kisah

Amerika negaraku, Damaskus domisiliku

Thomas Webber masuk Islam dan menikahi gadis Suriah.

11 Maret 2016 17:34

Thomas Webber membungkuk untuk memeriksa kondisi mobilnya saban pagi sebelum keluar rumah. Takut-takut kalau ada bom disembunyikan. Namun lelaki Amerika berumur 71 tahun ini tidak berencana meninggalkan Damaskus, kota sudah dianggap rumahnya selama lebih dari empat dasawarsa.

Webber barangkali orang Amerika terakhir tidak berdarah Suriah masih tinggal di ibu kota Suriah, setelah Amerika Serikat menutup kedutaan besar dan mendesak warga negaranya meninggalkan negara itu pada 2012, setahun setelah pecah pemberontakan. Kedutaan Besar Ceko, mengurus kepentingan Amerika di Suriah sejak itu, sudah meminta dia berhati-hati.

"Orang-orang asing diculik waktu itu," kata Webber menggambarkan kekacauan empat tahun lalu. "Saya kira saya tidak kelihatan seperti orang Suriah. Saya sedikit lebih jangkung dari sebagian besar mereka."

Dengan tinggi badan 1,90 meter, dia memang jauh lebih tinggi dari kebanyakan orang Suriah. Polisi di sejumlah pos pemeriksaan melambaikan tangan dengan senyuman saban kali dia lewat.

"Orang Suriah itu paling ramah di dunia," ujarnya. "Tidak mungkin saya meninggalkan negara ini. Mereka pasti akan mempertahankan saya."

Dia bilang ketika Kedutaan Ceko menghubungi dan meminta dia meninggalkan Suriah, dia diberitahu dia satu-satunya warga Amerika bukan berdarah Suriah masih tinggal di Damaskus.

Webber dilahirkan dan dibesarkan di Orchard Park, New York. Ayahnya ahli rel kereta berdarah Jerman dan ibunya perawat peranakan Polandia. Dia gagal menyelesaikan kuliah kedokteran gigi dan bebas dari pendaftaran tentara untuk dikirim ke Perang Vietnam karena kesalahan teknis. Dia menetap di California saat mendapat tawaran bekerja sebagai guru sains di sekolah swasta Amerika Damascus Community School . " Saya bilang oke. Saya lalu ke perpustakaan umum untuk mencari tahu peta Suriah di atlas," kenangnya.

Dia tiba di Damaskus pada 1975. Tidak lama kemudian, dia masuk Islam dan menikahi gadis Suriah. Sempat mengajar sebentar di Iran, setelah itu dia menetap di Suriah hingga kini. Dia memiliki tiga anak, sebelas cucu, dan satu cicit, mereka semua tinggal di beragam negara. Dia kerap mengunjungi mereka namun selalu balik ke Damaskus.

Meski Amerika Serikat dan Suriah bermusuhan, negara ini masih relatif aman bagi warga negara adikuasa itu untuk datang berkunjung.

Setelah pecah pemberontakan pada 2011, Webber dan istrinya mulai waspada. Satu mortir pernah meledak, tiga meter dari pintu rumahnya.

Dia punya tempat favorit buat kongko. Sebuah kafe dengan kebun botanik di kawasan Kota Tua di Damaskus. Berlokasi di antara Sungai Barada dan pintu masuk Masjid Bani Umayyah. Kicauan burung di kebun kedai kopi itu menciptakan suasana damai. Dari atas atap, orang bisa menikmati pemandangan citadel.

"Saya memiliki pilihan untuk tinggal di negara mana saja, termasuk Amerika Serikat, dan saya memilih tetap di sini," tuturnya. "Suriah telah menjadi bagian dari hati saya sekarang."

Banyak temannya sudah pergi dan bisnis lanskapnya telah hancur. Eksodus guru-guru berkualitas membikin dia mudah mendapat pekerjaan sampingan sebagai guru bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah atas.

Webber meyakini maut di tangan Allah. Kalau ia sudah datang, orang bisa meninggal hanya karena terpeleset kulit pisang. "Itu semua takdir Tuhan."

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Basrah pada 1913, dipotret oleh pengusaha Swedia bernama Arne C Waern. (Wikimedia Commons)

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

Sheikha Latifa, daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, with her Finnish friend, Tiina Jauhiainen. (@detainedindubai for Albalad.co)

Nestapa Syekha Latifah

Bahkan sepanjang hidupnya, Syekha Latifah baru sekali keluar Dubai, yakni saat kabur tahun ini.

Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhamnad bin Abdurrahman ats-Tsani. (Saudi Gazette)

Duit sebukit tebusan pangeran

Uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018
Sapa Muqtada
21 Mei 2018

TERSOHOR