kisah

Istana Putih Sultan Erdogan

Pembangunan istana penuh ornamen ini menghabiskan anggaran Rp 4,2 triliun.

19 Januari 2015 11:14

Dikabarkan lebih luas ketimbang Gedung Putih di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat, Istana Kremlin (Moskow, Rusia), Istana Buckingham (London, Inggris), dan Istana Versailles (Paris, Prancis).

Istana presiden baru Turki ini menempati lahan seluas 202.343 meter persegi. Terletak di atas sebuah bukit di pinggiran Ibu Kota Ankara, Istana Putih atau Ak Saray dalam bahasa Turki itu mempunyai seribu ruangan, sebuah jaringan terowongan, berteknologi antisadap mutakhir, serta berarsitektur campuran modern dan abad pertengahan.

Istana Putih ini berlapis pualam mewah dan kabarnya pelapis dinding dari sutera dipakai di kamar-kamar mandi dalam istana. Ak Saray bakal menjadi kediaman resmi Recep Tayyip Erdogan, presiden ke-12 Turki.

Pembangunan istana penuh ornamen ini menghabiskan anggaran lebih dari US$ 350 juta atau Rp 4,2 triliun. Erdogan meresmikan kompleks Istana Putih nan mewah itu akhir Oktober tahun lalu untuk memperingati Hari Republik, menandai kejatuhan Kesultanan Usmaniyah dan berdirinya Turki modern.

Kelompok-kelompok oposisi memboikot upacara itu dan menyebut Istana Putih sebagai bukti kecenderungan otokratik Erdogan. "Apa bisa diperbuat dengan uang sebanyak itu?" kata tokoh oposisi Umut Oran, seperti dilaporkan kantor berita Dogan. Dia mengklaim anggaran Erdogan tiga kali lebih besar dibanding keluarga kerajaan Inggris dan fulus Rp 4,2 triliun itu bisa dipakai buat mengirim tiga satelit ke Mars.

"Bahkan Ratu Elizabeth II akan kelihatan miskin dibanding anggaran buat presiden ke-12 Turki (Erdogan)," ujar Oran, seperti dikutip surat kabar Today's Zaman. Dia menambahkan Presiden Amerika Barack Hussein Obama saja masih setia menghuni Gedung Putih telah berusia 214 tahun.

"Sultan (Erdogan) telah membangun (istana) ini buat dirinya sendiri di sebuah negara di mana tiga juta penduduknya tidak punya pekerjaan," tutur Kemal Kilicdaroglu dari Partai Rakyat Republik, seperti dikutip koran the Telegraph. "Anda menebang ratusan pohon untuk membangun istana Anda ini."

Para pegiat lingkungan juga memprotes berdirinya istana megah dibangun sejak tiga tahun lalu itu. Sebab lokasinya di dalam hutan lindung. Pengadilan sebenarnya telah memerintahkan proyek itu dihentikan tapi Erdogan melawan. "Biarkan mereka menghancurkan istana itu jika mereka mampu melakukan. Mereka telah memerintahkan proyek ini ditunda namun mereka tidak bisa menghentikan," kata Erdogan seperti dilaporkan Today's Zaman Maret tahun lalu. "Saya akan meresmikan dan tinggal di dalam istana itu."

Perpindahan Erdogan ke Istana Putih itu sangat bersejarah lantaran 12 presiden Turki sejak Mustapha Kemal Ataturk menghuni Istana Chankaya di jantung Ankara. Istana ini kini ditinggali oleh Perdana Menteri Ahmet Davutoglu.

Lahan tempat Istana Putih itu tegak tadinya merupakan tanah pertanian milik Ataturk kemudian disumbangkan buat negara. Erdogan menyadari betul momen bersejarah itu. "Turki bukan lagi Turki lama. Turki baru perlu mewujudkan dirinya dalam cara-cara tertentu," ujarnya September tahun lalu.

"Kita perlu menyampaikan pesan Ankara adalah ibu kota Seljuk," ucap Erdogan. Karena itu, dia merancang ruang dalam Istana Putih bergaya campuran dinasti Seljuk dan Kesultanan Usmaniyah.

Dinasti Seljuk adalah suku muslim Sunni di abad pertengahan. Mereka membangun sebuah kekaisaran dengan wilayah kekuasaan membentang mulai Hindu Kush hingga Anatolia dan Asia Tengah sampai Teluk Persia.

Kontroversi kemungkinan belum usai. BBC melaporkan tahun ini sejumlah bangunan terkait presiden direnovasi, termasuk Istana Huber di Istanbul dan wisma negara di pantai Aegea. Menteri Keuangan Turki Mehmet Simsek bilang dana 115 juta pound sterling atau Rp 2,2 triliun bakal digunakan membeli sebuah Airbus A330-200 untuk dijadikan pesawat kepresidenan.

Kian lengkaplah gelar sultan bagi Erdogan. Sehabis menghuni istana baru, dia juga akan dibelikan pesawat baru.

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

Paket makanan dibagikan kepada rakyat Mesir memilih amandemen konstitusi dalam referendum digelar selama 20-22 April 2019. (Twitter)

Intimidasi demi Sisi

Pejabat keamanan memaksa para pemilik toko, pebisnis, pengusaha restoran, dan keluarga-keluarga terpandang memajang spanduk menyokong referendum.

Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

08 Mei 2019
Intimidasi demi Sisi
26 April 2019
Bertemu pemuka Yahudi
04 Maret 2019

TERSOHOR