kisah

Keturunan Yahudi dan KTT OKI

"Dari pengalaman lalu, biasanya hasilnya hanya dokumen, tidak ada tindak lanjut," kata David Abraham.

07 Maret 2016 08:12

Perkembangan terjadi terkait konflik Palestina-Israel rupanya menjadi perhatian orang-orang Indonesia berdarah Yahudi, termasuk Konferensi Tingkat Tinggi luar biasa OKI (Organisasi Konferensi Islam) berlangsung di Jakarta, 6-7 Maret. Konferensi dua hari ini khusus membahas masalah Palestina, terutama isu Yerusalem dan Al-Aqsa.

Albalad.co hari ini menghubungi tiga warga Indonesia keturunan Yahudi memang sudah kenal lama, yakni David Abraham, Monique Rijkers, dan Rabbi Yokhanan Eliyahu. Dua lainnya tidak menyahut panggilan telepon dan kiriman pesan.

David Abraham, pengacara berdarah Yahudi Irak, menilai konferensi itu tidak akan menghasilkan suatu terobosan bagi kemajuan perdamaian Palestina-Israel. "Dari pengalaman lalu, biasanya hasilnya hanya dokumen, tidak ada tindak lanjut," katanya.

Namun dia mengakui karena Israel begitu menghargai Indonesia, Jakarta bisa memainkan peran lebih aktif dalam konflik itu. Indonesia bisa membuka dialog langsung dengan Israel dengan janji kalau sudah tercipta perdamaian, Jakarta bakal membina hubungan diplomatik dengan negara Zionis itu.

Dia menjelaskan negara Arab tidak bisa lagi diharapkan karena mereka saling bertikai. "Jadi satu-satunya harapan untuk Palestina adalah Indonesia," ujar Abraham. "Kalau tidak terjadi perdamaian, hubungan dagang pun mesti dihentikan."

Rencana membuka hubungan diplomatik dengan Israel menguat saat Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berkuasa. Namun yang terwujud hanya hubungan dagang meski Israel sejak awal kemerdekaan sudah membujuk agar Jakarta dan Tel Aviv bersahabat.

Proposal Gus Dur itu memang sangat sensitif. Apalagi pembukaan Undang-undang Dasar 1945 mewajibkan siapaun rezim berkuasa di Indonesia menentang segala bentuk penjajahan. Alhasil, pembukaan hubungan resmi dengan Israel melanggar amanat konstitusi.

Isu ini juga sama sensitifnya soal komunitas Yahudi di Indonesia. Tidak ada yang tahu berapa jumlah mereka. Namun Ketua United Indonesian Jewish Community Benjamin Verbrugge pernah bilang kepada Albalad.co, yang sudah terdata dua ribuan orang.

Monique, berdarah Yahudi Belanda, juga mendukung terbinanya hubungan resmi Indonesia-Israel. Hanya saja dia tidak yakin perdamaian Palestina-Israel dapat diraih bila Yerusalem hendak diambil dari kekuasaan negara Bintang Daud itu. "Israel cuma minta diakui mempunyai tanah Israel dengan tata cara Yahudi. Apakah ini berlebihan?"

Sedangkan Rabbi Eliyahu, keturunan Yahudi Portugis, cuma tertawa saat ditanya soal peluang perdamaian kedua bangsa bertikai itu.

Kalau perdamaian terwujud, Abraham tidak pernah berniat pindah ke Israel. "Sama sekali tidak ada pikiran seperti itu," katanya. "Saya adalah orang Indonesia, hanya keturunan Yahudi."

Tapi hati kecil Monique ingin tinggal di tanah leluhurnya itu. "Tuhan memilih gue lahir sebagai warga negara Indonesia," tuturnya. "Pasti ada maksud dan rencana Tuhan menempatkan gue di Indonesia."

Sedangkan Rabbi Eliyahu masih pikir-pikir.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Proyek fantasi Bin Salman di tepi Laut Merah

"Dia mengira dirinya seperti Tuhan ingin membuat peradaban baru," tutur Alia al-Huwaiti. "Atau seperti Firaun, siapa saja menolak pikirannya akan mati atau lenyap."

Lukisan wajah Yesus berjudul Salvator Mundi. (The Art Newspaper)

Lukisan palsu Da Vinci kepunyaan Bin Salman

Bin Salman menuntut Salvator Mundi miliknya dipajang di sebelah lukisan berjudul Mona Lisa. Calon raja kedelapan Saudi ini menjanjikan fulus dalam jumlah sangat banyak kalau Prancis setuju.

Seorang tentara Myanmar memakai Uzi, senapan serbu buatan Israel, saat menghadapi demonstran antikudeta. (Twitter)

Teknologi militer Israel, darah demonstran Myanmar

Jenderal Senior Ming Aung Hlain, panglima angkatan bersenjata Myanmar memimpin kudeta awal bulan lalu, pernah mengunjungi kantor Elbit saat melawat ke Israel pada 2015.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Al-Arabiya)

Tiga isyarat Biden agar Bin Salman lakukan kudeta

Kalau mau dianggap selevel dengan Biden, dia mesti buru-buru naik takhta dan tentu harus menyingkirkan ayahnya dari singgasana.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Proyek fantasi Bin Salman di tepi Laut Merah

"Dia mengira dirinya seperti Tuhan ingin membuat peradaban baru," tutur Alia al-Huwaiti. "Atau seperti Firaun, siapa saja menolak pikirannya akan mati atau lenyap."

10 Mei 2021

TERSOHOR