kisah

Mengakar di Belgia menyasar Eropa

Para jihadis ini sudah terorganisasi seperti mafia, dengan kemampuan mutakhir dalam melakukan misi dan menyelundupkan logistik, orang, mengeluarkan dokumen palsu, atau menjual senjata.

28 Maret 2016 09:59

Sopir taksi itu bercerita. Selasa pagi pekan lalu, dia mendapat telepon dari penghuni di lantai lima sebuah flat di Schaerbeek, timur laut Ibu Kota Brussels, Belgia. Penelepon minta diantar ke Bandar Udara Internasional Zaventem, sekitar 25 menit dari sana.

Sopir taksi masih dirahasiakan identitasnya itu demi alasan keamanan bilang tiga lelaki - seperti terekam dalam kamera pengintai CCTV di Bandar Udara Zaventem - turun dengan membawa lima koper. Namun yang muat dalam bagasi cuma tiga koper. Setelah ketiganya berunding, kata sopir taksi itu, mereka memutuskan menaruh kembali dua koper sama-sama berisi bahan peledak ke dalam flat sewaan mereka.

Perjalanan 25 menit ke Zaventem senyap. Tiga penupang tidak banyak berbicara. Ketiga orang itu adalah Ibrahim al-Bakrawi dan Najim Lakrawi, keduanya meledakkan diri. Sedangkan Faycal Cheffou kabur dengan meninggalkan satu koper bom dan sudah ditangkap akhir pekan ini.

Khalid al-Bakrawi, adik dari Ibrahim, melaksanakan bom bunuh diri sejam kemudian di stasiun kereta bawah tanah Maalbeek. Dua insiden itu menewaskan 34 orang, termasuk tiga pelaku, dan melukai lebih dari 300 lainnya, termasuk tiga warga Indonesia.

Jerome Delanois mengaku sedang berada di kedai Internet dekat gerai Delta Airlines saat mendengar dua ledakan jelang pukul delapan pagi. "Ada dua ledakan. Satu besar dan satu lagi kecil," katanya. "Ledakan pertama menghancurkan dinding dan segalanya. Terjadi kebakaran."

Serangan di Brussels, juga ibu kota Uni Eropa, ini kian menguatkan dugaan Belgia telah menjadi jaringan terorisme di Benua Biru itu. Teror Brussels - ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) telah mengaku bertanggung jawab - terjadi empat hari setelah penangkapan Salah Abdussalam, satu-satunya dari sepuluh pelaku Teror Paris masih hidup. Kejadian di Paris November tahun lalu, juga didalangi ISIS, menewaskan 130 orang.

Tiga Abdussalam bersaudara besar dan tinggal di Molenbeek, permukiman imigran muslim di Brussels.

Seperti negara lain, penyebaran ideologi kekerasan di Belgia berlaku lewat media sosial dan kawan sebaya. Meski tidak secara langsung mendorong kekerasan, pemikiran itu menganjurkan kebencian, intoleran, dan cara pandang benar-benar konservatif terhadap dunia internasional.

Akar dari persoalan sekarang ini sudah dalam. Mirip wilayah lainnya di Eropa, Belgia juga mengalami gelombang terorisme pada 1980-an dan 1990-an lantaran pergolakan di Timur Tengah. "Ada sejarah sangat panjang soal hubungan Belgia dan Prancis dalam dunia terorisme," ujar Rik Coolsaet, ahli terorisme di Universitas Ghent, Belgia.

Pada 1990-an, militansi di utara Prancis terkait perang saudara di Aljazair menyebar hingga Belgia. Setidaknya satu ulama radikal diusir dari Prancis pindah ke Brussels. Ketika penduduk setempat memprotes, menurut Johan Leman, aktivis antirasisme bekerja di Molenbeek, pejabat berwenang bilang ulama itu terpinggirkan.

Di paruh pertama dekade lalu, aparat keamanan dan intelijen Eropa tidak terlalu memperhatikan Belgia sebagai pusat jaringan terorisme di benua itu. Padahal cukup banyak anak muda Belgia pergi ke Irak untuk berjihad melawan pasukan koalisi dipimpin Ameria Serikat.

Pada 2008, kaum muda muslim Belgia lainnya dikirim ke Afghanistan untuk mengikuti pelatihan di kamp Al-Qaidah.

Dibanding negara Eropa lainnya, Belgia paling tinggi per kapita dalam memasok jihadis ke Suriah. Para ahli memperkirakan ada 450 jihadis dari total sebelas juta penduduk Belgia, termasuk setengah juta kaum muslim.

Perkiraan mutakhir versi peneliti Belgia Pieter van Ostaeyen ada 562 jihadis. Kebanyakan bergabung dengan ISIS, sebagian bergabung dengan Jabhat Nusrah (sayap Al-Qaidah di Suriah). Lebih dari 80 orang sudah tewas.

Molenbeek, komunitas berisi 90 ribu orang dan hampir 80 persennya muslim, dilihat banyak kalangan merupakan persoalan khusus.

Leman menjelaskan para perekrut jihadis kerap mengatakan kepada para remaja Molenbeek: orang tua mereka tidak mengenal Islam sejati. "Mereka mengajarkan proses pendewasaan (pemberontakan) soal dimensi Islam," tuturnya.

Penelitian oleh Universitas Oxford, Inggris, membenarkan soal pentingnya jaringan sosial dalam proses perekrutan kaum militan. Teman sebaya berperan utama dalam merekrut 75 persen jihadis. Keluarga mampu merekrut seperlima, sedangkan masjid hanya mampu memperoleh satu dari 20 calon.

"Tiap orang kenal siapa saja di sini. Mereka mengobrol, berbagi video, membikin rencana," kata Muntasir Daamih, peneliti di Molenbeek. "Seperti itulah cara kerja perekrutan."

Daamih menjelaskan ada dua jenis jihadis. Kaum idealis naif adalah gelombang pertama berjihad ke Suriah. Gelombang kedua adalah orang-orang siap melancarkan teror di negaranya sendiri. Mereka ini biasanya memiliki catatan panjang kejahatan.

Dalam wawancara khusus dengan majalah Time, Wakil Pertama Wali Kota Molenbeek Ahmad al-Khannus bilang para pejabat setempat telah mengantongi 85 nama warga Molenbeek diyakini pernah bergabung dengan kelompok radikal di Suriah dan Irak sejak 2012 serta telah kembali ke Eropa. "Kami perlu memisahkan siapa saja berbahaya dan yang tidak," ujarnya.

Karena itu, Eropa masih akan terus dihantui serangan teror. "Yang kami perkirakan adalah sebuah serangan terhadap multikota, multitarget di saat sama dan akibatnya akan sangat mengerikan," tutur Claude Moniquet, pensiunan DGSE (dinas rahasia luar negeri Prancis) dan kini mendirikan perusahaan intelijen swasta di Brussels.

Sepekan sebelum Teror Brussels, Menteri Luar Negeri Belgia Didier Reynders mengatakan dalam sebuah diskusi umum, paling tidak masih ada 30 jihadis tengah diburu di ibu kota Belgia itu.

Walau status siaga sudah ditetapkan di berbagai negara Eropa sehabis Teror Brussels, tidak mudah membongkar jaringan teroris. Sebab, menurut sejumlah ahli intelijen, sejak serangan terhadap kantor redaksi majalah Charlie Hebdo di Paris pada Januari 2015, para jihadis ini sudah terorganisasi seperti mafia, dengan kemampuan mutakhir dalam melakukan misi dan menyelundupkan logistik, orang, mengeluarkan dokumen palsu, atau menjual senjata.

"Di mana ada uang bisa dihasilkan, selalu terdapat peluang bisnis bagi kejahatan terorganisir," kata Yan St-Pierre, CEO sekalius penasihat kontraintelijen bagi the Modern Security Consulting Group, perusahaan intelijen swasta di Berlin, Jerman. "Tidak ada bedanya mereka menjual senjata ke teroris atau orang lain. Mereka kerap memiliki akses untuk penyelundupan."

Seperti itulah jaringan jihadis di Belgia. Terorganisir dan siap meneror Eropa.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Maha as-Subaii (28 tahun) dan adiknya Wafa as-Subaii (25 tahun), dua gadis asal Arab Saudi meminta suaka ke Georgia. (Twitter/@GeorgiaSisters)

Pelarian Maha dan Wafa

Jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR