kisah

Ganja Persia

Tapi dalam aturan tidak ada soal hukuman penjara atau cambuk bagi siapa saja membawa ganja.

27 Juni 2016 16:55

Dalam sebuah pesta tertutp di Ibu Kota Teheran, Iran. Para peserta asyik mengobrol sambil menenggak minuman beralkohol, telah lazim dalam pesta-pesta kalangan atas. Sejurus kemudian, salah satu peserta pesta menelepon seseorang. Dalam hitungan menit, bel pintu berdering. Masuklah seorang lelaki sudah bertahun-tahun sulit dikenali identitasnya.

Yang jelas pria ini pedagang ganja. Dia bergegas membuka koper bawaannya untuk memperlihatkan ganja produksi lokal dengan beragam merek, dengan nama-nama seperti Royal Queen, DNA, dan Nirvana. Meski semua peserta pesta diberi kesempatan memilih ganja kesukaan, pengedar ganja ini terus memperhatikan jam tangannya. Sebab masih banyak pesanan mesti dia antar.

Iran dikenal keras dalam memerangi penyelundupan heorin dan opium. Dalam dua dasawarsa terakhir, ribuan pasukan keamanan Iran tewas dalam perang menghadapi kartel-kartel narkotik asal Afghanistan.

Negara Mullah ini saban tahun mengeksekusi ratusan pengedar narkotik dan secara periodik memberangus minuman beralkohol, juga diharamkan di Iran. Tapi Teheran kelihatan lupa terhadap kian ramainya pecandu ganja di dalam negeri.

Pemerintah Iran tahun lalu membuka 150 pusat layanan pecandu minuman beralkohol. Kementerian Kesehatan benar-benar terlibat dalam memerangi narkotik, seperti heroin. Namun ganja hanya disebut samar-samar dalam hukum pidana dan polisi tidak terlalu memperhatikan hal ini.

Hukuman bagi penenggak minuman beralkohol di Iran secara teori 99 cambukan, namun kebanyakan orang bebas dari sanksi cemeti dengan membayar denda. Tapi dalam aturan tidak ada soal hukuman penjara atau cambuk bagi siapa saja membawa ganja.  

Alhasil, pemakaian ganja di Iran meroket. Di negara ini ganja dikenal dengan sebutan Gol atau bunga, gampang diperoleh di mana saja di sekitar Teheran. Aroma ganja sudah lazim tercium dari restoran-restoran di kawasan wisata ski di Dizin dan Shemshak.  

Bau ganja juga rutin tercium di tempat-tempat umum di Teheran. "Ketika Anda jalan-jalan di salah satu taman di Teheran, Anda kadang bisa mencium aroma ganja, bahkan di jalan dan alun-alun," kata Taba Fajrak, 27 tahun, bekerja sebagai penata tari. "Saya bahkan pernah menghirup aroma ganja di sebuah kedai kopi."

Iran tidak memiliki data statistik resmi mengenai jumlah pecandu ganja. Namun bukti dan angka dari klinik-klinik rehabilitasi mengisyaratkan pemakaian ganja sudah marak di kota-kota besar. Husain Katbai, Direktur Kamp Yordania, salah satu klinik rehabilitasi bagi pecandu ganja, mengatakan dalam lima tahun belakangan jumlah pasien menjalani terapi meningkat empat kali lipat.

Dia menjelaskan tingginya tingkat pengangguran dan meroketnya harga-harga rumah memaksa anak-anak muda mendekam dalam rumah, sehingga hidup terisolasi dan depresi. Ganja pun menjadi pelarian buat mereka dari kesulitan hidup.

Ganja secara internasional dipandang sebagai narkotik non-adiktif, tapi bila keseringan mengisap bisa keranjingan.

Para ahli Iran menekankan naiknya persentase ganja diproduksi dalam Iran terkait dengan narkotik jenis lain, sebagian besar diselundupkan dari Amsterdam, Belanda.

Kian maraknya pemakai ganja, pasien di kliniknya Katbai juga berubah.

