kisah

Geliat Gulen di Indonesia

Yayasan Pasiad di Indonesia ditutup karena tidak mendapat rekomendasi dari Kedutaan Beesar Turki. "Apa mungkin mereka bakal memberi rekomendasi?"

29 Agustus 2016 11:20

Dari luar gedung kaca itu mirip kantor. Suasana belajar mengajar sudah selesai saat Albalad.co tiba di sana Rabu pekan lalu. Yang terlihat cuma sekitar lima pelajar tengah bermain bola basket dalam lapangan di bagian dalam gedung.

Bangunan itu adalah milik Sekolah Pribadi di Depok, Jawa Barat. Ia satu dari sembilan sekolah mantan mitra Yayasan Pasiad di Indonesia. Ia termasuk dalam sembilan sekolah swasta akhir bulan lalu diminta pemerintah Turki untuk ditutup lantaran diduga terkait gerakan Hizmet, bentukan Muhammad Fethullah Gulen, ulama Turki menetap di Amerika Serikat sejak 1999.

Sejak kudeta gagal 15 Juli lalu, Presiden Recep Tayyip Erdogan kian gencar memberangus para pengikut Gulen, dituduh sebagai dalang upaya penggulingan rezim. Lebih dari 35 orang sudah ditahan dan 70 ribu pegawai negeri, kebanyakan guru, diberhentikan. Seribu lebih sekolah, yayasan, dan rumah-rumah sakit dibangun oleh Hizmet ditutup.

Sejatinya, upaya Erdogan buat melenyapkan pengaruh Gulen - dianggap matahari kembar di Turki - sudah berlaku setelah skandal korupsi melibatkan putra Erdogan, Bilal Erdogan, dan empat menteri terbongkar Desember 2013.

Efeknya pun terasa hingga ke gerakan Gulen di Indonesia, lebih banyak aktif di kegiatan pendidikan melalui Yayasan Pasiad.  

Duta besar Turki waktu itu, menurut seorang pria pernah terlibat dalam Yayasan Pasiad Indonesia, sejak awal 2014 rajin berkampanye negatif soal Gulen dan Pasiad ke beragam instansi pemerintah.  

"Kampanye negatifnya itu berupa Pasiad menggunakan uang negara, mengirim mahasiswa-mahasiwa bodoh belajar ke Turki, Pasiad mengajarkan radikalisme di sekolah-sekolah," kata lelaki telah 20 tahun bergaul dengan orang-orang Gulen di Indonesia itu. "Guru-guru Turki mengajar di Indonesia tidak berprestasi, mereka didatangkan karena tidak punya pekerjaan. Terakhir, Pasiad dianggap berafiliasi dengan partai tertentu di Indonesia, namun bukan partai pemenang."

Hingga akhirnya, Yayasan Pasiad - mulai beroperasi secara sah di Indonesia sejak 2000 - ditutup pada 1 November 2015. Sebabnya cuma satu, Kedutaan Besar Turki tidak memberi rekomendasikan kepada Yayasan Pasiad, sebagai salah satu syarat untuk mendaftarkan ulang ke Kementerian Luar Negeri.

Pria menolak ditulis namanya karena isu ini sangat sensitif cuma tertawa nyinyir mengingat kejadian itu. "Apa mungkin mereka bakal memberi rekomendasi?" Sembari berbisik, dia bilang intel-intel Turki sudah masuk ke Indonesia untuk mencari tahu siapa saja pegiat gerakan Hizmet di Indonesia serta untuk melancarkan propaganda anti-Gulen.

Orang-orang Gulen mulai masuk ke Indonesia pada 1995. Seperti nama gerakannya, Hizmet, berarti melayani, mereka aktif dalam tiga bidang utama, yakni pendidikan, bantuan kemanusiaan, dan budaya.

Dia menjelaskan setelah resmi dan sah terbentuk pada 2000, Yayasan Pasiad Indonesia menjalin kerja sama dengan sembilan sekolah swasta kepunyaan orang Indonesia. "Pasiad legal masuk ke Indonesia melalui Sekretariat Negara, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Pendidikan Nasional sebagai mitra utama," ujarnya.

Kerja samanya berupa pertukaran pelajar, pemberian beasiswa, pengembangan kualitas belajar mengajar, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, pengembangan manajemen lembaga, penyelenggaraan olimpiade, seminar, pelatihan, dan sebagainya.  

Sumber itu menegaskan tidak ada sekolah mitra dibangun oleh Pasiad, kecuali satu sekolah mitra di Aceh setelah terjadinya tsunami.

Aktivitas sosial lain berupa pendistribusian hewan kurban. "Pernah seribu sapi. Tahun lalu, sebelum Pasiad ditutup sekitar 160 sapi. Tahun-tahun sebelumnya 400-500 sapi," tuturnya.

Sumber itu memastikan Hizmet adalah gerakan masyarakat sipil, bukan dakwah atau membawa misi Islam. "Gerakan ini kalau membawa nama Islam, apa iya bisa diterima di negara-negara non-muslim. Akan sangat sulit," katanya. "Bagaimana sekolah-sekolah ini bisa berada di 160 negara."

Erdogan sudah menabuhkan genderang perang terhadap Gulen. Sebanyak 248 mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Pasiad di Turki terancam ikut terancam. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bilang pihak KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Ibu Kota Ankara sudah menyarankan seluruh mahasiswa Indonesia untuk meninggalkan tempat-tempat terkait gerakan Gulen.

"Kita tidak ikut mencampuri politik dalam negeri Turki, tapi menjadi perhatian kita adalah perlindungan terhadap warga negara Indonesia," kata Retno kepada wartawan di kantornya minggu lalu. "Kita harus memetakan anak-anak ini kelanjutan seklahnya seperti apa? Karena sudah jelas beasiswa dari pasiad sudah tidak akan ada lagi."  

Retno menjelaskan saat ini terdapat 738 mahasiswa Indonesia di Turki. Dari jumlah ini, yang mendapatkan beasiswa Pasiad 248 orang, empat di antaranya adalah penerima beasiswa S-2 dan sisanya penerima beasiswa S-1.

Sebanyak 248 mahasiswa penerima beasiswa Pasiad itu tersebar di 20 kota di Turki. Paling banyak di Kota Istanbul dan sekitarnya (62 orang), Ankara (59 orang), dan Kayseri (27 orang). Mereka berasal dari 16 provinsi, paling besar dari Jawa Barat, Aceh, dan Jawa Tengah. "Saya harus mulai juga berbicara dengan pemerintah daerah setempat mengenai kelangsungan pendidikan mereka di sana," ujar Retno.

Dalam keterangan tertulis diterima Albalad.co Jumat dua pekan lalu, Yayasan Pasiad meminta seluruh masiswa Indonesia penerima beasiswa dari pihaknya untuk meninggalkan Turki. Mereka diimbau melanjutkan kembali pendidikan di Indonesia.

Pasiad menyampaikan imbauan itu terkait masalah keamanan. Yayasan ini menyebutkan bahkan KBRI di Ankara tidak bisa menjamin keamanan para penerima beasiswa Pasiad. "Keamanan di sini dalam arti tidak memiliki daya dan upaya melindungi penerima beasiswa dari penangkapan dan pengeluaran dari tahanan," kata Pasiad.

Meski begitu, Pasiad tidak bisa memaksa bila ada warga negara Indonesia ingin tetap melanjutkan kuliah di Turki. Dengan syarat masalah keuangan dan keamanan ditanggung sendiri.

Sebab, menurut Pasiad, pihaknya tidak mampu lagi memberikan dukungan dana. "Sebanyak 90 persen dari donatur pemberi beasiswa saat ini mendekam dalam penjara," ujar Pasiad. Mereka menambahkan siapa saja tidak sejalan dengan pemerintah hanya memiliki dua pilihan: meninggalkan Turki atau menunggu giliran masuk ke dalam penjara.

Rezim Erdogan mulai berkuasa di Turki sejak 2003 memang mencengangkan dunia. Di negara sekuler dan anti-Islam dibentuk Mustafa Kemal Ataturk sejak Kesultanan Usmaniyah runtuh pada 1918 ini, Erdogan lewat AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) berhasil menguasai negara.

Dalam buku terbarunya, Islamic Populism in Indonesia and Middle East, Vedi Hadiz, Profesor Studi Asia di Universitas Melbourne, Australia, menyebut fenomena Erdogan dan AKP itu sebagai Populisme Islam, sebuah konsep bermakna suatu aliansi multikelas terbentuk seolah-olah mengilangkan perbedaan kepentingan.

Dalam buku tersebut, Vedi Hadiz membandingkan Indonesia dengan Mesir daan Turki. Ketiga negara ini sama-sama berpenduduk mayoritas Islam. Bahkan, Indonesia merupakan negara muslim terbesar sejagat.

Hingga Vedi Hadiz sampai pada satu kesimpulan terjadi suatu perkembangan dari politik Islam, tadinya ditindas oleh negara sekuler kapitalis Kemalis, sekarang menguasai negara. Rezim Presiden Recep Tayyip Erdogan tidak secara terbuka menyatakan sebagai negara Islam. Iaa setuju dengan negara sudah ada, setuju dengan pola-pola demokrasi, dan setuju dengan kapitalisme neoliberal.

Sedangkan di Mesir, Al-Ikhwan al-Muslimun menguasai masyarakat sipil tapi tidak berhasil menguasai negara. Ketika menguasai negara juga sebentar saja.

Namun di Indonesia, Islam tidak pernah menguasai masyarakat sipil atau menguasai negara. Sebab tidak ada pengusaha besar Islam.

"Kalau pun ada itu adalah kroninya Soeharto. Tapi yang bisa mengklaim sebagai representasi dari kepentingan suatu aliansi Islam yang menyatukan multi kelas dalam simbolisme Islam nggak ada," kata Vedi. "Itu menjadi salah satu sebab ketidakmampuan populisme Islam di Indonesia terbentuk untuk menjadi populer dan untuk mencapai tingkat seperti dicapai di Mesir apalagi di Turki."

Meski begitu, Vedi juga memiliki pertanyaan, seberapa lama populisme Islam itu bisa bertahan di Turki.

Keretakan sudah mulai terlihat setelah munculnya kasus korupsi melibatkan anak lelaki Erdogan. "Dia (Erdogan telah membikin rakyat Turki benci terhadap Islam," ujar seorang guru dari sekolah milik Pasiad di Turki, saat ditemui usai salat magrib di Bekasi. Dia bersama istrinya, orang Indonesia pindah ke Bekasi karena tidak mungkin lagi mendapat pekerjaan di negara asalnya.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

Kutbettin Gulen, adik kandung Fethullah Gulen, ditangkap polisi Turki di Kota Gaziemir, Provinsi Izmir, Turki, pada 2 Oktober 2016. (Twitter)

Turki tahan adik Gulen

Kutbettin Gulen adalah saudara kandung pertama Gulen ditahan sejak kudeta gagal 15 Juli lalu.

Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan semasa masih bersahabat. (Daily Mail)

Turki secara resmi minta Amerika tangkap Gulen

"Tapi kami perlu memenuhi persyaratan hukum sesuai aturan berlaku di negara kami," kata Biden.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR