kisah

Cinta terlarang Jasmin dan Usamah

Pemuda muslim Palestina menikahi gadis Yahudi-Israel. Tak diterima kedua keluarga, mereka pindah ke Berlin dan kini menetap di Wina.

23 Februari 2015 11:19

Sore itu, 18 April 2004, adalah saat paling ditunggu bagi pasangan Usamah Zaatar dan Jasmin Avissar. Mereka berencana mengikat janji sehidup semati di Kota Yerusalem. Kedua pasangan sama-sama berusia 24 tahun ini sepakat bertemu di tempat penitipan hewan tempat mereka bekerja.

Saat itu langit di atas Yerusalem cerah. Jasmin tiba lebih dulu. Tidak seperti calon pengantin umumnya, dia tidak mengenakan gaun pengantin. Dia cuma berkemeja lengan panjang warna putih dan bercelana jins biru. Usamah muncul sepuluh menit berselang, juga berdandan serupa.

“Kami sangat gembira sekaligus bingung dan takut,” kata Jasmin saat dihubungi Faisal Assegaf dari Albalad.co melalui telepon selulernya, April 2007. Keduanya berpikir keras soal di mana mereka akan menikah. Maklum, mereka berasal dari dua negara sedang berkonflik.

Jasmin adalah perempuan Yahudi Israel. Dia dilahirkan dan besar di Yerusalem. Anak bungsu dari tiga bersaudara dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarganya ini lulusan dari Jerusalem Academy for Music and Dance pada 2003. Calon suaminya, Usamah, merupakan lelaki muslim Palestina. Dia asli dari Ramallah, Tepi Barat. Anak keempat dari lima bersaudara ini hanya bersekolah sampai kelas dua SMA.

Keduanya bekerja di sebuah tempat penitipan hewan piaraan di Yerusalem. Di sana terdapat sekitar 600 anjing dan 200 kucing. Usamah bertugas merawat anjing, sedangkan Jasmin mengurusi kucing. “Awalnya kami bersahabat dan secara perlahan jatuh cinta lalu memutuskan untuk hidup bersama,” kata Jasmin.

Setelah jadian pada 2003, mereka berpacaran selama setahun. Karena ini “cinta terlarang”, Usamah atau Jasmin tidak pernah menemui calon mertua masing-masing. Usamah juga belum pernah mengapeli Jasmin di rumahnya. Keduanya memadu kasih di tempat penitipan hewan.

Keputusan untuk menikah diambil dua hari sebelumnya ketika mereka sedang berduaan menyaksikan pembangunan Tembok Pemisah di Yerusalem. Keduanya khawatir tembok itu juga akan memisahkan mereka. “Lalu kami memutuskan sekaranglah saatnya untuk menikah atau tidak akan pernah bisa,” ujar Jasmin.

Ketakutan Jasmin dan Usamah sangat beralasan. Tembok itu memisahkan wilayah Tepi Barat dengan Yerusalem. Artinya, Usamah tinggal di Ramallah akan sulit ke Yerusalem untuk bertemu Jasmin.

Proyek jahanam itu dimulai pada 16 Juni 2002. Panjang tembok seluruhnya mencapai 750 kilometer dengan tinggi delapan meter. Tembok itu dilengkapi parit perlindungan, kawat berduri, kawat beraliran listrik, menara pengawas, sensor elektronik, kamera video, pesawat pengintai tanpa awak, menara penembak jitu, dan jalanan untuk patroli kendaraan.

Tembok itu dibangun secara zigzag melalui sepuluh dari sebelas distrik di Tepi Barat. Pembangunan tahap pertama mulai dari sebelah barat Tepi Barat hingga utara Yerusalem sepanjang 145 kilometer sudah selesai Juli 2003. Tahap kedua sedang berlangsung, dari timur Tepi Barat hingga selatan Yerusalem.

Pernikahan Jsamin dan Usamah tentu saja akan ditentang oleh warga Palestina dan Israel. Kedua negara itu telah bersitegang selama lebih dari setengah abad. Aturan di Israel melarang warganya menikah dengan pasangan berbeda agama, apalagi dengan orang Palestina.

Karena itu keduanya tidak membawa orang tua masing-masing untuk menjadi wali nikah. Namun karena kebingungan, mereka terpaksa menelepon ke rumah masing-masing. Tapi tak ada yang menjawab.

Kira-kira satu jam kemudian, datang seorang sopir taksi, warga Israel, bermaksud menanyakan kondisi anjingnya kepada Usamah. Setelah urusan itu selesai, gantian Usamah meminta bantuan kepada sopir taksi itu agar bisa melaksanakan ijab kabul di rumahnya. Dia mengiyakan. Jasmin dan Usamah akhirnya menikah siri secara Islam di rumah sopir taksi itu. Mereka dinikahkan oleh seorang penghulu Palestina.

Jasmin pun berpindah agama menjadi muslim, tapi dia tidak mengubah namanya. Hanya sepuluh orang hadir dalam pernikahan itu dan semua dari keluarga sopir taksi. “Allah telah mengirim sopir taksi sebagai penolong kami,” tutur Jasmin.

Selepas acara itu, Jasmin dan Usamah segera menelepon orang tua masing-masing. “Kami sangat beruntung. Kedua keluarga kami menerima dan mendukung kami,” kata Jasmin.

Jasmin enggan menceritakan di mana mereka tinggal setelah menikah karena alasan keamanan. “Kalau kami berterus terang, orang tua kami bisa ditahan Israel,” ujarnya mewanti-wanti agar soal itu tidak ditulis. Pastinya, kata dia, mereka hidup normal sebagai suami istri meski harus bersembunyi dari pantauan aparat keamanan Israel.

Berbeda dengan Usamah, pihak Israel tidak mengakui status perkawinan Jasmin. Dalam paspor Israelnya, tertulis status menikahnya masih dalam penyelidikan. Dia terus berusaha mendapat pengakuan. Dengan bantuan uang dari keluarga, keduanya menikah kembali lewat catatan sipil di Siprus setahun kemudian. Tapi Israel tetap menolak perkawinan itu meski buku nikah mereka ditandatangani Kantor Urusan Agama Israel.

Karena tidak bisa hidup bebas sebagai suami istri, keduanya memutuskan pindah ke luar negeri. Pilihan dijatuhkan pada Jerman. Selain karena ibu Jasmin keturunan Yahudi Jerman, “Lebih mudah bagi orang Israel mendapatkan visa dari Jerman karena alasan Perang Dunia Kedua,"tutur Jasmin.

Mereka pun berpisah pada Februari 2007. Jasmin memperoleh visa untuk belajar selama setahun. Dia tinggal di Kota Berlin dan mengambil sekolah bahasa. Untuk membiayai kehidupan sehari-hari, dia menjadi guru balet.

Perpisahan itu sungguh menyakitkan bagi mereka. “Kami saling merindukan. Rasanya sebagian nyawa kami hilang,” ujar Jasmin. Untuk mengobati rasa kangen, keduanya selalu berkomunikasi lewat telepon atau mengobrol di Internet tiap hari.

Untunglah hubungan jarak jauh itu cuma berjalan sebulan. Awal Maret 2007, keduanya kembali hidup bersama. Usamah memperoleh visa belajar harus diperbarui tiap tiga bulan. Dia berencana mengambil sekolah seni untuk meningkatkan keahliannya sebagai pemahat. “Saya senang bisa berkumpul lagi dengan istri saya. Kami ingin memulai hidup baru di sini,” kata Usamah.

Mereka hidup prihatin. Tinggal di sebuah apartemen di Berlin dibagi dua dengan teman mereka. Tapi Jasmin menolak menggambarkan kondisi kamar mereka. “Tidak mahal dan cukup nyaman bagi kami berdua,” kata Jasmin singkat.

Keduanya belum memutuskan apakah akan menetap selamanya di Jerman. “Kami tak peduli di negara manapun kami tinggal, yang penting kami selalu bersama,” tegas Jasmin. Mereka pun tak berkeberatan tinggal di Indonesia. “Kami dengar Indonesia negara indah dan pernah kena tsunami.”

Semua hambatan dalam kisah cinta mereka tidak membuat Jasmin dan Usamah menyesal. "Cinta kami sangat berharga. Semua persoalan kami bersifat sementara, sedangkan cinta kami abadi,” kata Jasmin. Dia juga tidak membenci Israel, negara telah menolak perkawinannya dengan orang Palestina.

Jasmin berencana membawa anak-anaknya menemui kedua kakek nenek mereka di Israel dan Palestina. Sejauh ini, Jasmin belum punya anak dan dia tak merencanakan punya berapa anak. “Kami mulai dari satu,” katanya tertawa. Dia ingin anak-anaknya nanti menghargai orang lain tanpa membedakan ras, agama, warna kulit, dan latar belakang lainnya.

"Kami sekarang tinggal di Wina," kata Jasmin kepada Albalad.co melalui WhatsApp beberapa waktu lalu.

Kebencian memang tidak pernah bisa menghilangkan rasa cinta.

Rabbi Avraham Sinai bersama putranya, Amos Sinai, pada Mei 2016 berdiri memandang ke arah Libanon dari wilayah perbatasan di Israel. (Channel 2)

Rabbi pengkhianat Partai Tuhan

Selama sepuluh tahun, Ibrahim Yasin bergabung dengan Hizbullah sekaligus menjadi informan Israel. Sejak 1997, dia dan keluarganya pindah ke Israel.

Gideon Fan, orang Cina berdarah Yahudi, tengah berdoa di Tembok Ratapan di Kota Yerusalem Timur. (Courtesy)

Yahudi bermata sipit

Untuk pertama kalinya militer Israel menerima tujuh orang Yahudi berdarah Cina menjadi tentara.

Seorang perempuan Palestina berfoto selfie dengan latar Masjid Kubah Batu dalam kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur. (Al-Arabiya)

Kenang Al-Aqsa lewat foto selfie

"Karena mungkin kami tidak bisa datang lagi ke sini Ramadan tahun depan," kata Shoruq, gadis Palestina dari Tepi Barat.

Logo Mossad. (mysticpolitics.com)

Melawat ke markas Mossad

Mossad hanya memiliki hampir 1.200 pegawai, termasuk sekretaris dan sopir.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR