kisah

Sepenggal kisah seorang gay di negeri Yahudi

Kaum homo Yahudi dan Arab pun ikut bermusuhan.

18 Februari 2015 22:44

Malam kian gelap saat Ruru, 23 tahun, mulai menjalani rutinitasnya sebagai pelacur. Dia mulai pamer diri di tepi sebuah jalan dekat terminal bus lama di Ibu Kota Tel Aviv, Israel.

Pekerjaan haram itu sudah dia geluti sejak berusia 12 tahun setelah diusir dari kediaman orang tuanya, sebuah desa berpenduduk mayoritas Arab di wilayah tengah Israel. Sebab dia ketahuan menyukai sesama jenis. “Dari saya belia, saya tahu saya ini gay. Tapi saya takut membicarakan soal itu,” kata Ruru kepada surat kabar Haaretz.

Dia lantas pergi ke Tel Aviv dan mencari kerja di wilayah kini menjadi tempat mangkalnya. Dia menjadi pelacur sehabis berkenalan dengan seorang gay Palestina lari dari rumahnya lantaran dituduh berkhianat. Malam itu pun, dia diajari cara mencari uang banyak dalam waktu singkat.

Rata-rata penghasilan para gay bekerja sejak matahari mulai rebah hingga tengah malam Rp 1,8 juta. Bahkan, kalau sedang kebanjiran pelanggan bisa mencapai Rp 3 juta. “Dengan fulus itu, saya membeli makanan, rokok, dan vodka,” ujar Ruru. Baru dua tahun, dia mulai mencicipi obat bius, namun tidak lama. Dia sekarang rutin mengisap ganja dan minuman keras agar bisa tidur nyenyak di pinggir jalan.

Seperti orang normal lainnya, meski sama-sama gay, kaum homo Arab dan Yahudi saling bermusuhan. Karena itulah, pada usia 18 tahun Ruru pernah mendekam di Penjara Ofek lantaran menusuk seorang gay Israel 26 kali. Kejadian itu berlangsung dalam sebuah klub khusus kaum homo seksual.

Dia dilempari batu lantaran berbicara dalam bahasa Arab. Lalu seseorang mendorong dia sambil mengatai dia orang Arab busuk. Saking emosinya, Ruru mencabut pisau dan menusuk orang itu hingga menemui ajal. Di penjara dia juga melukai seorang tahanan. Alhasil, masa kurungannya ditambah. Dia baru bebas empat tahun lalu.

“Menusuk atau ditusuk,” kata Ruru menjelaskan hukum berlaku di jalanan. Sebab itu, dia selalu membawa pisau dan bukan sekadar perlengkapan bersolek dalam ransel kecilnya.

Ruru pun sadar tidak ada pihak benar-benar memperhatikan nasib orang seperti dia. “Siapa saja tidur enak di rumah lupa terhadap orang-orang terlelap di jalan,” ujarnya.

Rabbi Avraham Sinai bersama putranya, Amos Sinai, pada Mei 2016 berdiri memandang ke arah Libanon dari wilayah perbatasan di Israel. (Channel 2)

Rabbi pengkhianat Partai Tuhan

Selama sepuluh tahun, Ibrahim Yasin bergabung dengan Hizbullah sekaligus menjadi informan Israel. Sejak 1997, dia dan keluarganya pindah ke Israel.

Prasasti soal Kerajaan Himyar di Bir Hima, Arab Saudi. (You Tube)

Kerajaan Yahudi di tanah suci

Arab Saudi dulunya masuk wilayah Himyar, kerajaan Yahudi.

Mariam Halabi di sebuah klinik di Kota Istanbul, Turki, bersama Moti Kahana, pengusaha membantu dia sekeluarga keluar dari Aleppo, Suriah. (Moti Kahana  buat Albalad.co)

Yahudi buncit dari Aleppo

"Saya tidak hanya menolong orang Yahudi. Saya sudah menyumbang US$ 100 ribu hingga US$ 2 juta buat rakyat Suriah," kata Moti Kahana.

Karl Marx, pencipta paham komunis, juga orang Yahudi. (Wikimedia)

Seencer otak Yahudi

Sejak abad pertama, seluruh anak lelaki Yahudi wajib disekolahkan paling lambat umur enam tahun.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR