kisah

Diplomasi satu kaki buat Palestina

"Sangat tidak rasional, Anda ingin mendamaikan dua pihak bertikai tapi cuma berhubungan dengan satu pihak saja."

14 Maret 2016 03:47

Setelah menemui ganjalan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kemarin akhirnya terpaksa melantik pengusaha perempuan Palestina, Maha Abu Shusha, sebagai konsul kehormatan pertama Indonesia buat Palestina. Bukan di Kota Ramallah, Tepi Barat, seperti dijadwalkan semula.

Dalam sambutannya, Retno bilang pelantikan dan pembukaan kantor Konsul Kehormatan Indonesia di Ramallah merupakan bukti nyata dukungan terhadap Palestina. "Dukungan Indonesia kepada perjuangan rakyat Palestina tidak pernah padam dan hari ini (kemarin) kita maju satu langkah lagi dengan pelantikan Konsul Kehormatan Indonesia di Ramallah," katanya dalam siaran pers Kementerian Luar Negeri diterima Albalad.co kemarin.

Retno meminta Maha dapat berperan aktif meningkatkan hubungan bilateral kedua negara. "Saya harap konsul kehormatan di Ramallah dapat menjadi penyambung tali persaudaraan rakyat Indonesia dan Palestina." ujarnya.

Namun bagi Israel, segala diplomasi telah dilakoni Indonesia dinilai berat sebelah. Inilah menjadikan alasan negara Zionis itu menolak mengizinkan Retno ke Tepi Barat, seperti pernah mereka lakukan empat tahun lalu terhadap Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

"Kementerian Luar Negeri Israel dan kantor perdana menteri menolak memberi izin kepada Retno Marsudi ke Tepi Barat," kata sumber Albalad.co dalam pemerintahan Israel saat dihubungi melalui WhatsApp semalam. "Karena dia menolak berkunjung ke Yerusalem dan bertemu para pejabat Israel."

Indonesia telah memainkan diplomasi satu kaki dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel. Padahal Israel berharap kalau ingin efektif berperan sebagai mediator, Indonesia mesti pula berhubungan dengan Israel. "Sangat tidak rasional, Anda ingin mendamaikan dua pihak bertikai tapi cuma berhubungan dengan satu pihak saja," tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon kepada Albalad.co akhir tahun lalu. "Bagaimana bisa dipercaya?"

Namanya juga satu kaki, diplomasi dijalani Indonesia ini berjalan pincang. Sehingga hasilnya pun tidak sempurna. Kalau dihitung sejak negara Israel berdiri, usia penjajahan atas Palestina cuma tiga lebih muda ketimbang umur negara Indonesia.

Jakarta memang berhasil membantu hingga Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui Palestina sebagai sebuah negara pada 2012 dan tahun lalu bendera Palestina untuk pertama kali dikibarkan di markas besar PBB di Kota New York, Amerika Serikat. Namun praktek di lapangan, Palestina belum menjadi negara merdeka dan berdaulat.

Otoritas Israel masih mengpntrol Tepi Barat dan memblokade Jalur Gaza. Jangankan Retno, izin keluar masuk Tepi Barat bagi Presiden Mahmud Abbas dan pejabat Palestina lainnya juga tergantung Israel. Akibat paling mengerikan, penjajahan Israel atas Palestina seolah telah menghilangkan semangat hidup bangsa Palestina. Mereka seperti frustasi dan tidak punya masa depan. Inilah memicu intifadah ketiga berlangsung di Tepi Barat sejak awal Oktober tahun lalu.

Indonesia tentunya sadar, pengakuan sebagai sebuah negara menurut mekanisme PBB hanya berlaku bila ada resolusi Dewan Keamanan, bukan keputusan Sidang Majelis Umum. Faktanya, Amerika Serikat, satu dari lima pemegang hak veto di Dewan Keamanan, menolak mengakui hasil sidang umum itu. Bagi Amerika dan Israel, negara Palestina hanya bisa lahir lewat perundingan, sebuah proses sudah berkali-kali mandek sehingga membikin kian banyak orang pesimistis akan berhasil.

Namanya satu kaki, diplomasi Indonesia tidak bisa berjalan cepat apalagi berlari. Diplomasi satu kaki Indonesia buat Palestina seolah kian jauh tertinggal dengan cita-cita kemerdekaan Palestina. Bahkan mulai dilupakan orang. Retno pun mengakui hal ini. Dia mengatakan konferensi internasional soal Yerusalem digelar di Jakarta Desember tahun lalu, untuk mengangkat kembali isu Palestina ke panggung politik internasional.

Jakarta seolah berkejaran dengan waktu. Ruwetnya masalah Palestina bisa membuat isu ini tenggelam oleh persoalan-persoalan global mengancam peradaban manusia, seperti terorisme, perubahan iklim dunia, dan wabah penyakit mematikan.

Kalau sudah begini, bisa jadi penjajahan Israel atas Palestina bakal langgeng sepanjang masa. Dan keyakinan ini sudah meracuni banyak pihak.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir didampingi Duta Besar Indonesia buat Yordania berbincang dengan keluarga Isa Saleh, pengungsi Suriah asal Palmyra di kamp Azraq, Yordania, 10 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan hambar di kamp Azraq

Di sanalah, seperti tahun lalu, sinterklas Suriah dari Indonesia ini merayakan ulang tahunnya ke-66.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

23 April 2018

TERSOHOR