kisah

Menjadi orang Indonesia keturunan Yahudi

Mereka mendirikan organisasi bernama United Indonesian Jewish Community.

30 Januari 2015 13:35

Yobbi Ensel sengaja memperdengarkan rekaman orang Yahudi di Israel membacakan kitab Torah (Taurat dalam bahasa Arab). Suaranya mirip orang mengaji. “Tetangga-tetangga muslim senang mendengarkan ini,” katanya dengan logat Manado kental kepada Albalad.co pada Oktober 2011 di rumah seorang keturunan Yahudi di kawasan Bekasi, Jawa Barat.

Lelaki 37 tahun ini adalah pemimpin komunitas Yahudi di Manado beranggotakan 30 orang dewasa. Berbeda dengan orang-orang Indonesia keturunan Yahudi lainnya menutup identitas asli mereka, Yobbi malah terbuka. “Lingkungan dekat rumah saya tahu saya ini berdarah Yahudi.”

Mungkin saja dia berani karena situasi di Manado didominasi non-muslim kondusif. Di sana sudah berdiri sebuah sinagoge. Bahkan pemerintah daerah setempat juga membangun sebuah menorah terbesar di dunia untuk menarik wisatawan asing. Informasi beredar pun menyebutkan bendera Israel bertebaran.

Yobbi mendapat darah Yahudi dari ayahnya (Jonathan Hatti Ensel) dan ibunya (Yureine Andasia). Mereka adalah Yahudi Portugis. Namun karena situasi tidak memungkinkan, sejak kecil dia diajarkan agama Nasrani.

Ayah dua anak ini baru sadar dia keturunan Yahudi. Karena itu, dia mulai belajar dan mempraktekkan ajaran Yudaisme. Ketika ayah dan kakeknya meninggal, keduanya dikuburkan dengan prosesi agama Yahudi. “Tidak ada kebanggaan, saya lebih suka menjadi non-Yahudi (goyim). Karena menjadi Yahudi itu tanggung jawabnya besar," ujarnya.

Lain halnya dengan Benjamin Verbrugge, Ketua the United Indonesian Jewish Community (UIJC). Ayah lima anak ini menutup rapat-rapat identitasnya sebagai keturunan Yahudi. Pedagang kopi ini berayahkan seorang jaksa muslim (Agus Sudarsono) dan ibu seorang Yahudi Belgia.

Dia hidup bebas tanpa ajaran agama, bahkan tidak pernah salat. Dia mengaku pernah diajarkan mengaji tapi sekarang sudah lupa. Ayahnya menganut Islam kejawen. “Saya hanya sering melihat dia salat zuhur dan isya. Ibu saya paling-paling hanya dua kali setahun ke gereja,” tuturnya. Ibunya sangat sekuler. Dia cuma datang untuk kumpul-kumpul, seperti pada perayaan Natal.

Pria 40 tahun ini mulai diberitahu oleh kakek dari ibunya (Benjamin Meiers Verbrugge) soal identitas rahasia mereka saat dia berusia lima tahun. “Saya adalah orang Jerman turunan Yahudi. Kamu bisa lihat dari hidung saya,” kata Verbrugge menirukan ucapan opanya itu. Ketika itu mereka sedang merayakan Natal. Umur 14 tahun, dia pun disunat sesuai ajaran Yahudi.

Sejak 2003 Verbrugge mulai serius mendalami agama Yahudi, termasuk mengikuti berbagai seminar membahas Torah. Hanya saja dia mengaku masih sulit menjadi seorang Yahudi religius.

Bersama Yokhanan Eliahu, pria keturunan Yahudi Turki menetap di Kudus, Jawa Tengah, Verbrugge mendirikan UIJC diresmikan Oktober 2010. Dia memperkirakan ada hampir dua ribu orang Indonesia keturunan Yahudi tersebar merata di seluruh tanah air.

Dia mengaku amat senang dengan sudah terbinanya hubungan ekonomi antara Indonesia dan Israel. Alhasil, mereka bisa membeli perlengkapan beribadah langsung dari negara Zionis itu.  “Diberikatilah kantor pos, agen kurir, sampai bea cukai meloloskan barang-barang itu tanpa biaya,” ujarnya.

Yokhanan Eliahu mendapat darah Yahudi dari bapaknya keturunan Turki. Sejak 2005 dia mulai mempelajari ajaran Yudaisme melalui Internet. “Saya merasa sreg dengan Yudaisme. Akar dari Nasrani adalah Yudaisme,” tutur pria 39 tahun ini.

Sedangkan Marlina Van der Stoop Pardede, 60 tahun, memeluk Yudaisme lantaran menikah dengan lelaki Belanda keturunan Yahudi. Dialah mendanai pendirian sinagoge di Manado, namun dia menolak membuka berapa fulus digelontorkan untuk itu. Dia mulai tertarik agama Yahudi setelah suaminya mendapat wangsit untuk mendirikan sebuah sinagoge di Indonesia bagian timur. “Saya merasa tenang dan dekat dengan Tuhan setelah mendalami Yudaisme,” katanya.

Orang Yahudi sembahyang tiga kali sehari, yakni sakharit (pagi), minkha (petang), dan maariv (malam). Perlengkapan sembahyangnya berupa tallit (syal), tallit khotan (kaus dalam berwarna putih), dan kippa (peci). Selama bersembahyang mereka membaca 18 ayat.

Tiap bayi baru lahir dibacakan syahadat ala Yahudi di telinga kiri. Bunyinya: “Shema Yisrael, adonai eloheinu adonai ehad” (Dengarkanlah Israel, Tuhan kita adalah Tuhan satu).

Sang bayi tidak boleh menginjak tanah hingga usia tujuh bulan. Jika sudah sampai umur itu, ada upacara di mana dua kaki bayi diletakkan di atas Torah sebelum menginjak tanah. Torah itu lantas diperlihatkan kepada sang bayi. Seperti Islam, lelaki Yahudi juga wajib disunat. Mereka juga harus makan dan minum halal (kosher).

Komnunitas Yahudi di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak lama. Profesor Rotem Kowner dari Universitas Haifa, Israel, mengungkapkan orang Yahudi pertama bermukim di Indonesia adalah seorang saudagar dari Fustat, Mesir. “Dia meninggal di Pelabuhan Barus, barat daya Sumatera, pada 1290,” ujarnya kepada Albalad.co tahun lalu. Sejak 2003 Kowner sudah meneliti sejarah komunitas Yahudi di Indonesia.

Dia bahkan yakin orang-orang Yahudi sudah memeluk agama Nasrani juga ikut dalam rombongan kapal Portugis mendarat di Nusantara pada awal abad ke-16. Orang-orang Yahudi ini menetap di sekitar Selat Malaka, pantai utara Sumatera, dan Pulau Jawa.

Peta penyebaran orang Yahudi di seluruh dunia. (the Economist)

Kebangkitan Yudaisme

Sebanyak 81 persen dari 13.580.000 orang yahudi di seluruh dunia tinggal di Israel dan Amerika Serikat.

Prasasti soal Kerajaan Himyar di Bir Hima, Arab Saudi. (You Tube)

Kerajaan Yahudi di tanah suci

Arab Saudi dulunya masuk wilayah Himyar, kerajaan Yahudi.

Mariam Halabi di sebuah klinik di Kota Istanbul, Turki, bersama Moti Kahana, pengusaha membantu dia sekeluarga keluar dari Aleppo, Suriah. (Moti Kahana  buat Albalad.co)

Yahudi buncit dari Aleppo

"Saya tidak hanya menolong orang Yahudi. Saya sudah menyumbang US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta buat rakyat Suriah," kata Moti Kahana.

Karl Marx, pencipta paham komunis, juga orang Yahudi. (Wikimedia)

Seencer otak Yahudi

Sejak abad pertama, seluruh anak lelaki Yahudi wajib disekolahkan paling lambat umur enam tahun.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR