kisah

Alpa Mina

Hasil investigasi kantor berita Associated Press and Reuters menyebutkan lebih dari dua ribu orang meninggal. Itu pun berdasarkan data 30 negara dari total 180 negara pengirim jamaah haji.

22 Agustus 2016 10:32

Zahra Roknabadi masih belum bisa menyembunyikan kekesalannya. Sudah setahun ayahnya, Mantan Duta Besar Iran buat Libanon Ghazanfar Roknabadi wafat dalam Tragedi Mina, namun sampai kini dia belum bisa mengajukan tuntutan hukum terhadap pemerintah Arab Saudi, mestinya bertanggung jawab dalam musibah itu.

Jenazah ayahnya baru diterima keluarga dua bulan setelah insiden memalukan tersebut. Itu pun, menurut Zahra, kondisinya sudah sulit dikenali kecuali dari cincin melingkar di jarinya.

Tragedi lantaran tabrakan arus jamaah haji saat pelemparan jumrah di Kota Mina itu terjadi pada 24 September 2015. Ribuan orang tewas dan luka. Hasil investigasi kantor berita Associated Press and Reuters menyebutkan lebih dari dua ribu orang meninggal. Itu pun berdasarkan data 30 negara dari total 180 negara pengirim jamaah haji.

Petaka menimpa jamaah haji itu memang pantas dipersoalkan karena banyak kejanggalan terjadi. Pemerintah Arab Saudi bahkan terlihat jelas ingin lari dari tanggung jawab. Dengan pongah, negara Kabah itu menolak meminta maaf dan malah menyalahkan pihak lain.

Di hari kejadian saja - korban hingga kini sudah 769 orang wafat dan 934 lainnya luka - tiga pejabat Saudi langsung melempar tudingan jamaah haji sebagai penyebabnya. Padahal waktu itu belum ada perintah penyelidikan. Setahun berlalu, komite investigasi belum melansir hasil penyelidikannya, bahkan kelihatan ingin membiarkan orang lupa atas kasus itu.

Ketua Komite Haji Pusat Arab Saudi sekaligus Gubernur Makkah pangeran Khalid al-Faisal bilang jamaah asal Afrika sebagai dalang tragedi Mina.

Menteri Kesehatan Khalid al-Falid menyalahkan jamaah karena tidak menaati panduan dan instruksi.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Mayor Jenderal Mansyur at-Turki bilang saking banyaknya jamaah haji ingin buru-buru melempar jumrah sebagai penyebab petaka Mina.

Lalu muncul kabar musibah berlangsung di Jalan 204, Kota Mina, itu terjadi lantaran ada 300 jamaah haji Iran berbalik arah. Namun tidak dijelaskan apa penyebab mereka melawan arus sehingga terjadi tabrakan dengan jamaah lainnya.

Surat kabar terbitan Libanon, Ad-Diyar, memunculkan laporan kehadiran rombongan Wakil Putera Mahkota Muhammad bin Salman, juga anak dari Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz, sebagai penyebab tragedi Mina. Konvoi dikawal 200 tentara dan 150 polisi ini telah menutup jalan sehingga memaksa jamaah berbalik arah.

Bahkan, tulis Ad-Diyar dan kantor berita Fars, sehari setelah kejadian Saudi diam-diam memancung 28 petugas haji dinyatakan bersalah atas musibah itu. Lagi-lagi Saudi membantah informasi ini.

Sejumlah saksi selamat dari bencana itu membenarkan tragedi Mina terjadi karena kesalahan aparat keamanan Saudi. Menurut Ahmad, jamaah haji dari Mesir, pelaksanaan ibadah haji tidak terorganisir dengan baik. "Mereka bisa membuat sebuah jalan menuju tempat pelemparan jumrah dan satunya lagi untuk yang balik dari sana," ujarnya. "Bila satu polisi saja berdiri di mulut tiap jalan dan mengatur jamaah, petaka ini tidak akan terjadi."

Muhammad Hasan pun menuding polisi berjaga-jaga kelihatan tidak berpengalaman. Sehingga dia mencemaskan tragedi serupa bisa terulang. "Anda hanya akan menyaksikan para tentara itu berkumpul di satu tempat tanpa berbuat apa-apa."

Cerita beredar terjadi tabrakan karena ada rombongan jamaah diminta memutar balik sebab semua jalan ditutup. "Polisi menutup semua pintu masuk dan keluar ke kamp para jamaah, cuma menyisakan satu jalan," tutur Ahmad Abu Bakar, 45 tahun, jamaah haji asal Libya bareng ibunya selamat dari tragedi.

Sejauh ini cuma Iran negara muslim berani menuntut Saudi untuk bertanggung jawab. Mereka bahkan berencana menggugat sejumlah pejabat Saudi berwenang dalam penyelenggaraan ibadah haji ke pengadilan internasional.

"Masalah ini tidak akan dilupakan dan negara-negara Islam akan serius mempertanyakan hal itu," kata pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei lewat situs resminya leader.ir. "Bukan menuding ini dan itu, Arab Saudi harusnya menerima tanggung jawab dan meminta maaf kepada kaum muslim dan keluarga korban."

Iran memang pantas murka. Korban meninggal paling banyak adalah jamaah haji mereka, 464 orang. "Kematian lebih dari seribu orang bukan persoalan kecil. Negara-negara muslim harus memusatkan perhatian pada hal ini," ujar Khamenei.

Ad-Diyar melansir korban wafat dalam tragedi Mina lebih dari 1.300 orang. Ini insiden terburuk sejak musibah serupa pada 1990 menewaskan 1.426 jamaah haji.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun mengakui Saudi mempersulit pencarian korban. Petugas haji Indonesia baru bisa melihat jenazah korban insiden Mina sehari setelah peristiwa memilukan itu. "Terus terang petugas kita tidak leluasa untuk mendapatkan informasi di rumah sakit dan tempat jenazah karena penjagaan ketat sekali," katanya, seperti dilansir Koran Tempo September tahun lalu.

Semoga saja negara yang jamaah hajinya menjadi korban tragedi Mina tidak bungkam, seperti saat Raja Salman menjanjikan keluarga korban dengan fulus santunan satu juta riyal untuk tiap korban wafat dan cacat tetap, juga 500 ribu riyal miliar bagi korban cedera, akibat kejatuhan sebuah derek raksasa di Masjid Al-Haram, Kota Makkah, dua pekan sebelum Petaka Mina.

Tapi sampai sekarang, menurut Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel, uang santunan itu masih ditahan Kementerian Keuangan Saudi. Dia tidak bisa memastikan kapan pihak keluarga bakal menerima fulus duka itu.

Ketika ditanya apakah pemerintah bakal menuntut pemerintah Saudi bertanggung jawab atas petaka Mina, kepada Albalad.co melalui WhatsApp September tahun lalu, Retno Marsudi lebih memilih bilang, "Pemerintah meminta kiranya investigasi dapat segera diselesaikan dan hasilnya disampaikan secara transparan."

Lagi-lagi jawaban itu meragukan. Seperti kata Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz asy-Syekh, para pejabat negara Kabah itu tidak pantas disalahkan atas tragedi Mina.

"Kalian tidak bersalah atas apa yang telah terjadi. Ketika segalanya tidak bisa dikontrol oleh manusia, kalian tidak boleh dituding," kata Syekh Abdul Aziz dalam pidatonya disiarkan lewat televisi. "Takdir tidak mungkin dihindari."

Setahun sudah Tragedi Mina berlalu, namun tidak semua keluarga korban bisa melupakan insiden itu. Mantera menyebutkan korban meninggal mati syahid tentu tidak mampu untuk melupakan musibah ini. Lebih penting lagi, kalau pun seluruh korban wafat menjadi syuhada, bukan berarti Raja Salman bin Abdul Aziz - menggelari dirinya Pelindung Dua Kota Suci - bebas dari tanggung jawab. Sebab darah sudah tumpah di Mina.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR