kisah

Dua Syiah satu Irak

Muqtada Sadr bilang demonstrasi antipemerintah untuk menyelamatkan Irak dari para pencuri uang negara.

18 April 2016 21:51

Ratusan orang kemarin berunjuk rasa di Alun-alun Tahrir di jantung Ibu Kota Baghdad, Irak. Mereka menyokong ulama Syiah berpengaruh Muqtada as-Sadr telah mengancam buat menggelar demonstrasi besar-besaran bila Perdana Menteri Haidar al-Abadi gagal membikin kabinet baru buat memerangi korupsi paling lambat besok.

Para pengunjuk rasa itu bilang bakal makin banyak orang berdemonstrasi bila Abadi tidak menunjuk kaum teknokrat buat mengatasi suap dan manipulasi telah mewabah di negara 1001 Malam itu.

"Ya, ya untuk Irak, tidak, tidak buat korupsi," teriak mereka seraya mengibarkan bendera kebangsaan.

"Kami berunjuk rasa atas kemauan sendiri untuk mendukung Sayyid Muqtada," kata seorang lelaki duduk dalam sebuah tenda untuk berlindung dari terik matahari.

Beberapa kali penundaan dalam pembentukan pemerintahan baru lantaran ketegangan politik dan sektarian, kian melumpuhkan stabilitas politik di Irak. Bahkan dampaknya hingga jauh ke luar Baghdad.

Sekitar 160 kilometer sebelah selatan Baghdad, di Najaf, Ayatullah Ali Sistani marah menggelegak. Ulama Syiah berumur 86 tahun ini, tokoh paling dipuja di kalangan mayoritas Syiah di Irak, telah merestui Abadi membangun semacam kontrol terhadap elite politik dan pengaruh negara tetangga Iran.

Menyeberang perbatasan, di Qom, kota suci bagi kaum Syiah di Iran, kegagalan Abadi itu juga mendapat sorotan. Selama lebih dari 13 tahun, Iran telah menanamkan pengaruh penting di Baghdad. Bahkan tiga tahun belakangan, Teheran kian berperan menentukan hasil pertarungan politik di Irak ketimbang para elite paling berpengaruh di negeri Dua Sungai ini.

Sejumlah pejabat senior dekat dengan Sistani mengungkapkan dia mulai kehilangan harapan terhadap Abadi, dia bantu hingga terpilih pada akhir 2014, untuk melakukan perubahan diyakini Sistani sangat penting untuk menyelamatkan masa depan Irak.

Sejak keruntuhan rezim Saddam Husain, Irak dihantam beragam krisis mengakibatkan negara ini seperti tanpa pemerintah.

Korupsi merajalela oleh elite-elite politik, ditunjuk atas dasar sektarian, telah merampas kekayaan negara makin tergerus akibat merosotnya harga minyak mentah global sejak pertengahan 2014. Kegelisahan kian memuncak lantaran Irak juga sedang memerangi milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah).

Misyaan Jaburi, anggota Komite Integritas parlemen Irak, bertugas memantau korupsi, memicu polemik Februari lalu ketika dia mengaku telah menerima sogokan jutaan dolar. "Tiap orang dari kami berperan dalam korupsi," katanya kepada stasiun televisi Al-Itijah.

Saban bulan, pemerintah Irak mesti mengeluarkan hampir US$ 4 miliar untuk membayar gaji dan pensiun pegawai negeri serta tentara. Namun lebih dari 90 persen pendapatan negara berasal dari minyak, melorot setengahnya lantaran harga emas hitam itu jatuh.

Beberapa pejabat Irak dan pengamat mengatakan pemerintah berupaya keras tahun ini untuk membayar gaji dan pensiun untuk tujuh juta orang, kalau gagal bisa memicu perlawanan sosial.

Ketika negara terancam bangkrut, Perdana Menteri Abadi berusaha mengatasi korupsi dan menaikkan pendapatan pemerintah meski kadang dengan cara tidak populer.

"Kami harus menutup defisit," ujar Mudhir Salih, penasihat ekonomi bagi perdana menteri. "Kondisinya benar-benar parah sekarang, anggaran negara sangat menipis dan sumber-sumber lama tidak lagi menghasilkan."

