kisah

Dua pilot, satu kota, dua cerita

Kalau Muaz Kasasbih dibakar hidup-hidup oleh ISIS, pilot bernama Ahmad Majali malah tewas tahun lalu saat bertempur buat kelompok radikal ini.

13 Februari 2015 17:53

Muaz al-Kasasbih, pilot Yordania dibakar hingga tewas oleh ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dalam sebuah kandang, mengorbankankan hidupnya buat melindungi kampung halamannya di Karak.

Namun banyak penduduk di kota tepi gurun berjarak hampir 145 kilometer sebelah selatan Ibu Kota Amman itu memilih menyokong pembunuh Muaz. Ketika Saif Kasasbih menyerukan serangan balasan atas kematian putranya ini, beberapa kilometer dari kediaman keluarga Muaz, Jawad Majali bilang kakak lelakinya - juga pernah menjadi pilot - membelot bergabung dengan ISIS.

"Dia tahu ISIS berada di pihak benar. Dia tahu mereka akan melindungi kami," kata Jawad, 19 tahun, menceritakan kekaknya, Ahmad, terbunuh tahun lalu setelah menjadi jihadis ISIS di Suriah. Jawad pun ingin mengikut jejak abangnya itu. "Musuh-musuh ISIS ketakutan lantaran mereka melihat ISIS menerapkan sistem benar."

Dua pilot berbeda kisah itu, Muaz Kasasbih dan Ahmad Majali, menggambarkan berbahayanya posisi politik dan keamanan dihadapi Yordania sekarang.

Kerajaan bani Hasyim ini mesti mampu menyeimbangkan antara keikutsertaannya dalam pasukan koalisi anti-ISIS dan upaya menangani kian banyaknya jumlah ekstremis Sunni dalam wilayah mereka. Awalnya, negara ini kelihatan stabil dan hanya mengalami sedikit guncangan dari konflik bersenjata di Timur Tengah, khususnya perang saudara di Suriah.

Warga Yordania langsung menyatukan barisan setelah menyaksikan kebengisan ISIS membakar Muaz. Dalam pawai Jumat pekan lalu di Amman, mereka menghormati Muaz sebagai pahlawan dan mendukung keputusan Raja Abdullah memerangi kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu.

Berangkat dari Masjid Al-Husaini di jantung ibu kota, para pengunjuk rasa membawa poster-poster Raja Abdullah seraya meneriakkan slogan "Panjang umur Raja!" dan "Rakyat Yordania adalah satu."

Tapi data statistik berkata cerita lain. Sokongan bagi ISIS terus bertambah. Jajak pendapat terbaru menunjukkan sepuluh persen dari penduduk Yordania - sekitar setengah juta orang berusia di atas 15 tahun - tidak melihat ISIS sebagai organisasi teroris. Pemerintah berusaha keras beberapa bulan terakhir untuk memberantas para penyokong ISIS di dalam negeri. Sekadar menyatakan dukungan terhadap ISIS saja, seorang warga Yordania sudah bisa diadili dengan dakwaan mengancam keamanan nasional.

Tidak lama sehabis dibebaskan dari penjara Kamis pekan lalu, Abu Muhammad al-Maqdisi, ulama berdarah Palestina dikenal sebagai pemimpin spiritual Al-Qaidah dan anti-ISIS, tampil di sejumlah acara berita dan program televisi di Yordania. Dia bersemangat mengutuk ISIS.

Namun akar masalah pendukung ISIS di Yordania lebih dari sekadar ideologi. Faktor mendorong mereka bersimpati kepada ISIS adalah kemiskinan. Karena industri dan proyek-proyek infrastruktur hanya terpusat di Amman, kota-kota di provinsi lain tertinggal. Di tambah lagi angka pengangguran berusia awal 20-an tahun sudah 30 persen.

"Di tingkat rakyat biasa, kegagalan menciptakan korelasi antara ekonomi dan perubahan politik telah mengakibatkan banyak para pemuda merasa terpinggirkan," ujar seorang diplomat Barat kepada surat kabar the Telegraph.

Dia menjelaskan kota-kota seperti Karak, Zarqa - kampung halaman Abu Musab al-Zarqawi, pendiri ISIS - Irbid, dan Maan adalah tempat-tempat subur buat melahirkan ekstremisme dan perekrutan oleh kelompok-kelompok radikal seperti Jabhat Nusrah dan ISIS.

Jawad Majali dan temannya adalah contohnya. Selama diwawancarai keduanya mengisap sebatang rokok berlanjut dengan menenggak minuman beralkohol, dua kegiatan bisa dikenai hukuman cambuk bagi pelakunya bia berada di wilayah kekuasaan ISIS.

"Bila saya melihat seorang gadis cantik dan saya sedang mabuk, saya mungkin bakal melakukan hal buruk," tutur rekannya Jawad ini seraya berdiri terhuyung-huyung di jalan petang itu. Bau alkohol begitu kuat tercium dari napasnya. "Saya ingin seorang pemimpin negara ini bisa menghentikan saya dari kebiasaan mabuk-mabukan."

Jawad mengklaim tiga perempat dari kaum lelaki di lingkungannya mendukung ISIS. "Mereka menggunakan lagu-lagu religius ISIS buat nada dering telepon seluler mereka," katanya.

Jawad dan temannya marah dengan pengakuan Yordania kepada mendiang Muaz sebagai syuhada. "Pilot ketika bertugas ke Suriah bukan melempar bunga ke arah ISIS. Dia membombardir rumah-rumah mereka," ujarnya.

Menurut Jawad, saudara kandungnya, Ahmad Majali, memang anak bandel. Dia selalu berbuat onar dan sejak usia muda sudah tertarik dengan gagasan Zarqawi. "Orang tua saya memaksa dia masuk militer karena diyakini dia akan kalem dan disiplin, tapi dia malah bergabung dengan ISIS," tuturnya.

Dia tidak mempercayai berita-berita menyebutkan ISIS membantai kaum lelaki dan memperbudak perempuan dari etnik minoritas Yazidi di Irak (seperti diungkapkan dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa), atau penyiksaan-penyiksaan dilakoni kelompok itu. "Musuh-musuh ISIS ingin merusak reputasi ISIS. Saya memiliki sepupu di sana (Kota Raqqah, Suriah) dan berkomunikasi dengan dia melalui Facebook," kata Jawad. "Dia bilang kepada saya di sana berlaku hukum Islam. Jika Anda mencuri mereka akan memotong tangan Anda. Itu adil."

Dia pun tidak menolak penerapan rajam sampai mati bagi perempuan telah menikah berzina. Menurut dia, hukuman itu justru untuk menolong pelaku. "Saya sudah menonton sebuah rekaman video pelaksanaan rajam. Ketika mereka melempari perempuan dengan batu, mereka menjelaskan sanksi ini untuk membersihkan dosa dia," ujarnya. "Mereka bilang kepada dia tengah menolong untuk mengirim dia ke surga."

Jawad ingin ISIS menguasai Yordania karena teman-temannya di ISIS menjanjikan tidak akan ada banyak orang terbunuh. Alasannya, Yordania adalah negara Sunni sehingga tidak bakal muncul konflik sektarian.

Tapi untuk saat ini simpatisan ISIS di Yordania memilih diam, melihat, dan menunggu. "Jika ibu saya tidak begitu terluka atas kematian abang saya dan saya harus tinggal buat mengurus dia, saya mungkin akan ke Suriah besok," kata Jawad.

Evakuasi korban tewas dan luka akibat serangan teror di klub malam Reina, Istanbul, Turki, 1 Januari 2017. (Twitter/@emergensa24)

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

Pemimpin gereja ortodhoks Siriak di Bartella, Irak, berpose bareng pasukan elite Irak membebaskan kota itu dari caplokan ISIS. (ADFA)

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.

Seorang jihadis ISIS merobohkan salib di sebuah gereja di Kota Mosul, Irak, pada 2014. (The Assyrian International News Agency)

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.

Abu Abdullah, perancang serangan bunuh diri ISIS di Ibu Kota Baghdad, Irak. (Sam Tarling untuk the Guardian)

Perancang ledakan Baghdad

"Yang saya lakukan ini jihad karena saya membunuh orang-orang Syiah," Abu Abdullah menegaskan. "Mereka itu kafir dan saya yakin itu."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR