kisah

Lima halaman Quran Muaz

"Dia mengingatkan saya untuk selalu salat dan dia bilang dia sudah salat dua rakaat buat para syuhada."

06 Februari 2015 08:06

Rabu dini hari, sehari menjelang Natal tahun lalu. Muaz al-Kasasbih bareng istrinya, Anwar Taraunih, terjaga dari tidur mereka. Keduanya lantas melaksanakan salat tahajud dilanjut subuh bersama.

Hari itu Muaz bakal ditugskan lagi menggempur sasaran kelompok ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Dia meyakinkan istrinya dia bakal pulang selamat.

Keduanya biasa mengaji bersama. "Muaz dan istrinya biasa membaca sepuluh halaman Al-Quran saban hari," kata Hasan Kasasbih, sepupu sekaligus teman dari pilot berusia 26 tahun itu. "Subuh itu dia cuma membaca lima halaman, dia berjanji kepada istrinya mereka akan mengaji lagi sisanya sepulang dia bertugas."

Rupanya itulah lima halaman Quran terakhir dibaca Muaz. Beberapa jam kemudian ISIS menangkap Muaz di Kota Raqqah, Suriah, setelah jet tempur F-16nya jatuh. Mulai saat itu pula Anwar dan keluarga besar menanti dalam ketidakpastian.

Hingga akhirnya pekan ini kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu melansir rekaman video mengerikan: Muaz dibakar hidup-hidup dalam sebuah kandang. Menurut sejumlah pejabat Yordania, eksekusi itu berlangsung 3 Januari lalu.

Yordania tadinya menawarkan pembebasan Muaz ditukar dengan Sajidah Risyawi, anggota Al-Qaidah telah divonis mati dalam kasus bom bunuh diri pada 2005 di sebuah hotel di Ibu Kota Amman, Yordania. Dia gagal meledakkan bom melilit tubuhnya, sedangkan suaminya berhasil melaksanakan misi menewaskan 57 orang itu.

Tapi ISIS menuntut pelepasan Sajidah sebagai syarat untuk membebaskan wartawan Jepang Kenji Goto, akhirnya disembelih pekan lalu.

Kabar menyedihkan itu pun tiba di telinga Anwar Rabu lalu ketika dia tengah ikut protes duduk di sebuah universitas di Amman. Para pengunjuk rasa menyokong upaya pemerintah Yordania berunding buat menyelamatkan Muaz.

Ibunya menelepon sambil menangis memberitahu Muaz telah dibunuh. Anwar tidak percaya dengan cerita ibunya, apalagi dia mendengar suara cekcok dua saudara kandungnya. "Saya baru percaya ketika membuka Facebook di telepon seluler saya dan melihat kabar, 'Telah wafat Muaz,'" katanya. Suaranya parau menahan emosi.

Dia masih belum melihat video ISIS membakar suaminya dalam sebuah kandang. Dia langsung pingsan setelah mengetahui berita itu dan dibawa ke rumah sakit.

Mendiang suaminya sekarang menjadi pahlawan di Yordania. Tapi Muaz sudah merasakan kejadian buruk bakal menimpa dirinya. "Dia berharap bakal ada kabut, jadi dia tidak harus terbang," kata Anwar, tengah duduk di rumah keluarga suaminya di Kota Karak, kepada surat kabar the Independent.

Bersetelan jubah denim selutut dan berkerudung, Anwar sulit sekali menahan air matanya. "Dia sudah merasakan hal buruk akan terjadi. Itu aneh. Dia tidak pernah bilang seperti itu sebelumnya."

Muaz selalu terburu-buru, bersemangat ke sekolah dan menaikkan taraf hidupnya. "Dia sepertinya tahu hidupnya bakal pendek," ujar seorang kerabatnya. Dia usia 26 tahun dia sudah mampu membeli sebuah lahan pertanian.

Ayahnya, Saif, sebenarnya ingin Muaz menjadi dokter dan melanjutkan kuliah ke Ibu Kota Moskow, Rusia. Dia tidak pernah bisa menerima pilihan karier Muaz menjadi tentara.

Tapi Muaz ingin bergabung dengan angkatan udara. Dia benar-benar bangga telah menjadi pilot. "Dia menjalani kehidupannya seperti sebuah F-16," ucap seorang sepupunya.

Dia menikah Juli tahun lalu, terlalu muda kata neneknya. Perjodohan itu diatur oleh kakak sulungnya, Jawad, berteman dengan abangnya Anwar. Keduanya bekerja sebagai insinyur di sebuah pangkalan udara.

Senyum pun mengembang di sela tangis waktu Anwar mengingat perjodohan itu. "Saya mestinya tidak dengan Muaz tapi dengan kakaknya," tuturnya. "Ketika dia datang untuk melihat seperti apa saya, saya tidak di rumah. Dia kemudian bertemu gadis lain."

"Tapi keluarga sudah cocok dan saudara-saudara kandung perempuan Muaz mendorong perjodohan itu," katanya. "Jadilah Muaz menikah dengan saya."

Sorot matanya memancarkan kebahagiaan saat bercerita tentang pernikahan mereka. Dia menunjukkan gaun pengantin putih dan foto-foto bulan madu mereka di Istanbul, Turki. "Itulah kenangan terindah saya bersama dia."

Mereka bahkan sudah memilih nama buat calon anak. "Dia ingin Abu Karam, jadi Karam akan menjadi nama anak lelaki pertama kami," ujar Anwar. Muaz memberi dia kebebasan jika lahir anak perempuan. "Saya ingin memberi nama Lia."

Setelah menikah, keduanya tinggal di sebuah flat dekat Karak sehingga tidak jauh dari keluarga besar. Lima hari sepekan Muaz bertugas di pangkalan udara. Ketika Yordania ikut dalam pasukan koalisi anti-ISIS, Muaz mulai ditugaskan menyerang Suriah.

Sejumlah anggota keluarga kesal dengan penugasan Muaz ke palagan. "Anda mengirim dia ke sana dan sekarang Anda datang untuk bertakziah," teriak Tasnim (22 tahun), adik perempuan Muaz, saat jet-jet tempur terbang rendah selama kedatangan Raja Abdullah dan Ratu Rania untuk menyampaikan belasungkawa. "Balas kematiannya," teriaknya berulang-ulang.

Issaf, ibu dari Muaz, benar-benar syok. "Dia selalu membawa Quran dalam hatinya dan tidak pernah meninggalkan salat," tuturnya.

Terakhir kali Anwar berbicara dengan suaminya tentang salat. "Dia mengingatkan saya untuk selalu salat dan dia bilang dia sudah salat dua rakaat buat para syuhada."

Rupanya, di Rabu dini hari tahun lalu itulah Muaz mulai melangkah menuju jalan syahid.

Evakuasi korban tewas dan luka akibat serangan teror di klub malam Reina, Istanbul, Turki, 1 Januari 2017. (Twitter/@emergensa24)

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

Pemimpin gereja ortodhoks Siriak di Bartella, Irak, berpose bareng pasukan elite Irak membebaskan kota itu dari caplokan ISIS. (ADFA)

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.

Seorang jihadis ISIS merobohkan salib di sebuah gereja di Kota Mosul, Irak, pada 2014. (The Assyrian International News Agency)

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.

Abu Abdullah, perancang serangan bunuh diri ISIS di Ibu Kota Baghdad, Irak. (Sam Tarling untuk the Guardian)

Perancang ledakan Baghdad

"Yang saya lakukan ini jihad karena saya membunuh orang-orang Syiah," Abu Abdullah menegaskan. "Mereka itu kafir dan saya yakin itu."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR