kisah

Romantis di batas ISIS

"Kisah kami seperti film tragedi romantis," kata Ikhlas, 21 tahun.

21 Januari 2015 07:32

Ketika bertunangan dengan tentara Irak bersuara lembut dari sisi lain kota kecil Dhuluiya, Ikhlas Muhammad mengimpikan bakal mengenakan baju pengantin putih dan merayakan hari pernikahannya bareng keluarga dan teman diiringi musik serta makanan.

Tapi tidak semudah itu. Kaum ekstremis ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) telah menguasai daerah tempat tinggalnya dan memutus jembatan menghubungkan dengan wilayah kediaman tunangannya itu. Para tetangganya bergabung dengan kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu, sedangkan calon suami dan warga di Kota Balad bertempur melawan mereka.

Meski berisiko dijemput ajal, Ikhlas akhirnya bisa menikah. Semua itu berkat rencana berani disiapkan ibunya bersama sang tunangan. Ikhlas diselundupkan lewat Sungai Tigris. "Kisah kami seperti film tragedi romantis," kata Ikhlas, 21 tahun. "Diancam oleh orang-orang jahat (ISIS) dan kabur bareng calon suami memerangi mereka sampai saat ini."

Bentrokan kelompok ISIS dan masyarakat Dhuluiya anti-ISIS berlangsung saban hari. Dhuluiya, kota di tepi Sungai Tigris, sekitar 80 kilometer dari Ibu Kota Baghdad, merupakan salah satu wilayah di Irak tercabik-cabik akibat serbuan ISIS.

Banyak dari kawasan di kota penghasil kurma dan jeruk ini berbahaya lantaran tembakan penembak runduk dan mortir oleh gerombolan ISIS. Di bagian lain Dhuluiya, masyarakatnya mampu mengusir anggota ISIS. Meski begitu, Dhuluiya masih dikepung ISIS. Penduduk kota ini tidak bisa ke pusat perdagangan, pemerintahan, bahkan ke pemakaman buat menguburkan korban tewas dalam pertempuran.

Satu-satunya cara keluar melalui kapal-kapal goyang melintasi Tigris berlumpur menghubungkan Dhuluiya berpenduduk mayoritas Sunni dan Kota Balad dihuni sebagian besar penganut Syiah. Kapal-kapal kayu ini mengangkut makanan, bahan bakar, dan para pejuang ingin bertempur melawan ISIS. Kapal-kapal ini juga berfungsi sebagai ambulans mengangkut korban tewas atau cedera lantaran ISIS menguasai rumah sakit di sana.

Dhuluiya masih menyatu saat Ali Amir, 23, tahun, prajurit angkatan darat Irak, memutuskan buat menikah. Seorang anggota keluarganya kenal dengan Ikhlas menyarankan Ali mengawini dia. Dan Mei tahun lalu Ali bertamu ke rumah Ikhlas dan keduanya bersua untuk pertama kali.

Ali mengakui Ikhlas cantik dan baik. Ikhlas menilai Ali lelaki sejati. Dia menghargai keputusan Ali menunggu dirinya hingga tamat sekolah. Keduanya bertunangan beberapa hari setelah perjumpaan itu dan Ali kemudian kembali ke baraknya. Keduanya kerap berkasih mesra lewat telepon dan membahas rencana pernikahan.

Tapi sebulan kemudian ISIS merampas Mosul, kota terbesar kedua di utara negeri 1001 Malam itu. Banyak tentara Irak kabur dan ISIS terus merangsek ke selatan hingga Dhuluiya.

Di banyak wilayah komunitas Sunni di Dhuluiya, masyarakatnya amat membenci Nuri al-Maliki, pemeluk Syiah, selama memerintah dianggap bertindak diskriminatif terhadap kaum Sunni. "Jadi ketika ISIS datang, mereka membiarkan kelompok militan ini masuk karena menganggap sebagai pasukan revolusioner Sunni," kata Syalan al- Juburi, wartawan setempat.

ISIS berhasil mengibarkan bendera hitam mereka di atas kantor polisi Dhuluiya. Masyarakat mengenali sebagian dari komandan ISIS itu adalah orang-orang pernah dipenjara sebab bergabung dengan Al-Qaidah.

Seperti kebiasaan di wilayah-wilayah mereka caplok, ISIS lalu memburu serdadu-serdadu dan polisi Irak, atau orang-orang pernah bergabung dengan gerakan kebangkitan Sunni sokongan Amerika Serikat memerangi Al-Qaidah.

Hal ini membikin marah suku Jubur tinggal di sisi Tigris, bagian selatan Dhuluiya. Ketika banyak suku bergabung dengan Al-Qaidah sehabis Amerika menginvasi Irak pada 2003, suku Jubur beraliansi dengan Amerika. "Kami telah memerangi mereka sebelumnya, jadi kami tahu siapa mereka," ujar Mahir al-Juburi, penceramah di sebuah masjid ikut memimpin perlawanan terhadap jaringan dibikin Usamah Bin Ladin itu. "Ini adalah kelanjutan dari pertempuran serupa."

Pertengahan Juni tahun lalu, seorang komandan polisi memimpin serangan balasan terhadap kantor polisi. Mereka berhasil mengenyahkan pasukan ISIS dari wilayah dihuni suku Jubur. Sejak saat itu para pejuang Jubur bertempur buat mempertahakan daerah mereka agar ISIS tidak masuk lagi dengan sedikit bantuan dari Baghdad.

Di sebuah rumah mungil di tengah kebun jeruk dekat medan tempur pada suatu sore. Selusin pejuang suku Jubur beristirahat sambil membersihkan senjata mereka. Pasukan ini campuran dari polisi, serdadu, dan relawan. Beberapa menyamar dan sebagian lagi berjubah serta bersandal.

Sebuah mortir tergeletak di atas halaman berumput. Seorang pejuang tengah mengubah mesiu bekas untuk dijadikan granat buat dilempar ke arah militan ISIS.

Kalau sebagian dari musuh mereka adalah orang asing, menurut Kapten Ziad Saleh, polisi lalu lintas ikut berjuang menghadapi ISIS, pasukan suku Jubur kebanyakan warga sekitar. Beberapa pejuang Jubur pernah ditelepon dari orang-orang ISIS mereka kenal sebelumnya. Mereka menghina dan meminta suku Jubur menyerah.

"Kami tidak bisa maju karena mereka telah menanam bahan peledak di mana-mana sepanjang jalan dan rumah-rumah," tutur Saleh. Orang-orang gila dikirim buat menjinakkan bom-bom itu menjadi sasaran penembak runduk.

Pertempuran dengan ISIS menjadi masalah rumit bagi pasangan Ali dan Ikhlas. Ali mendapat izin dari komandannya untuk bertempur menghadapi ISIS di kampung halamannya. Meski jaraknya hanya beberapa kilometer dari kediaman Ikhlas, Ali tidak pernah bisa menemui sejolinya itu. Ketika kabar pertunangan mereka tersebar, jihadis ISIS mengancam Ikhlas: memutuskan ikatan itu atau dibunuh.

Saban kali menelepon Ali, Ikhlas mengutarakan kegelisahannya. "Cepat keluarkan saya dari sini," kata Ali mengutip perkataan Ikhlas.

Pasukan ISIS akhirnya mengancam membunuh keluarga Ikhlas juga jika rencana pernikahan itu tidak dibatalkan. Lalu sang ibu bareng calon mantunya menyusun rencana untuk mengeluarkan Ikhlas. Dua hari sebelum rencana itu dilaksanakan, ISIS mengirim pengebom bunuh diri. Dia menyetir Humvee berisi bahan peledak dan melaksanakan tindakannya di sebuah jalan pusat pertokoan. Insiden ini membunuh 20 orang, termasuk sepupu Ali dan sahabatnya, Salah Mijbil.

Ali masih berduka saat Ikhlas bersama ibunya menyusup keluar dari rumah. Ikhlas sengaja tidak membawa bekal pakaian agar tidak mencurigakan Keduanya mencari jalan keluar berputar buat menghindari palagan sebelum akhirnya menumpang sebuah kapal membawa mereka menyeberangi Tigris ke bagian selatan Dhuluiya. Di sana Ali menunggu di tepian sungai. "Ketika saya melihat Ali dari kejauhan, saya menyadari mimpi saya akan menjadi kenyataan," ujar Ikhlas

Ali sebenarnya sudah memesan perlengkapan kamar tidur untuk ruang pengantin di rumah keluarganya. Tapi karena tukang furnitur itu berada di wilayah dikuasai ISIS, pesanan terlambat datang. Alhasil, Ali meminjam perabot kamar pengantin kepada kerabatnya.

Beberapa hari kemudian Ali dan Ikhlas menyeberangi sungai pergi ke Kota Balad buat membeli perlengkapan pernikahan, seperti pakaian dan perhiasan. Mereka juga memesan tempat buat akad nikah di kantor urusan agama di Balad lantaran KUA di Dhuluiya telah dikuasai ISIS.

Senin, 22 September 2014, Ikhlas bergaun pengantin menyeberangi sungai menemui Ali di sebuah salon di Balad. Setelah tampil rapih keduanya melaksanakan akad nikah di KUA dan berfoto bersama di sebuah studio.

Pengantin baru ini lantas kembali ke rumah buat acara syukuran. Sebagian besar keluarga Ikhlas tidak menghadiri resepsi lantaran susah melewati medan tempur. Pesta perkawinan itu tanpa musik karena Ali masih berduka atas kematian sepupunya dimakamkan dekat rumah.

Meski serba terbatas, Ikhlas masih bersyukur. "Itu hari terindah dalam hidup saya," tuturnya. "Saya sangat senang memiliki Ali di samping saya."

Tapi Ali hampir muram sebab mesti bertempur lagi setelah empat hari menikah. "Tidak ada bulan madu. Itu bulan kesedihan, bulan peluru."

Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani. (tamimhkalthani.com)

Tebusan US$ 1 miliar dan isolasi Qatar

Sebanyak US$ 700 juta diberikan kepada Iran dan milisinya, sisanya dibyarakan kepada dua kelompok pemberontak Suriah berafiliasi dengan Al-Qaidah.

Evakuasi korban tewas dan luka akibat serangan teror di klub malam Reina, Istanbul, Turki, 1 Januari 2017. (Twitter/@emergensa24)

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

Jangan abaikan Al-Qaidah

Suriah dan Irak akan tetap menjadi palagan terpenting. Walau ISIS masih kuat untuk beberapa tahun mendatang, Al-Qaidah bakal menjadi pemenang terbesar.

Pemimpin gereja ortodhoks Siriak di Bartella, Irak, berpose bareng pasukan elite Irak membebaskan kota itu dari caplokan ISIS. (ADFA)

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR