kisah

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.

20 Mei 2016 12:26

Gadis Kristen berusia 12 tahun itu akhirnya mengembuskan napas terakhir beberapa jam kemudian akibat luka bakar tingkat empat dia derita. Tapi dia begitu pengasih. Dia tidak menyimpan dendam atau menyumpah serapah pembakarnya.

Bahkan menjelang ajalnya, bocah tidak disebutkan identitasnya ini meminta ibunya memaafkan pelaku, yakni para jihadis ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) telah membakar rumah mereka di Kota Mosul, Irak.

Ceritanya begini. Serombongan jihadis ISIS mengetuk pintu rumah keluarga Nasrani itu untuk menagih jaziya, pajak dikenakan bagi kaum non-muslim tinggal di wilayah dikontrol ISIS. Besaran jaziya ini bergantung pada jumlah kekayaan bersih tiap keluarga.

Sejak mengumumkan berdirinya khilafah islamiyah pada 29 Juni 2014, pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi - menyatakan diri sebagai khalifah - menetapkan syariat mereka klaim bersumber dari Al-Quran dan hadis: pancung bagi pembunuh, rajam untuk penzina, dan amputasi buat pencuri.

Jihadis-jihadis asing ini memberi dua pilihan bagi ibu malang itu karena sudah telat membayar jaziya. "Tinggalkan Mosul sekarang atau bayar jaziya saat ini juga," kata ibu korban menirukan ultimatum jihadis ISIS.

Menurut pengacara hak asasi manusia Jacqueline Issac, ibu itu bilang kepada mereka dia akan bayar jaziya itu sekarang. Tapi dia meminta para jihadis menunggu sebentar karena putrinya sedang mandi.

Namun rombongan milisi ISIS ini menolak menunggu dan segera membakar rumah itu. Ibu dan anak nahas itu berhasil keluar dari rumah tengah dilalap api. Sang ibu selamat, tapi gadis kecilnya wafat.

"Dia bergegas membawa putrinya ke rumah sakit namun dia meninggal di pangkuan ibunya," ujar Issac kepada the Daily Express. "Pesan terakhir anaknya: 'Maafkan mereka.'"

Sebelum Baghdadi mengumumkan berdirinya kekhalifahan Islam dua tahun lalu, pemuka Kristen di Ibu Kota Baghdad, Irak, Pastor Martin Hermis Dawud, menyarankan para pemuja Yesus ingin meninggalkan negara Dua Sungai itu untuk bertahan dan tetap menyimpan harapan. Namun sejak ISIS mencaplok Mosul, dia menyuruh mereka segera pergi dari Irak jika memang punya keinginan.

"Saya mengatakan kepada mereka satu hal. Jika kalian berpikir untuk pergi, pergilah sekarang, jangan menunggu lagi," kata pastor 41 tahun dari aliran Kristen Assiria ini kepada the Telegraph pekan lalu.

Kian berkurangnya umat Nasrani di Irak secara bertahap akibat konflik sektarian kemudian menjadi sebuah eksodus setelah kemunculan ISIS. Pastor Dawud memperkirakan kaum Kristen di negeri 1001 Malam itu akan lenyap dalam lima tahun.

"Mereka telah kehilangan harapan untuk bertahan," ujarnya. "Dalam lima tahun, Anda bakal menyaksikan hanya tersisa sedikit keluarga Nasrani di Irak karena tidak bisa pergi dan mungkin beberapa pendeta saja."

Para pemimpin Nasrani di Irak memprediksi populasi Katolik Kaldea, Kristen Orthodoks Suriah, dan Kristen Assiria telah anjlok dari 1,3 juta orang 20 tahun lalu, kini kurang dari 400 ribu. Dalam dua tahun belakangan, ekspansi ISIS telah mengakibatkan lebih dari 200 ribu pengikut Yesus kabur dari Provinsi Ninawih di utara Irak. Banyak dari mereka sekarang tinggal di kamp-kamp pengungsi di Baghdad, seperti satu kamp berisi 150 keluarga dikelola Pastor Dawud.

Ketika ISIS menguasai Mosul dan wilayah sekitarnya pada Juni 2014, para jihadis itu memberi ultimatum bagi warga Kristen: masuk Islam atau membayar pajak perlindungan (jaziya). Mereka menolak membayar jaziya, mesti pindah dan merelakan rumah serta bisnis mereka dirampas.

Kalau tidak mau pergi, nasib mereka bisa lebih parah ketimbang Carlos Kamel Elia, pemilik kedai kopi di Batnaya, kota kecil di utara Mosul. Selama enam pekan, dia dipukuli dan disetrum hingga kaki kirinya luka parah. Dokter menyarankan untuk segera diamputasi, namun Elia menolak.

"Saya berharap pemerintah dapat membebaskan Mosul sehingga saya bisa menjual rumah dan kedai kopi saya," tutur lelaki 29 tahun itu. "Kemudian saya mengharapkan bisa mengobati kaki kiri saya di luar negeri."

Tapi, menurut Pastor Dawud, bukan warga Kristen dari wilayah ISIS saja ingin keluar dari Irak. "Seluruh keluarga Nasrani di Irak, termasuk yang belum pernah bertemu ISIS, mereka berpikir untuk pindah," katanya.

Eksodus inilah membikin gereja-gereja di Irak dihancurkan karena ditinggalkan jemaatnya.

Kaum Kristen di Irak pun merasa terjebak dengan permusuhan antara ekstremisme atas nama Islam dan Barat. "Kami berada di tengah-tengah. Ketika koran-koran di Eropa merilis kartun Nabi Muhammad, geng di sini berusaha menyerang orang Kristen," ujar Pastor Dawud. "Sesuatu terjadi di Belgia atau Belanda, saya merasakan akibatnya di sini."

Milisi ISIS. (Dabiq/Global Look Press)

Kuasa Erdogan jaya ISIS

Ada kesepakatan antara ISIS dan intelijen Turki untuk membuka perbatasan bagi jihadis-jihadis ISIS cedera untuk dirawat di Turki.

Struktur ISIS diambil dari dokumen bikinan Haji Bakar. (derspiegel.de)

Ramadan dan kebangkitan ISIS

Kebangkitan ISIS bukan sekadar jumlah serangan mereka lakukan kian banyak. Namun serbuan mereka lakoni berakibat fatal dan serangan mereka bervariasi.

Daftar nama warga Indonesua terkait ISIS di kamp Ain Isa. (Rojava Information Center)

Menengok para pemuja ISIS asal Indonesia di Suriah

Terdapat 450 warga Indonesia di kamp Ain isa dan 300 orang lainnya di kamp Al-Haul.

Amir Muhamnad Abdurrahman al-Mauli as-Salbi, pemimpin baru ISIS. (Courtesy)

Berkenalan dengan pemimpin baru ISIS

Muhammad al-Mauli bergelar sarjana syariah lulusan dari Universitas Mosul. Dia memiliki satu putra. Dia bertemu Baghdadi ketika pada 2004 mendekam dalam tahanan Amerika di Kamp Bucca, Irak.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Proyek fantasi Bin Salman di tepi Laut Merah

"Dia mengira dirinya seperti Tuhan ingin membuat peradaban baru," tutur Alia al-Huwaiti. "Atau seperti Firaun, siapa saja menolak pikirannya akan mati atau lenyap."

10 Mei 2021

TERSOHOR