kisah

Teh Puteri Darfur

"Saya puteri kerajaan, bila Dinar tidak terbunuh dan Darfur tidak bergabung dengan Sudan, saya bisa menjadi puteri sejati dengan banyak istana di Darfur dan kekuasaan."

08 Juli 2016 13:19

Seorang wanita kecil berkepang rambut abu-abu tengah duduk di bawah sebuah pohon di depan penjara Ombada di Ibu Kota Khartum, Sudan. Dia kelihatan lelah dibekap panas sore.

Sukar buat membayangkan perempuan 70 tahun ini sejatinya adalah seorang puteri dari wilayah seluas Prancis. Atau dia sebenarnya bakal menjadi puteri kerajaan kalau leluhurnya, Sultan Ali Dinar, tidak dibunuh oleh pasukan Inggris seabad silam.

Meski berdarah ningrat, Suad Fadul telah 20 tahun berjualan teh dan kue bola di luar penjara, salah satu kawasan termiskin di Khartum, dan tinggal serumah bareng delapan anak dan cucunya.

"Saya menjual teh karena saya tidak ingin mengemis. Ketika Anda mempunyai uang hasil kerja sendiri, itu hal terbaik," kata Suad, diwawancarai bertepatan dengan seratus tahun kejadian telah mengubah masa depan keluarga besarnya selamanya.

Sebagai pemimpin negara Darfur merdeka, Sultan Ali Dinar membina hubungan kian karib dengan Kesultanan Usmaniyah. Larangan berkunjung bagi orang-orang Eropa ke Darfur, telah memicu Inggris buat melancarkan invasi pada 1916. Sultan Dinar terbunuh dan perlawanannya terhadap kekuasaan Anglo-Mesir berhasil ditumpas.

Anak-anak Sultan Dinar, termasuk kakek dari Suad, Saif ad-Din, terpaksa pergi dari Darfur karena takut Inggris bakal membunuh semua keturunannya. Ismail Karbino, ahli sejarah Sudan, menjelaskan banyak keturunan Sultan Dinar terpaksa hidup secara rahasia. "Dalam beberapa kasus mereka bahkan mengubah nama mereka, kalau tidak akan dibunuh," ujarnya.

Penggabungan Darfur dengan Sudan menandai permulaan dari persatuan semu, pada 2003 mencapai puncak dengan meletupnya perang saudara antara suku-suku Arab loyal kepada Khartum dan etnik-etnik lokal. Konflik bersenjata ini diperkirakan telah menewaskan setengah juta orang, kebanyakan dari sukunya Sultan Dinar, yakni Fur.

Ketika Sudan memperoleh kemerdekaan pada 1956, keluarga Suad berharap marginalisasi mereka terima bertahun-tahun bakal berakhir. Tapi mereka tetap menjadi sasaran penindasan oleh pemerintahan di Khartum.

Karbino bilang semua pemerintahan pernah berkuasa di Sudan mengikuti jejak Inggris, yakni menjauhkan keluarga Sultan Dinar. "Mereka sadar pengaruh dan karisma keluarga Dinar masih ada sehingga mereka bisa membikin Darfur menjauh dari Khartum. Mereka tidak menginginkan itu terjadi," tuturnya.

Sulaiman Ali, salah satu putra dari Sultan Dinar tetap tinggal di Darfur, diberi posisi sebagai buruh kasar oleh Inggris. Menurut sejarawan Sudan Abdullah Adam Khatir, itu merupakan cara buat mengasingkan keluarga Sultan Dinar.

"Pemerintahan-pemerintahan nasional ada selama ini adalah perpanjangan tangan dari kolonialisme," kata Khatir. "Mereka semua memerintah Sudan dari Khartum buat mempermalukan pihak lain dan mengangkat siapa saja mereka inginkan, persis dilakoni oleh para gubernur jenderal Inggris di Sudan."

Suad dilahirkan di Kordofan Utara. Tidak seperti sepupu-sepupunya, dia tidak bersekolah karena memberontak dan keluarganya tidak memaksa. "Tapi sekarang saya menyesal. Kehidupan saya barangkali bisa berbeda (kalau saya bersekolah)."

Suad tinggal bersama keluarganya hingga dia menikah buat kedua kalinya dengan Rabih, bekerja sebagai tentara di Khartum. Dia lantas dikaruniai enam anak dan membuka sebuah restoran kecil di pasar Suq Libya di Omdurman.

Seiring dengan usianya makin senja, Suad beralih menjadi penjual teh di pinggir jalan di Khartum, bergabung dengan kaum hawa lainnya, juga berasal dari wilayah konflik di Sudan. "Hal terburuk dari pekerjaan ini adalah harga gula benar-benar mahal dan selalu naik, jadi saya tidak bisa mengambil untung," ujarnya.

Meski tinggal jauh dari tanah airnya, dia tetap terhubung dekat dengan Darfur. "Sebagai keluarga Ali Dinar, kami biasa bertemu di acara pemakaman dan pernikahan," tutur Suad. Dia menambahkan keluarga besar Suad kini sudah tergabung dalam sebuah grup WhatsApp untuk saling bertukar kabar atau acara.

Suad mengatakan dirinya benar-benar dipengaruhi oleh Perang Darfur sejak 2003 dan kehilangan banyak anggota keluarganya, termasuk suami dari putrinya, Aisyah, kini berjualan roti buatan sendiri buat membesarkan kedua anaknya.

Suad bukanlah pendukung Presiden Umar al-Basyir. "Dia telah gagal memimpin negara ini, dia sudah membunuh banyak orang, dan memaksa yang lain mengungsi," katanya. "Anak-anak kami tidak bisa mendapat pekerjaan karena orang-orang Arab lebih disukai di Sudan."

Dia kadang masih mengkhayal kalau saja sejarah berkata lain. "Saya puteri kerajaan, bila Dinar tidak terbunuh dan Darfur tidak bergabung dengan Sudan, saya bisa menjadi puteri sejati dengan banyak istana di Darfur dan kekuasaan."

Namun takkdir menentukan hal berbeda. Dia kini berjualan teh dan kue bola di bawah sebuah pohon.    

Pangeran Muhammad bin Salman diangkat menjadi wakil putera mahkota. (al-arabiya)

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

Jalan di sekitar Masjid Al-Haram, Kota Makkah, lengang dari kendaraan sejak Arab Saudi memberlakukan jam malam pada 23 Maret 2020. (Haramain Info)

Jejak Yahudi di negeri Dua Kota Suci

Orang-orang Yahudi di Al-Ahsa menduduki posisi-posisi penting di Al-Ahsa, khususnya menjadi bendahara, dikenal dengan sebutan sanduq amini.

Pos pemeriksaan dijaga milisi Syiah di Kota Tikrit, Irak. (thetimes.co.uk)

Konsorsium milisi Syiah di Irak

Beberapa milisi Syiah meraup fulus lebih dari US$ 100 ribu saban hari dari satu pos pemeriksaan di jalan menghubungkan Baghdad dan provinsi-provinsi di selatan Irak lewat pungutan liar.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sepak terjang milisi bayaran bikinan Erdogan

Erdogan telah mewujudkan ideologi ekspansionis atas nama Islam sejak menyerbu wilayah timur laut Suriah Oktober tahun lalu, merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

pangeran muhammad bin salman

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

14 Oktober 2020

TERSOHOR