"Kebanyakan pasien dari keluarga kelas menengah," ujar Yusuf Najafi, bekas pecandu narkotik kini menjadi konselor di Kamp Yordania. "Mereka merasa tidak berguna, cuma bisa tinggal di rumah. Masa depan mereka tidak jelas."

Walau ganja makin tersohor di Iran, tapi tidak ada upaya pemerintah untuk mengkampanyekan kepada masyarakat soal bahaya penggunaan ganja. Pada 2013, Kepala Kepolisian Iran Ali Muayadi mengatakan kepada media pemerintah, ganja tidak ada di negara itu.

Padahal, menurut Najafi, ganja adalah pintu masuk buat menjadi pecandu narkotik jenis lain. "Methadon dijual bebas di Iran dan banyak ganja di pasaran mengandung methadon, sehingga efeknya lebih berat," tuturnya.

Abdi, 25 tahun, saban hari mengisap ganja bareng ketiga temannya masih berumur 17 tahun: Muhammad Dog Balls, Samy detroit, dan Kiarash. Dia mengaku menjadi pecandu ganja karena tiga alasan, yakni pengaruh Instagram, ketidakadilan di Teheran, dan dia perlu melupakan segala masalah.

Ayahnya kehilangan segalanya setelah bisnisnya hancur: rumah, pekerjaan, dan istri. Abdi bareng ayah dan kakaknya tinggal di bekas kantor ayahnya. Dia berjualan ganja seharga US$ 7 per gram buat menyambung hidup. Dia mengaku bosan karena tidak mempunyai pekerjaan dan masa depan.

Seorang pasien baru di Kamp Yordania berbisik bukan masalah besar mengisap ganja seharian dan tiap hari. Persis kata Abdi, ganja bikin lupa segalanya.

Kedutaan Besar Turki di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. (Twitter)

Israel dan topeng Erdogan

Turki dan Israel juga sudah menandatangani perjanjian perdagangan bebas bilateral pada 14 Maret 1996 di Yerusalem dan berlaku mulai 1 Mei 1997.

Pemandangan pada Selasa sore, 31 Mei 2016, di pusat belanja Lale di Ibu Kota Teheran, Iran. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Eksodus kaum jenius dari negara Mullah

Sebanyak 43 persen atlet olimpiade, 30 persen profesor di berbagai disiplin ilmu, seperti mekanik dan komputer di sejumlah universitas, dan tiga ribu dokter sudah dan siap keluar dari Iran.

Menteri Energi Israel Karin Elharrar, Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab (UEA) Mariam al-Muhairi, dan Menteri Air Yordania Muhammad an-Najjar pada 22 November 2021 di Dubai, UEA, menandatangani kerjasama pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Yordania. (Courtesy)

Kalah air dekap Israel

Kerjasama soal air antara kedua negara sudah berlangsung sejak satu abad silam. Pada 1921, Yordania dan Israel sepakat membangun pembangkit listrik tenaga air di simpang Sungai Yordania.

Mordy dan Natali Oknin ( keduanya duduk) didampingi dua pejabat konsuler Kementerian Luar Negeri Israel di dalam pesawat pribadi akan mengantar mereka pulang ke Israel setelah dibebaskan dqri penjara. (Israel's Ministry of Foreign Affairs)

Natali dan azan di Istanbul

Penahanan keduanya menjadi ujian terberat bagi pemerintahan Bennett. Pemimpin dari Partai Yamina ini sudah bertekad untuk membebaskan empat warga Israel masih dalam tawanan Hamas di Jalur Gaza.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Israel dan topeng Erdogan

Turki dan Israel juga sudah menandatangani perjanjian perdagangan bebas bilateral pada 14 Maret 1996 di Yerusalem dan berlaku mulai 1 Mei 1997.

03 Desember 2021
Kalah air dekap Israel
26 November 2021
Natali dan azan di Istanbul
19 November 2021
Relasi Libya-Israel
15 November 2021

TERSOHOR