Salih menjelaskan defisit Irak tahun ini diperkirakan US$ 25 miliar, namun itu berdasarkan asumsi harga minyak dunia US$ 45 sebarel. Jumlah defisit bisa saja bertambah dua kali lipat. Cadangan devisa Irak diprediksi turun ke angka US$ 43 miliar tahun ini, dari US$ 59 miliar Oktober tahun lalu.

Sejak Februari lalu, Muqtada Sadr telah memobilisasi puluhan ribu demonstran di pusat Kota Baghdad, menuntut reformasi.

Protes ini senada dengan unjuk rasa ribuan rakyat Irak musim panas tahun lalu. Mereka memprotes maraknya korupsi oleh para pejabat dan jeleknya layanan pemerintah, seperti listrik dan air kerap mandek. Tahun ini, rakyat Irak diminta membayar lebih.

"Pemerintah korup sekarang meminta rakyat hidup prihatin karena triliunan dolar hilang," tutur Sadr kepada ribuan pengunjuk rasa pada Jumat pertama bulan lalu. Dia bilang demonstrasi digelar untuk menyelamatkan Irak dari para pencuri uang negara.

Biaya hidup kian mahal. Ongkos rumah sakit, sejak lama gratis, kini sudah diberlakukan tarif minimal. Bahkan orang ingin menjenguk dikenai biaya. Juga ada rencana untuk menaikkan tarif listrik dan air. Di Kota Basrah, selatan Irak, para pedagang sudah memprotes kenaikan bea masuk.

Irak berencana berutang lagi kepada IMF (Dana Moneter Internasional) setelah tahun lalu menerima pinjaman US$ 1,24 miliar. Amerika Serikat menawarkan utang US$ 2,7 miliar untuk belanja militer dan Jerman telah meminjamkan US$ 550 juta buat proyek rekonstruksi.

Semua masalah itu menjadi kecemasan Sistani. Najaf, pusat kekuatannya, merupakan poros bagi kaum Syiah di Irak. Sedangkan Qom, terutama setelah kemenangan Revolusi Islam pada 1979, telah menjadi simbol teologi dan politik di Iran.

Sejak 2003, dua pusat pengajaran ideologi Syiah itu saling bersaing tapi tidak pernah begitu sengit seperti sekarang. Sistani, tidak pernah berpolitik seumur hidup, kini bertarung dengan pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei untuk menentukan karakter bangsa Irak.

"Sistani kini sangat sadar meluasnya pengaruh Iran telah mencapai level baru," kata Ali Khedery, bekas penasihat bagi para duta besar Amerika untuk Irak dan komandan militer. "Ini soal kekuasaan dan pengaruh."

Ketika Abadi berjuang untuk menerapkan keinginannya, pemimpin dia gantikan di akhir 2014, Nuri al-Maliki, secara konstan mulai mengumpulkan kekuatan lagi. Milisi-milisi Syiah tergabung dalam bendera PMF (Barisan Mobilisasi Rakyat) melapor kepada Maliki dan dia memiliki hubungan dekat dengan Iran.

"Dia disiapkan oleh Iran seperti sebuah orang-orangan sawah bagi Abadi," ujar mantan Presiden Irak Ayad Allawi kepada the Guardian awal tahun ini. "Tidak ada banyak hal bisa dilakukan Abadi terhadap dia."

PMF terus memainkan peran dominan dalam banyak pertempuran menghadapi ISIS di Irak, bahkan melebihi peran militer pemerintah. Hampir semua faksi dalam PMF dipimpin orang-orang merupakan wakil dari Garda Revolusi Iran.

Sejatinya, Sistani pula mengundang Iran untuk memperluas pengaruhnya di Irak, saat dia menyerukan pembentukan milisi buat menumpas ISIS. "Itu sebuah undangan bagi mereka untuk mengambil alih Irak dalam banyak cara," tutur seorang pejabat senior Irak menolak ditulis namanya. "Bila Abadi bertahan, tidak bagus buat Sistani dan Irak, tapi kalau dia lengser, bisa jauh lebih buruk."  

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR