kisah

Berkenalan dengan sang algojo

"Selama saya melaksanakan tugas dari Allah, tidak masalah berapa banyak orang saya pancung," kata Muhammad Saad al-Bisyi, algojo hukuman pancung di Arab Saudi.

23 Januari 2015 23:22

Bagi kebanyakan orang hukuman pancung sangat menggidikkan. Kengerian itu tergambar dalam rekaman video sempat muncul di Youtube sebelum dihapus ketika hukuman itu dilaksanakan Senin pekan lalu di Kota Makkah, Arab Saudi.

Hari itu, Laila binti Abdul Muttalib Basim, perempuan Burma sudah menetap di Saudi, dipenggal kepalanya. Dia dinyatakan terbukti bersalah melecehkan dan membunuh putri tirinya berusia tujuh tahun.

Namun pelaksanaan eksekusi benar-benar seram. Laila meronta-meronta dseret paksa oleh empat polisi syariah. Dia berteriak histeris, "Saya tidak membunuh. Saya tidak membunuh."

Namun sang algojo mantap melaksanakan tugasnya. Setelah tiga kali ayunan pedang, baru kepala Laila berguling-guling terpisah dari badannya.

Saudi, mengklaim memakai syariat Islam sebagai sumber hukum, menetapkan hukuman pancung bagi sejumlah kejahatan, termasuk pembunuhan, pemerkosaan, zina, dan perempokan bersenjata.

Dalam dua pekan pertama tahun ini saja, negara Dua Kota Suci ini telah memenggal tujuh orang. Pada 2014 terdapat 87 eksekusi, naik dari 78 ketimbang tahun sebelumnya.

Tapi apakah sang algojo hukuman pancung orang menakutkan dan berdarah dingin? Mari berkenalan dengan Muhammad Saad al-Bisyi. Ketika diwawancarai Arab News pada 2003, dia berusia 42 tahun dan telah menjadi algojo penggal sejak 1998.

Dia biasa memenggal hingga tujuh orang saban hari. "Tidak masalah bagi saya. Dua, empat, sepuluh, selama saya melaksanakan tugas dari Allah, tidak masalah berapa banyak orang saya pancung," kata Bisyi."

Sebelum menjadi algojo tersohor di seantero Saudi, Bisyi memulai kariernya di sebuah penjara di Kota Taif. Dia bertugas memborgol tangan dan kaki tahanan bakal dieksekusi serta menutup kedua matanya. Pengalaman inilah membuat dia sangat ingin menjadi algojo pancung.

Ketika lowongan dibuka, dia melamar dan segera diterima. Dia melaksanakan tugas pertamanya sebagai algojo pada 1998 di Kota Jeddah. "Penjahat itu diborgol dan ditutup matanya. Dengan sekali ayunan pedang, saya berhasil memisahkan kepalanya, bergelinding beberapa meter," ujarnya.

Bisyi mengakui gugup saat memenggal untuk pertama kali lantaran ditonton banyak orang. Tapi itu dulu. Sekarang dia kalem saja memisahkan kepala orang telah divonis mati karena dia yakin itu perintah Allah.

Sejatinya, Bisyi tidak ingin tahanan vonis mati sampai dipenggal. Karena itu hingga hari pelaksanaan, dia masih mengunjungi keluarga korban untuk meminta pemaafan. Jika pihak kerabat memaafkan pelaku maka hukuman pancung batal. "Saya selalu memiliki harapan itu hingga menjelang eksekusi. Saya selalu menjaga peluang itu tetap ada," tuturnya.

Dia menolak memberitahu berapa gajinya sebagai algojo. Alasannya, dia sudah terikat perjanjian dengan pemerintah buat merahasiakan upahnya. Dia cuma bilang pedang pemberian pemerintah itu harganya berkisar 20 ribu riyal atau Rp 66,3 juta.

Dia menjaga dan memelihara pedang itu. "Saya harus memastikan selalu bersih dari noda darah. Pedang ini sangat tajam," katanya. "Orang-orang kagum begitu cepatnya pedang itu memisahkan kepala dan tubuh."

Bisyi sadar betul orang bakal dieksekusi langsung lemas dan menyerah. Satu-satunya obrolan dilakukan oleh dirinya terhadap tahanan akan dipancung adalah meminta mereka bersyahadat dan berserah diri kepada Allah. "Kemudian saya membacakan perintah eksekusi dan saat ada tanda saya penggal kepalanya," ujar Bisyi.

Dia juga tanpa ragu memancung tahanan perempuan. "Meski kenyataannya saya membenci kekerasan terhadap perempuan. Kalau itu sesuai perintah Allah, saya harus melaksanakan," tuturnya.

Tidak ada perbedaan besar saat hukuman pancung dilakukan atas lelaki dan perempuan. Hanya saja perempuan mesti berjilbab dan tidak boleh ada yang mendekat saat waktu hukuman bakal dilakoni. Dia pun memberi pilihan senjata mau dipakai buat eksekusi. "Kadang mereka meminta saya memakai pedang dan kadang pistol," kata Bisyi. "Tapi kebanyakan saya menggunakan pedang."

Tapi tidak selalu tugas algojo membunuh, kadang mereka cuma memotong anggota tubuh. "(Untuk hukuman amputasi), saya memakai pisau tajam khusus ketimbang pedang," ujarnya.

Meski berprofesi sebagai algojo, Bisyi juga memiliki kehidupan seperti orang pada umumnya. Dia memiliki tujuh anak dan sudah mempunyai cucu. "Saya bisa tidur nyenyak...saya hidup normal seperti orang lain."

Dia menggambarkan dirinya sebagai penyayang keluarga. Dia menikah setelah menjalani profesi itu dan istrinya tidak menolak. "Saya memperlakukan keluarga saya dengan kebaikan dan kasih sayang. Mereka tidak takut ketika saya pulang habis eksekusi," katanya. "Kadang mereka membantu saya membersihkan pedang."

Sebagai algojo senior, dia dipercaya melatih calon-calon algojo, termasuk putranya, Musaid. Latihan dipusatkan pada cara memegang, menebas, dan titik mana mesti dipenggal. Calon algojo juga harus sering melihat langsung pelaksanaan hukuman pancung. "Saya berhasil melatih putra saya Musaid sebagai algojo. Dia telah disetujui dan dipilih."

Ulama Syiah berpengaruh asal Irak Muqtada Sadr bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Kota Jeddah, Arab Saudi, 30 Juli 2017. (Supplied)

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

Gadis-gadis Timur Tengah. (Twitter)

Mencari cinta di negara Kabah

Bagi muda-mudi di Arab Saudi, Snapchat menjadi patokan keseriusan dalam menjalin hubungan.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR