kisah

Relasi Ali dan Yahudi

Sikap Muhammad Ali melunak setelah kelahiran cucunya dari pria berdarah Yahudi.

10 Juni 2016 09:57

Ketenarannya seolah kupu-kupu terbang ke seantero Bumi, namun lisannya terhadap kaum Yahudi dan gerakan Zionis mirip sengatan lebah. Petinju legendaris Muhammad Ali, wafat sepekan lalu di usia 74 tahun dan akan dimakamkan hari ini, memang memiliki hubungan rumit dengan Yahudi.

Dia menjadi simbol kemerdekaan orang kulit hitam di Amerika Serikat setelah menolak mengikuti wajib militer untuk dikirim ke Perang Vietnam. Kata-katanya tersohor saat itu adalah: "Saya tidak akan memerangi Vietkong karena tidak pernah ada orang Vietnam menyebut saya negro."

Setelah menjadi mualaf pada 1964 dan mengganti namanya dari Cassius Clay ke Muhammad Ali, dia makin simpati terhadap nasib bangsa Arab. Dia kerap melontarkan pernyataan pedas soal Yahudi, meski sebagian orang Yahudi merupakan pengagum dan pendukung lamanya.

Ketika Ali kembali ke ring di Atlanta pada 1970, sehabis absen 43 bulan karena menolak wajib militer, dia bilang mungkin bakal bertarung ulang dengan musuh bebuyutannya, Joe Frazier. "Siapa saja menginginkan ini, laga itu bakal terwujud. Semua promotr Yahudi, mereka akan melihat pertandingan itu berlangsung," katanya.

Setelah mengumumkan pensiun dari ring tinju pada 1974, Ali kerap mengkritik Zionisme dan mendukung Palestina. "Amerika Serikat adalah basis Zionisme dan imperialisme," ujar Ali kepada wartawan di Ibu Kota Beirut, Libanon, saat memulai turnya ke Timur Tengah.

Ketika mengunjungi dua kamp pengungsi Palestina di selatan Libanon, dia menambahkan, "Atas nama saya dan seluruh muslim di Amerika, saya menyatakan sokongan kepada perjuangan rakyat Palestina untuk membebaskan tanah air mereka dan mengusir penjajah Zionis."

Ali bahkan pernah mengunjungi Israel untuk mengatur pembebasan sekitar 700 warga Syiah Libanon ditahan di kamp Atlit pada 1985. Mereka ditawan lantaran menentang pendudukan negara Zionis itu di Libanon Selatan. Ali ingin membahas pembebasan tawanan itu dengan pemimpin tertinggi di Israel, namun para pejabat di sana secara halus menolak Ali.

Ali mengulangi lagi pernyataannya soal Zionis mengontrol Amerika dan dunia waktu melawat ke India pada 1980. Kunjungannya ini untuk mengkampanyekan boikot atas Olimpiade Moskow setelah invasi Rusia ke Afghanistan.

Ketika ditanya mengenai penyerbuan Kedutaan Besar Amerika di Teheran oleh India Today, Ali mengecam Iran sebagai fanatik, tapi dia masih tetap menyalahkan Yahudi.

Dia menjelaskan agama itu tidak jelek, penganutnya yang buruk. "Anda tahu seluruh struktur kekuatan dunia adalah Zionis. Mereka mengontrol Amerika, mereka menguasai dunia," tutur Ali." Mereka benar-benar memerangi Islam. Jadi kapanpun seorang muslim berbuat salah, mereka menyalahkan Islam."

Meski tidak jarang mengecam Yahudi dan Israel, Ali tidak bisa jauh dari para pengagum sejati dari kalangan Yahudi, termasuk aktor Hollywood, Billy Cristal.

Terkesan dengan petinju idolanya itu, Crystal pada 1977 pindah ke agama Yudaisme dan mengganti namanya menjadi Izzy Yiskowitz. Lima belas tahun kemudian, Ali senang betul saat Crystal menghadiri perayaan setengah abad kelahirannya.

Wartawan Howard Cossel, dilahirkan dengan nama Howard Cohen, juga termasuk pengagum sejati Ali dari komunitas Yahudi.

Ali melunak di akhir-akhir hidupnya setelah kelahiran cucu Yahudinya, dari pasangan putrinya, Khaliah Ali, dengan Spencer Wertheimer. Dia juga hadir saat cucunya itu, Jacob Weirtheimer, dibaptis sebagai penganut Yudaisme di Sinagoge Rodeph Shalom, Kota Philadelphia, pada 2012.

Khaliah bilang ayahnya menghargai keputusannya untuk menjadikan putranya itu orang Yahudi. "Dia mengikuti dan memperhatikan upacara pembaptisan itu dan kehadirannya sangat berarti bagi Jacob," katanya.

Tapi sebenarnya Ali sudah toleran sebelum kelahiran cucunya dari pria berdarah Yahudi. "Tidak peduli apapun agama Anda, jika kalian orang baik Tuhan akan memberkati," ujarnya. "Muslim, Kristen, dan Yahudi semua memuja Tuhan sama. Kita hanya melalui jalan berbeda."  

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir didampingi Duta Besar Indonesia buat Yordania berbincang dengan keluarga Isa Saleh, pengungsi Suriah asal Palmyra di kamp Azraq, Yordania, 10 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan hambar di kamp Azraq

Di sanalah, seperti tahun lalu, sinterklas Suriah dari Indonesia ini merayakan ulang tahunnya ke-66.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

23 April 2018

TERSOHOR