kisah

Syiah Afghan palagan Suriah

Sebuah undang-undang baru di Iran mengizinkan pemberian kewarganegaraan bagi keluarga dari orang Afghan terbunuh di Suriah.

04 Juli 2016 18:55

Orang-orang seperti Jawad inilah menjadi perantara bagi kaum Syiah di Afghanistan ingin beperang membela rezim Presiden Suriah Basyar al-Assad. Dia aslinya bekerja polisi, tapi kalau lagi libur dia menjadi calo buat pasukan Garda Revolusi Iran.

Jawad sudah bekerja setahun sebagai perekrut orang-orang Syiah Afghan, sejak Laskar Fatimiyun - milisi Syiah Afghan - dibentuk pada 2014. Lewat agen perjalanan palsu bikinannya, berlokasi di lantai dua sebuah gedung, Jawad menghubungkan orang-orang Syiah di Afghanistan ingin berperang untuk Assad dengan Kedutaan Besar Iran di Ibu Kota Kabul. Pihak kedutaan kemudian memberikan visa dan ongkos perjalanan, serta komisi bagi Jawad.

Sebagai imbalan karena mau bertempur dengan pasukan pemerintah Suriah, orang-orang Syiah Afghan itu diberi izin tinggal dan gaji US$ 500 sebulan. "Kebanyakan pergi bertempur ke Suriah lantaran uang," kata Jawad. "Sebagian ke sana untuk membela tempat-tempat dikeramatkan."

Suriah dihuni banyak tempat-tempat disucikan bagi kaum Syiah. Paling dikeramatkan adalah sebuah masjid di dalamnya terdapat kubur Sayyidah Zainab, putri dari Nabi Muhammad. Lokasinya di pinggiran Ibu Kota Damaskus.

Saat the Guardian pertama kali menemui Jawad, dia tengah bersiap untuk pergi ke Suriah. ISIS telah menculik 12 pejuang Afghan di pinggiran Damaskus. Mereka direkrut oleh Jawad dan pihak keluarga meminta Jawad membebaskan mereka.

Sepulang dari Suriah sebulan kemudian, Jawad benar-benar terguncang. Seraya menunjukkan foto-foto dari Damaskus, dia mengaku telah berunding untuk melepaskan 12 pejuang Afghan itu. Namun dia bilang melihat sendiri bagaimana Iran telah menggunakan orang-orang Afghan sebagai perisai. Dia menegaskan akan berhenti menjadi perekrut. "Saya malu karena saya telah mengirim mereka," ujar Jawad.

Barangkali ada alasan lain kenapa Jawad akhirnya berubah haluan. Setibanya dari Suriah, dinas intelijen Afghanistan NDS menahan dia selama 48 jam. "Mereka bilang kepada saya, jangan menjual saudara-saudaramu untuk negara lain," tutur Jawad.

Menurut Amir Toumaj, peneliti di the Foundation for Defense of Democracies, Fatimiyun telah dinaikkan statusnya dari brigade menjadi divisi, normalnya berisi lebih dari sepuluh ribu personel.

Namun jumlah itu boleh jadi dilebih-lebihkan. Ali Alfoneh, pengamat Iran tinggal di Washington DC, memperkirakan orang Afghanistan bertempur di Suriah berjumlah dua ribu. Dia menambahkan paling tidak 334 orang Syiah Afghan terbunuh di Suriah sejak 2013.

Sebuah undang-undang baru di Iran mengizinkan pemberian kewarganegaraan bagi keluarga dari orang Afghan terbunuh di Suriah. Toumaj mengatakan beleid ini sebagai upaya untuk menggaet kaum Syiah dari Afghanistan untuk bertempur membela Assad.

Bagi Iran, memiliki milisi Afghan loyal sangat berguna untuk kepentingan jangka panjang, bukan sekadar buat Suriah. "Milisi itu jelas melayani kepentingan Garda Revolusi Iran untuk melatih orang-orang Syiah Afghan agar bisa bertempur menghadapi Taliban dan milisi Sunni lainnya di Afghanistan," kata Alfoneh.

Kalau sudah di Suriah, milisi Syiah Afghan berada di barisan terdepan. Muhammad, 19 tahun, masih ingat saat dia memasuki sebuah rumah sakit dikuasai musuh.

"Untuk menakuti kami, mereka melempar kepala seorang anak dan jatuh di kaki saya. Kedua sepatu saya terkena darah dan saya benar-benar takut," kata Muhammad, kini menetap di Teheran sepulang dari Suriah. "Saya lantas memasuki bangunan rumah sakit dan kaki saya menginjak seutas kawat sehingga memicu ledakan, 12 serpihan mengenai kaki dan tangan saya."

Sulit untuk mengetahui secara pasti soal jumlah pejuang Afghan bertempur di Suriah. Sebab jarang mayat-mayat mereka dipulangkan, sebagian yang hidup memilih kembali ke Iran.

Ihsan dan Fahim, keduanya berteman dan berasal dari Mazar i Syarif, Afghanistan, membohongi orang tua mereka. Keduanya bilang pergi ke Teheran untuk bekerja.

Tidak lama setelah kepergiannya, Ihsan mengirim pesan dan foto-foto lewat Facebook kepada temannya, Rasul. "Dia (Ihsan) orangnya sangat saleh. Dia selalu bicara soal kewajiban agama untuk pergi bertempur ke Suriah," ujar Rasul.

Sejumlah politikus Afghanistan turun tangan menangani isu ini, termasuk Nazir Ahmadzai. Dia sudah melacak jaringan perekrut orang-orang Afghan untuk bertempur di Suriah. Dia menilai Iran ingin memicu ketegangan antara Sunni dan Syiah buat menguasai Afghanistan.

"Kebijakan Iran adalah untuk memecah kaum muslim. Mereka ingin menjadikan Afghanistan seperti Suriah," tutur Ahmadzai. Dia mengklaim setidaknya 1.800 orang Afghan di Kabul direkrut untuk bertempur di Suriah. Namun peneliti seperti Alfoneh menyebut jumlah itu terlalu besar.

Ahmadzai menambahkan selain memakai agen seperti Jawad, Garda Revolusi Iran juga menggunakan masjid-masjid di Afghanistan sebagai tempat perekrutan. Salah satunya masjid di Dast i Barchi, kawasan dihuni mayoritas pemeluk Syiah di Kabul. Namun dia menolak menyebut nama masjid dimaksud.

Meski Kedutaan Iran di Kabul membantah keterlibatan mereka, Haitham Malih, anggota Koalisi Nasional Suriah, baru-baru ini mendesak pemerintah Afghanistan menyetop aliran pejuang dari negara itu ke Suriah. Dia mengklaim sekitar delapan ribu orang Afghan bertempur bareng pasukan pro-Assad.

Tapi bagi Muhsin, 24 tahun, dirinya yakin dia berada di posisi benar untuk bertempur bersama pasukan Assad. "Tujuan saya untuk membela orang-orang Syiah tidak bersalah di Suriah," katanya kepada the Guardian. "ISIS tidak memiliki rasa belas kasih. Mereka membunuhi anak-anak, orang tua, siapa saja."

Di sebuah kedai teh di Kabul, Muhsin memperlihatkan foto-fotonya selama di Suriah. Dia sudah tiga kali bertempur di Suriah. Paling baru Februari lalu, dia luka tiga kali. Salah satu peluru masih bersarang di pahanya. Dia menjadikan satu selongsong peluru sebagai buah kalung.

"Saya tidak melakukan perbuatan salah. Tempat-tempat suci itu kepunyaan kami," kata Muhsin. "Kami akan mempertahankan mereka."

Yunis, sarjana masih menganggur dan tinggal di Kabul, menilai sulit untuk menyetop kaum Syiah Afghan pergi ke Suriah. Dia mengenal hingga 20 orang sudah bertempur ke Suriah, termasuk dua sepupu dan satu pamannya telah terbunuh.  

Dia bilang kepergian orang-orang muda itu karena sudah tertekan akibat kondisi di Afghanistan tidak membaik. "Mereka bisa mati dan menjadi syuhada atau mendapatkan kehidupan lebih baik dengan gaji dan tinggal di Iran," ujarnya. "Mereka ingin memulai sesuatu yang baru."

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Derma Zionis buat pemberontak Suriah

Jumlah senjata dan dana diberikan Israel kepada para pemberontak Suriah kecil ketimbang bantuan diberikan negara-negara lain, termasuk Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

Seorang lelaki memegang elang di resor di gurun Al-Maha, Dubai. (weekenduae.com)

Sandera ningrat Qatar dan konflik Suriah

Pembebasan 26 pangeran Qatar diculik di Irak terkait pertukaran penduduk Syiah dan Sunni di Suriah. Qatar membayar tebusan jutaan dolar Amerika.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR