kisah

Rabbi pengkhianat Partai Tuhan

Selama sepuluh tahun, Ibrahim Yasin bergabung dengan Hizbullah sekaligus menjadi informan Israel. Sejak 1997, dia dan keluarganya pindah ke Israel.

25 Mei 2016 19:49

Dulu namanya Ibrahim Yasin, kini Avraham Sinai. Tadinya dia warga Libanon beragama Islam aliran Syiah, sekarang dirinya seorang rabbi beragama Yahudi dan menjadi warga negara Israel.

Kisah pergaantian identitas itu bermula saat perang saudara meletup di Libanon pada 1975. Rabbi Avraham Sinai, waktu itu bernama Ibrahim Yasin, mengaku sangat ketakutan dengan tindakan tentara Suriah dan kelompok-kelompok militan Palestina selama 15 tahun perang berkecamuk di Libanon.

Dia masih ingat betul ketika sekelompok pejuang Palestina menyiksa putrinya. Dia diikat di antara sepasang mobil, kemudian mulai dikendarai ke arah saling berlawanan. "Dia berteriak histeris saat kedua mobil itu menarik anak perempuannya," kata Rabbi Sinai kepada stasiun televisi Channel 2. "Saya melihat sendiri penyiksaan ini di luar rumah saya."

Ketika pasukan Israel memasuki Libanon pada 1982, Yasin terkesan karena mereka menolong istrinya mau melahirkan. Kala itu, kenang dia, tidak ada orang untuk dimintai bantuan, tidak ada mobil, tidak ada klinik, dan tidak ada bidan. Hingga akhirnya patroli rutin tentara Israel lewat depan rumahnya.

Yasin lalu meminta tolong dan komandan patroli mengiyakan. "Dia lalu mendatangkan sebuah helikopter ke desa tempat tinggal kami lalu menerbangkan istri saya ke Rumah Sakit Rambam di Haifa (Israel)," ujarnya.

Sehabis kejadian itu, Yasin bersahabat dengan militer Israel dan mulai memasok informasi buat mereka. Mengetahui hal itu, Hizbullah menangkap Yasin dan dibawa ke sebuah bunker untuk diinterogasi dan disiksa berbulan-bulan.

Dia bilang penyiksa sekaligus orang menginterogasi dia adalah Imad Mughniyah muda, kemudian menjadi kepala operasi global Hizbullah dan akhirnya tewas oleh serangan bom dirancang Mossad (dinas rahasia luar negeri israel) pada 2008 di Ibu Kota Damaskus, Suriah.

Yasin bercerita pernah digantung dengan posisi kepala di bawah. Mughniyah lantas menembak tali mengikat kedua kaki Yasin hingga dia akhirnya jatuh ke dalam sebuah tong berisi air panas.

Gagal membikin Yasin berbicara, Mughniyah kemudian membawa anak lelaki Yasin masih bayi. Ketika dirinya terus mengaku tidak menjadi informan Israel, Yasin bilang, "Mughniyah membakar hidup-hidup bayi itu di depan mata saya."

Hizbullah akhirnya yakin Yasin tidak berkhianat dan dia dibebaskan. Sejak itulah dia memutuskan untuk membalas dendam. Dia lalu bergabung dengan Hizbullah (berarti Partai Tuhan dalam bahasa Arab) dan kariernya terus menanjak, di saat bersamaan dia memberi informasi kepada Israel soal milisi ini.

"Saya berjalan kaki...ke perbatasan Israel...untuk bertemu majikannya dari tentara Israel," tutur Sinai, ketika dia bareng putranya, Amos Sinai, mengajak Channel 2 ke perbatasan Israel-Libanon awal bulan ini.

Sinai dinilai agen jempolan dan dia menjadi informan bagi Israel selama sepuluh tahun. Dia memasok informasi-informasi penting kepada bosnya, Yoav Mordechai, sekarang berpangkat mayor jenderal dan menjabat Koordinator Kegiatan Pemerintah di Wilayah Pendudukan.

Mordechai mengakui kontribusi Sinai telah menyelamatkan lusinan tentara Israel dari serangan Hizbullah.

Pada 1997, Israel merasa nyawa Yasin mulai terancam. Yasin, istri, dan kelima anak mereka kemudian dibawa masuk ke Israel. Seluruh keluarganya kemudian berpindah agama menjadi penganut Yudaisme. Mereka tinggal di Safed, kota di pesisir Laut Galilea.

Yasin pun berganti nama menjadi Avraham Sinai. Dia menjadi penganut Yudaisme saleh dan sekarang telah menjadi rabbi.

Sinai bilang dia tidak rindu pulang ke Libanon. "Di sini (Israel) adalah surga. Di sana (Libanon) ialah neraka," katanya. "Sekarang saya berada di surga, kenapa saya mesti balik ke neraka?"

Amos Sinai adalah putranya keempat dan kini masih menjalani wajib militer. Dia prajurit berprestasi di Brigade Golani.

Kamis dua pekan lalu, Rabbi Sinai bareng putranya itu menerima medali kehormatan dari presiden Israel atas jasa dan prestasi mereka bagi negara Zionis itu.   

Gideon Fan, orang Cina berdarah Yahudi, tengah berdoa di Tembok Ratapan di Kota Yerusalem Timur. (Courtesy)

Yahudi bermata sipit

Untuk pertama kalinya militer Israel menerima tujuh orang Yahudi berdarah Cina menjadi tentara.

Logo Mossad. (mysticpolitics.com)

Melawat ke markas Mossad

Mossad hanya memiliki hampir 1.200 pegawai, termasuk sekretaris dan sopir.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Kenangan Perang Gaza

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel.

Anak-anak Gaza berkeliling menggunakan gerobak keledai saat perayaan Idul Adha di Kota Gaza, Jumat, 26 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Sahabat pena dari Gaza

Berbeda pandangan soal konflik Palestina dan Israel namun sama-sama menyukai karya Shakespeare.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Ajal Khashoggi di Konsulat Saudi

Di bagian kesimpulan, Agnes mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan sebuah penyelidikan pidana.

21 Juni 2019
Ganti Tuhan di Kobani
27 Mei 2019
Intimidasi demi Sisi
26 April 2019

TERSOHOR