kisah

Stempel Saudi dalam Teror 11/9

Para pangeran dan ulama tersohor dari Arab Saudi menjadi penyumbang dana utama bagi Al-Qaidah di akhir 1990-an.

09 Februari 2015 07:03

Rahasia lama kerap ditutupi itu dikorek lagi: Arab Saudi terlibat dalam serangan 11 September 2001.

Adalah Zacharias Moussaoui, salah satu narapidana dalam kasus ini, menyebut negeri Dua Kota Suci itu merupakan penyumbang utama bagi jaringan Al-Qaidah di akhir 1990-an. Lelaki kelahiran Prancis ini divonis seumur hidup.

Dia memberikan kesaksian menghebohkan itu dari tempat dia mendekam, penjara superketat di Kota Florence, Negara Bagian Colorado, Amerika Serikat, kepada tim pengacara keluarga korban Teror 11/9.

Moussaoui tahun lalu menyurati Hakim George B. Daniels bertugas di Pengadilan New York. Dia memimpin sidang gugatan kepada Arab Saudi diajukan keluarga korban tewas dalam serangan 11 September 2001. Dalam suratnya, Moussaoui bilang ingin bersaksi dalam kasus itu. Setelah perundingan panjang dengan para pejabat Departemen Kehakiman dan Biro Penjara Federal, tim pengacara diberi izin dua hari Oktober tahun lalu buat meminta keterangan dari Moussaoui.

Kesaksian pria 46 tahun ini diajukan Senin pekan lalu ke Pengadilan Federal di Manhattan, New York, untuk memperkuat gugatan terhadap Saudi.

Sejatinya, sudah lama ada bukti kaum tajir Saudi mendukung Usamah Bin Ladin dan organisasi bikinannya, Al-Qaidah, sebelum serangan 11 September 2001 terjadi. Bekerja sama dengan Amerika, Saudi mendanai kelompok-kelompok Islam militan, kemudian menjadi Al-Qaidah, memerangi pasukan Uni Soviet di Afghanistan pada 1980-an.

Namun kesaksian Moussaoui, bila dinilai layak, memberikan temuan-temuan baru di balik apa yang terjadi sebelum Teror 11/9. Menurut tim kuasa hukum, Moussaoui terlihat kalem dan memberi keterangan masuk akal.  "Kesan saya dia benar-benar ingat, memusatkan perhatian, dan bijaksana," kata Sean P. Carter, pengacara dari Philadelphia, bersama Cozen O'Conor mengunjungi Moussaoui di penjara buat meminta kesaksian.

Moussaoui dibekuk pihak imigrasi di Minnesota beberapa pekan sebelum terjadi Teror 11/9. Di awal 2001 dia dikasih fulus US$ 14 ribu oleh sel Al-Qaidah di Jerman untuk belajar menerbangkan pesawat. Ini menjadi bukti dia bakal dipersiapkan menjadi salah satu pembajak.

Dalam kesaksiannya di penjara, Moussaoui bilang para pentolan Al-Qaidah di Afghanistan pada 1998 atau 1999 meminta dia membikin pusat data berisi siapa saja penyumbang bagi kelompok itu. Dia masih ingat dalam daftar itu ada nama Pangeran Turki al-Faisal, kemudian menjadi kepala intelijen Saudi; Pangeran Bandar bin Sultan, duta besar Saudi buat Amerika, konglomerat Saudi Pangeran Al-Walid bin Talal; dan para ulama tersohor negara itu.

"Syekh Usamah ingin menyimpan sebuah catatan siapa saja donaturnya mesti didengar dan siapa menyumbang buat jihad," ujar Moussaoui dalam bahasa Inggris kurang bagus.

Dia mengaku bertindak sebagai kurir Bin Ladin. Tugasnya membawa pesan-pesan pribadi Bin Ladin kepada para pangeran dan ulama terkemuka Saudi.

Dia mengungkapkan pernah diterbangkan ke Saudi dengan jet pribadi untuk membawa sepucuk surat dari Bin Ladin. Dia bertemu Pangeran Turki dan Pangeran Bandar. Dia kemudian menerima dua surat dari Pangeran Turki.

"Syekh Usamah meminta saya memberikan surat itu kepada mereka dan saya menerima sejumlah surat balasan. Saya yakin dua surat," tuturnya. "Saya percaya dia (Pangeran Turki) memberi saya dua surat buat Syekh Usamah bin Ladin."

Lelaki pernah mengikuti pelatihan di kamp militer Al-Qaidah di Afghanistan ini juga mengklaim terlibat dalam beberapa rencana serangan teror dalam skala besar. Dia mengaku ikut dalam latihan buat persiapan menyerang Kedutaan Besar Amerika di Ibu Kota London, Inggris, menggunakan bom truk berisi 750 kilogram bahan peledak. Menurut dia, cara itu pula dipakai Al-Qaidah saat menyerbu Kedutaan Besar Amerika pada 1998 di Kenya dan Tanzania.

Moussaoui mengatakan Al-Qaidah berencana membunuh Presiden Bill Clinton atau istrinya, Hillary Clinton, saat berkunjung ke Saudi. Rencana ini dibikin buat membalas serangan peluru kendali Amerika terhadap basis-basis Al-Qaidah.

"Kami juga membahas kemungkinan menembak jatuh Air Force One (pesawat kepresidenan Amerika)," kata Moussaoui. Dia membicarakan gagasan ini dengan seorang pejabat dari Departemen Urusan Islam Kedutaan Saudi di Washington saat dia berkunjung ke Kandahar, Afghanistan.

"Saya mestinya pergi ke Washington bareng dia buat mencari lokasi pas untuk menembakkan Stinger dan kemudian kabur,' ujarnya. Tapi dia keburu ditangkap sebelum melaksanakan misi pengintaian ini.

Lewat pernyataan tertulis, Kedutaan Besar Saudi di Ibu Kota Washington D.C., Amerika, menolak tudingan pemerintah atau sejumlah pejabat Saudi mendanai Al-Qaidah. "Moussaoui itu penjahat gila dan para pengcaranya telah menyampaikan bukti dia sakit jiwa," kata pihak kedutaan Senin malam lalu. "Ucapan-ucapannya tidak bisa dipertanggungjawabkan."

Saat memberi kesaksian dalam sebuah sidang pada 2006, seorang ahli kejiwaan menyimpulkan Moussaoui sakit jiwa, namun dia masih bisa diadili atas dakwaan terorisme. Moussaoui akhirnya divonis penjara seumur hidup dan ditahan di penjara superketat di Kota Florence, Colorado.

Ketika diadili di tahun itu, Moussaoui kadang bertindak aneh. Dia pernah mencoba memecat tim kuasa hukumnya lantaran menyampaikan bukti dia menderita sakit mental parah. Tapi Hakim Leonie M. Brinkema mempimpin sidang menyatakan benar-benar puas atas keterangan Moussaoui.

Dia bilang Moussaoui amat layak diadili dalam kasus terorisme dan menyebut dia benar-benar cerdas. "Dia sebenarnya memiliki pemahaman lebih baik soal sistem hukum ketimbang sejumlah pengacaranya pernah saya lihat dalam sidang," ujar Brinkema.

Kredibilitas Moussaoui juga dipertanyakan saat Bin Ladin pada 2006 melansir sebuah rekaman audio. Dia menyebut Moussaoui tidak terkait serangan 11 September 2001.

Namun tim pengacara keluarga korban, berusaha menggugat Saudi sejak 2022, meyakini kesaksian Moussaoui dapat menggagalkan upaya Saudi menutup kasus itu. "Kesaksian Moussaoui penting karena dia anggota Al-Qaidah bisa menguatkan apa yang kami bilang soal keterlibatan Saudi dari dalam," tutur James Kreindler, anggota tim pengacara keluarga korban, kepada surat kabar the Telegraph. "Dia mengurus wisma tamu di Afghanistan tempat menginap para pangeran Saudi kalau datang dan mereka membayari rumah Bin Ladin."

Bin Ladin pernah memiliki hubungan rumit dan kelam dengan keluarga Kerajaan Saudi. Dia bertugas sebagai penghubung untuk dinas intelijen Saudi selama perang menghadapi Uni Soviet di Afghanistan pada 1980-an. "Kami menyukai dia. Dia orang kami. Dia melakukan segala yang kami minta," kata seorang mantan pejabat senior intelijen Saudi kepada Steve Coll, penulis buku Ghost Wars.

Dalam bundel dokumen setebal lebih dari seratus halaman diajukan tim kuasa hukum keluarga korban Teror 11/9 itu juga terdapat kesaksian dari tiga pejabat: mantan Senator Bob Graham dari Florida, bekas Senator Bob Kerrey asal Nebraska, dan John Lehman, pernah menjadi sekretaris angkatan laut. Ketiganya berpendapat perlu ada penyelidikan lebih lanjut mengenai keterlibatan Arab Saudi dalam rencana serangan 11 September 2001.

Graham tadinya ketua komite investigasi gabungan Kongres untuk Teror 11/9, sedangkan Kerrey dan Lehman pernah menjadi anggota Komisi 11/9. "Saya percaya ada keterkaitan langsung antara sejumlah teroris melancarkan serangan 11/9 dengan pemerintah Arab Saudi," tulis Graham. Dia sudah lama meminta 28 halaman dari sebuah laporan komite investigasi Kongres atas Teror 11/9 dirilis.

Selama lebih dari satu dasawarsa, pemerintahan George Walker Bush kemudian Obama menyensor 28 halaman dari keseluruhan laporan dilansir setahun setelah Teror 11/9. Sebanyak 28 halaman dalam laporan ini membahas soal keterlibatan Saudi dalam serangan itu. Saudi selalu membantah terlibat dalam terorisme. Tapi ingat, Bin Ladin adalah warga Saudi dan pernah bertemu secara tertutup dengan Pangeran Turki pada 1990-an di Pakistan. Sebanyak 15 dari 19 pembajak dalam Teror 11/9 juga warga negara Saudi.

Beberapa bulan setelah Amerika menggempur Afghanistan sehabis serangan 11 September 2001, sebuah rapat rahasia di Pentagon (Departemen Pertahanan Amerika) menyimpulkan Arab Saudi adalah "poros setan" di Timur Tengah dan selalu terlibat dalam tiap tingkat jaringan teroris.

Tim kuasa hukum keluarga korban Teror 11/9 sangat yakin soal keterlibatan Saudi itu. Sebab itu, mereka berharap bisa menanyai lagi Moussaoui di penjara. "Kami percaya dia mempunyai lebih banyak rahasia lagi untuk dikatakan," kata Sean P. Carter, pengacara keluarga korban.

Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani. (tamimhkalthani.com)

Tebusan US$ 1 miliar dan isolasi Qatar

Sebanyak US$ 700 juta diberikan kepada Iran dan milisinya, sisanya dibyarakan kepada dua kelompok pemberontak Suriah berafiliasi dengan Al-Qaidah.

Pendiri Al-Qaidah, Usamah Bin Ladin, bareng putranya, Hamzah Bin Ladin. (YouTube)

Mengintip hubungan Bin Ladin dengan Qatar

Qatar dituding mendanai kelompok-kelompok teroris.

Robert O'Neill, anggota pasukan elite asal Amerika Serikat SEAL, mengaku menembak mati pendiri jaringan Al-Qaidah Usamah Bin Ladin dalam penyerbuan di Kota Abbottabad, Pakistan, awal Mei 2011. (Instagram)

Prajurit SEAL klaim belah wajah Bin Ladin pakai satu peluru

Robert O'Neill adalah serdadu marinir Amerika menewaskan Usamah Bin Ladin.

Hamzah Bin Ladin, putra dari mendiang pendiri Al-Qaidah Usamah Bin Ladin. (Al-Arabiya)

Putra Bin Ladin dilarang masuk ke Mesir

Hamzah Bin Ladin tiba di Kairo dalam penerbangan dari Doha.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR