 persen lahan pertanian di Yaman dipakai buat menanam qat.

Persoalan lainnya, menurut data dari Bank Dunia, adalah curah hujan di Yaman cuma 167 milimeter setahun, sedangkan curah hujan di Ethiopia 848 milimeter. Qat cocok tumbuh di daerah kurang hujan.

Tidak jelasnya arah industri kopi di Yaman tidak menjadikan kopi Yaman kehilangan pamor. Salah satu pecinta kopi Yaman adalah Jim Cleaves, manajer Dunkin Brands, kini mempunyai 10.858 gerai Dunkin Donuts di seluruh dunia dan setengah dari US$ 7 miliar pendapatannya per tahun berasal dari penjualan kopi. "Kopi Yaman mempunyai tempat khusus dalam dunia kopi," tuturnya.

Salah satu kombinasi kopi paling tersohor di era modern ini adalah kopi Mokha-Jawa.

Bau mesiu rupanya tidak mampu menggantikan semerbak kopi Yaman.

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Basrah pada 1913, dipotret oleh pengusaha Swedia bernama Arne C Waern. (Wikimedia Commons)

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

Sheikha Latifa, daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, with her Finnish friend, Tiina Jauhiainen. (@detainedindubai for Albalad.co)

Nestapa Syekha Latifah

Bahkan sepanjang hidupnya, Syekha Latifah baru sekali keluar Dubai, yakni saat kabur tahun ini.

Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhamnad bin Abdurrahman ats-Tsani. (Saudi Gazette)

Duit sebukit tebusan pangeran

Uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR