kisah

Perang miliaran dolar

Bila perang menghadapi ISIS kian memuncak, ongkos tahunan mesti dikeluarkan antara US$ 2,4 miliar sampai US$ 22 miliar.

16 Januari 2015 07:26

Jenderal Martin Dempsey dari Angkatan Darat Amerika Serikat - biasa disapa Marty oleh teman dan koleganya - Oktober tahun lalu baru saja merayakan 40 tahun pengabdiannya di militer. Kelihatannya ini bakal menjadi tahun sulit bagi dirinya dan barangkali perayaan mesti ditunda lantaran ketegangan di Timur Tengah.

Sebagai komandan kepala staf gabungan, Dempsey merupakan perwira tertinggi di angkatan bersenjata Amerika serta mengepalai tim penasihat militer bagi presiden, Dewan Keamanan Nasional, dan menteri pertahanan. Kariernya tidak ternoda. Namun keputusan Presiden Barack Hussein Obama buat melancarkan gempuran udara terhadap militan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) di Irak dan Suriah telah memunculkan tantangan lain bagi lelaki 62 tahun ini, yakni bagaimana menyeimbangkan anggaran di Pentagon (Departemen Pertahanan Amerika).

Dempsey mengakui keseimbangan rencana anggaran Pentagon tahun ini stabil atau ada penurunan komitmen misi di luar negeri. Tapi menghadapi tantangan dari pasukan Rusia di Ukraina, krisis Ebola di Afrika Barat, ketidakstabilan di Afrika Utara, dan operasi militer baru di Timur Tengah, asumsi itu tampaknya akan berubah. "Komitmen komitmen telah meningkat," kata Dempsey blak-blakan dalam jumpa pers. "Jadi jika kalian menanyakan kepada saya sekarang...apakah kita akan menghadapi persoalan anggaran? Ya."

Setelah ISIS melansir rekaman video pemenggalan masing-masing dua wartawan Amerika dan relawan kemanusiaan Inggris, makin kuat tekanan terhadap Kongres Amerika buat membatalkan pemotongan wajib anggaran pertahanan sebesar US$ 1 triliun.

Perkiraan menunjukkan upaya militer Amerika melawan ISIS telah menelan hampir US$ 1 miliar. Sejumlah ahli memperkirakan angka ini bakal naik menjadi US$ 2,4 miliar hingga US$ 3,8 miliar per tahun jika serangan udara dan darat berlanjut dalam tahap seperti sekarang.

Menurut Centre for Strategic and Budgetary Assessments (CSBA), kalau operasi militer ini terus mengalami kemajuan dan usaha dilakukan kian kuat, termasuk menambah jumlah jet tempur serta peningkatan pasukan darat, ongkos perang mulai meroket sangat cepat dan bisa menyentuh US$ 13 miliar sampai USS$ 22 miliar saban tahun. CSBA merupakan lembaga riset kebijakan bersifat independen memasok pemikiran dan debat inovatif mengenai strategi keamanan nasional Amerika dan pilihan investasi.

"Ongkos perang nantinya bergantung pada seberapa besar dan lama operasi militer berlanjut, tingkat kestabilan serangan udara, dan apakah akan ada tambahan pasukan darat diterjunkan melebihi dari yang direncanakan," ujar Todd Harrison, peneliti senior bidang anggaran pertahanan di CSBA.

Sebagai gambaran, Menteri Pertahanan Chuck Hagel September tahun lalu mengatakan kepada wartawan, Pentagon telah merogoh US$ 7 juta hingga US$ 10 juta tiap hari buat dana operasi menghadapi ISIS sejak 16 Juni 2014. Peningkatan serangan udara bakal kian menguras kantong Pentagon.

Saat gempuran udara dimulai September 2014, Amerika hakikatnya telah mengawali operasi militer atas ISIS Juni 2014, meningkatkan sokongan bagi pasukan Kurdi dan Irak buat memerangi ISIS. Sejak Agustus Amerika mengirim satu kontingen kecil militer dalam kapasitas sebagai penasihat dan pelatih, melancarkan serangan udara, misi kemanusiaan, dan pengumpulan informasi intelijen serta pemantauan. Pentagon menaksir operasi kunci berskala rendah ini memakan dana US$ 530 juta sampai 26 Agustus 2014.

Bulan berikutnya Obama meminta bantuan dari negara-negara Arab - Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Yordania. Gedung Putih mempertimbangkan menambah jumlah serangan udara. CSBA memperkirakan ongkos operasi udara dan darat dari 27 Agustus hingga 24 September 2014 mencapai US$ 250 juta sampai US$ 400 juta, sehingga total pengeluaran sekitar US$ 930 juta. Kelihatannya ini angka besar, namun itu tidak sampai 0,2 persen dari anggaran Pentagon 2014. CSBA bilang Pentagon telah mengisyaratkan akan mampu membiayai operasi militer terhadap ISIS dari alokasi yang ada.

Jacob Cohn, analis di CSBA, menjelaskan ongkos sudah dperkirakan menggunakan informasi tersedia secara terbuka tentang jenis jet tempur dan amunisi digunakan, pangkalan tersedia bagi pasukan Amerika, serta pengalaman operasi sebelumnya. "Perkiraan pengeluaran di masa depan meliputi selisih belanja jam terbang buat jet tempur, pesawat pengebom, ISR (Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian), komando dan kontrol, serta pesawat pengisian bahan bakar di udara," tuturnya kepada Arabian Business.

Cohn menekankan perkiraan biaya ini belum mencakup dana buat misi kemanusiaan, pasokan senjata bagi pasukan koalisi, pelatihan pasukan rekanan, kontribusi sekutu dalam serangan udara dan darat, atau pelbagai operasi rahasia.

Meski beberapa negara Arab ikut terlibat dalam perang melawan ISIS, tapi Cohn bilang sulit memperkirakan pengeluaran atau bahkan peran dimainkan negara-negara Arab itu. "Beragamnya tingkat partisipasi Arab, kecuali ikut mengirimkan pasukan dalam jumlah besar, kelihatannya tidak akan memiliki dampak signifikan atas seluruh taksiran, namun bakal mempengaruhi porsi pengeluaran ditanggung oleh keterlibatan Amerika dan bagian ditanggung oleh Arab Saudi, Yordania, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab," katanya.

Operasi militer terhadap ISIS tampaknya akan melibatkan armada laut Amerika, di mana kapal induk kelima siaga di Bahrain. CSBA menduga dua pesawat angkut bakal diterjunkan, bertambah satu dari yang dianggarkan untuk kawasan Timur Tengah. Ini akan menambah pengeluaran US$ 40 juta-US$ 50 juta per bulan.

Jika pasukan darat diikutsertakan, mesti lagi mengeluarkan US$ 40 ribu-US$ 70 ribu tiap prajurit saban bulan, berdasarkan ongkos Perang Irak sebelumnya. Pada hakikatnya ada tiga skenario melawan ISIS.

Pertama, melibatkan sekutu untuk tetap melancarkan serangan udara di tingkat seperti sekarang atau disebut kampanye udara intensitas rendah. Terdiri dari 90 ISR per hari dan seratus sasaran saban bulan. pendekatan pertama ini bakal dibekingi oleh penambahan pasukan darat menjadi dua ribu personel dari yang sekarang sekitar 1.600. Skenario semacam ini memakan biaya US$ 200 juta hingga US$ 320 juta sebulan.

Jika operasi ditingkatkan dan semua laporan mengisyaratakan ke arah itu, bakal naik menjadi kampanye udara intensitas tinggi. Skenario ini melibatkan 120 ISR sehari dan 150 sasaran tiap bulan. Total pasukan darat diterjunkan meningkat menjadi lima ribu orang. Pengeluaran per bulannya kian membengkak antara US$ 350 juta-US$ 570 juta.

Skenario terakhir melancarkan serangan darat. Ini akan mengikutsertakan operasi udara berintensitas tinggi dengan 150 ISR per hari dan 200 target tiap bulan. Jumlah pasukan diterjunkan sekitar 25 ribu personel. Serbuan besar-besaran ini bisa menelan anggaran US$ 1,1 miliar-US$ 1,8 miliar, sekitar 80 persennya buat membiayai anggota pasukan darat.

Alhasil, tergantung pada intensitas operasi udara dan darat, biaya buat memerangi ISIS berkisar US$ 200 juta hingga US$ 1,8 miliar per bulan.

Bila perang menghadapi ISIS kian memuncak, ongkos tahunan mesti dikeluarkan antara US$ 2,4 miliar sampai US$ 22 miliar. Angka ini belum sebanding dengan pengeluaran militer Amerika pada puncak Perang Irak US$ 164 miliar pada 2008 dan puncak perang di Afghanistan US$ 122 miliar pada 2011. "Perang adalah sebuah usaha tidak bisa diprediksi dan kemampuan untuk memperkirakan biaya perang terbatas," tulis kesimpulan CSBA.

Kalau sudah begini, Jenderal Dempsey cuma mampu meraba-raba untuk menyeimbangkan anggaran Pentagon dan provokasi dari ISIS.

Evakuasi korban tewas dan luka akibat serangan teror di klub malam Reina, Istanbul, Turki, 1 Januari 2017. (Twitter/@emergensa24)

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

Pemimpin gereja ortodhoks Siriak di Bartella, Irak, berpose bareng pasukan elite Irak membebaskan kota itu dari caplokan ISIS. (ADFA)

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.

Seorang jihadis ISIS merobohkan salib di sebuah gereja di Kota Mosul, Irak, pada 2014. (The Assyrian International News Agency)

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.

Abu Abdullah, perancang serangan bunuh diri ISIS di Ibu Kota Baghdad, Irak. (Sam Tarling untuk the Guardian)

Perancang ledakan Baghdad

"Yang saya lakukan ini jihad karena saya membunuh orang-orang Syiah," Abu Abdullah menegaskan. "Mereka itu kafir dan saya yakin itu."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR