kisah

Pilih mati di Suriah ketimbang sekarat di tempat sampah

Riham memperkirakan dia merogoh US$ 1 ribu saban bulan buat ke dokter, membeli alat pelega pernapasan, dan obat-obatan bagi keempat anak perempuannya.

06 April 2016 22:15

Dari teras belakang berumput di rumah mereka, terlihat lusinan truk besar mengangkut berton-ton sampah tengah antre untuk membuang muatan mereka di atas gunungan sampah. Pemandangan tidak sedap dan bau busuk menjadi hal biasa saban hari di tempat pembuangan akhir di Naamih, kota kecil berjarak sekitar 20 kilometer sebelah selatan Ibu Kota Beirut, Libanon.  

Sekian tahun hidup dekat lokasi pembuangan sampah, Fayyad Ayyasy bersama istri, Riham, dan keempat putri mereka sudah tidak betah. Karena itulah keluarga ini berencana pindah. Ironisnya bukan ke wilayah lain di Libanon tapi malah ke Libin, kota kecil di Provinsi Suwaida di selatan Suriah dan berbatasan dengan Libanon.

"Kami akan pindah ke sana pekan depan," kata Fayyad kepada kantor berita AFP. "Di Suriah kemungkinan saya bakal tewas, tapi di sini kami sudah pasti meninggal."

Fayyad dan Riham penganut Druze, sekte dianggap sesat menurut ajaran Islam. Mereka berencana pindah ke Suwaida karena di sanalah komunitas Druze terbesar menetap di Suriah. Wilayah ini pernah diserang milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), tapi relatif lebih sedikit pertempuran terjadi di sana ketimbang wilayah lain di Suriah, negara telah dilanda konflik bersenjata sejak 2011.

"Memang tidak aman di sana, tapi saya terpaksa harus pindah," ujar Riham. "Saya telah berkemas dan siap berangkat."

Seraya mengeluarkan alat pelega pernapasan berwarna biru cerah, Fayyad bilang keluarganya sudah berbulan-bulan menderita sakit pernapasan akibat bau busuk sampah menyengat hingga ke rumah dua lantai mereka huni. Keempat anaknya, berusia antara dua hingga sepuluh tahun, susah tidur dan tidak doyan makan. "Selalu lebih buruk waktu malam dibanding siang. Seluruh kawasan ini dibekap bau dan penyakit," tuturnya.

Sampah telah menjadi persoalan nasional. Lokasi pembuangan di Naamih ditutup penduduk setempat marah pada Juli tahun lalu mengakibatkan krisis. Sampah menggunung di Beirut. Rakyat marah berunjuk rasa besar-besaran menuntut pemerintah menuntaskan isu sampah. Kalau gagal lebih baik mundur.

Hingga akhirnya bulan lalu pemerintah menemukan solusi sementara untuk masa empat tahun. Tempat pembuangan akhir di Naamih dibuka lagi selama dua bulan. Dua lokasi baru bakal dibangun di selatan dan utara Beirut.

Tapi sejatinya tempat pembuangan sampah di Naamih bersifat sementara saat dibuka pertama kali pada 1997. Namun lokasi alternatif tidak pernah dibikin. Selama hampir dua dasawarsa, Naamih menampung sampah dari Beirut dan Bukit Libanon, dua wilayah paling padat penduduknya di negara itu.

Lembah hijau itu telah berubah menjadi gunungan sampah seberat lebih dari 15 ton. Sampai akhirnya warga di sana menutup paksa. Alasannya, lokasi pembuangan itu menyebabkan warga di sana menderita kanker, penyakit kulit, dan gangguan pernapasan.

"Ketika tempat itu dibuka lagi, bayi saya mulai uring-uringan lagi," kata Fayyad.

Riham memperkirakan dia merogoh US$ 1 ribu saban bulan buat ke dokter, membeli alat pelega pernapasan, dan obat-obatan bagi keempat anak perempuannya. Seraya menunjukkan jari manisnya, dia mengaku telah menjual cincin kawinnya buat pengobatan anak-anaknya. "Saya berharap anak-anak saya makan sebanyak mereka mengonsumsi obat," ujarnya.

Faruk Marhabi dari American University of Beirut menjelaskan sebelum krisis, 2.800 hingga tiga ribu ton sampah dibuang ke Naamih tiap hari. Tapi sekarang jumlahnya naik delapan sampai sembilan ribu ton sehari.

Kalau Fayyad sekeluarga ingin pindah ke Suriah, kerabat mertuanya malah berencana tinggal di Libanon. "Tapi kami bilang kepada mereka, 'Apakah kalian ingin mati di sini karena kebauan?'" kata Fayyad.

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Isyarat Bin Salman menyerah terhadap Iran

Kurang pengalaman dan kalah strategi membikin Saudi kedodoran dalam palagan di Suriah dan Yaman. 

Dato Tahir tengah bertanding futsal menghadapi anak-anak pengungsi Suriah. (Dokumentasi KBRI Amman)

Bersua Julia Roberts asal Hama

Almar dan ketiga saudara kandungnya juga tidak sungkan berdekatan dengan salah satu keluarga paling tajir di Indonesia itu.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

11 Oktober 2019

TERSOHOR