kisah

Misteri raibnya ratusan bocah Yahudi Yaman

Sebanyak 1.500-5.000 anak dari keluarga imigran Yahudi asal negara-negara Arab hilang secara misterius di Israel selama 1948-1954. Negara Zionis itu masih menutup rapat kasus ini.

14 September 2016 16:15

Di usia 84 tahun, Yona Yosef masih bersemangat. Kedua matanya bersinar saat membicarakan soal sembilan anak dan banyak cucunya. Tapi ketika ditanya mengenai kejadian 67 tahun lalu, waktu dia masih remaja dan tiba di Israel bareng keluarganya dari Yaman, air matanya bercucuran.

"Orang-orang itu datang, mereka bilang kepada saya akan membawa Saadia ke klinik," kata Yona, suaranya tercekat mengenang hari saat dia membawa adik tirinya berusia empat tahun tersebut ke klinik buat pemeriksaan kesehatan. "Di klinik, mereka menyuruh saya pulang. Mereka mengatakan akan mengantarkan dia (Saadia) ke rumah. Tahu apa saya? Waktu itu saya masih kecil."

Sejak itu, Yona tidak pernah bertemu adik perempuannya itu.

Seperti kebanyakan imigran saat itu. Yona dan keluarganya tinggal di kamp sementara setelah mereka mendarat di Israel pada 1949. Istri kedua ayahnya dan dua anak mereka, termasuk Saadia, tinggal bareng mereka.

Selama 70 tahun, rakyat Israel akrab dengan kisah keluarga imigran Yahudi dari tanah Arab kehilangan anak-anak mereka, kemungkinan diculik, selama 1948-1954, tidak lama setelah tiba di Israel. Dalam sejumlah kasus, anak-anak Yahudi itu dibawa orang dan tidak pernah ditemukan lagi. Sebagian lagi, para orang tua diberitahu anak-anak mereka tiba-tiba meninggal.

Beberapa spekulasi menyebutkan 1.500-5.000 anak Yahudi itu diserahkan kepada keluarga tidak beranak, kemungkinan pasangan selamat dari Holocaust. Teori lain menyatakan anak-anak itu dikirim ke keluarga-keluarga Yahudi di Amerika Serikat.

Sebagian pihak mengira keluarga-keluarga Yahudi Ashkenazi asal Eropa, berkuasa sejak Israel berdiri pada 1948, mengadopsi anak-anak itu untuk memberikan kehidupan lebih baik. Sebab keluarga imigran Yahudi berbahasa Arab sebagian besar miskin.      

Banyak yang menduga pegawai negeri - dokter, perawat, pekerja sosial, dan pejabat pemerintah - terlibat. Apakah perintah menghilangkan bocah-bocah Yahudi asal Yaman itu dari pejabat tinggi masih belum terjawab.

Tiga komite bentukan pemerintah, terakhir bertugas pada 1990-an, telah menyelidiki kasus ini. Ketiga komite ini menyimpulkan kebanyakan anak itu meninggal karena sakit, sebagian kecil hilang karena diadopsi. Namun sebagian besar keluarga menolak temuan itu.

Kisah raibnya anak-anak Yahudi Yaman ini kembali mendapat perhatian beberapa bulan belakangan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Juni lalu bilang dia telah membuka kasus itu lagi dan sudah menunjuk Menteri Tzachi Hanegbi untuk mengusut perkara ini hingga tuntas. "Masalah hilangnya anak-anak Yahudi Yaman ini adalah sebuah luka menganga bagi banyak keluarga tidak tahu kenapa bayi mereka bisa hilang," ujar Netanyahu.

Hanegbi sekarang yakin ratusan anak Yahudi asal Yaman telah diambil dari orang tua mereka, meski dia tidak tahu kenapa dan ke mana mereka dilarikan. "Mereka mengambil anak-anak itu. Saya tidak tahu di mana mereka," tuturnya kepada stasiun televisi Channel 2.  

Pengakuan ini memunculkan harapan bagi keluarga-keluarga imigran Yahudi asal Yaman telah kehilangan anak-anak mereka.

"Kami percaya negara perlu memberi penjelasan kepada kami," kata Avi Yosef, putra dari Yona Yosef. "Kami tahu bayi-bayi itu hilang. Saadia diambil dari tangan ibunya."

Avi Yosef, berprofesi sebagai pengacara, sejak kecil sudah mendengar cerita hilangnya Saadia dan dua anak bibinya.

Yael Tzadok, mantan wartawan terlibat dalam isu ini lebih dari 30 tahun lalu ketika dia mulai mewawancarai ibu-ibu Yahudi asal Yaman di acara radionya, menilai raibnya ratusan anak Yahudi Yaman adalah sebuah kejahatan mengerikan dengan skala tidak terduga dan negara tidak mau mengungkap kasus ini.

"Sulit mendengarkan kisah mereka. Saya tidak bisa tidur malamnya. Bagi saya mereka menceritakan yang sebenarnya," ujar Yael. "Ada banyak saksi bilang anak-anak ini diculik."

Tzadok kini bekerja di Achim Vekayamim (Saudara Masih Ada), lembaga nirlaba untuk mengungkap hilangnya anak-anak Yahudi Yaman dan mencari jejak keluarga mereka. Saat ini kalau masih hidup, anak-anak itu telah berusia 60-an dan 70-an tahun.

Zvi Amiri salah satunya. Ketika berusia 30-an tahun, dia baru tahu dirinya cuma anak angkat dan mulai mencari orang tua kandungnya. Dengan bantuan seorang pengacara, dia memperoleh dokumen adopsi dirinya dan menemukan dia adalah anak dari imigran Yahudi asal Tunisia.

Dia juga menemukan ibunya kini dirawat di rumah sakit jiwa lantaran depresi akibat kehilangan anaknya. Dalam dokumen adopsi tersbeut, ibunya hanya memberikan cap jempol tanpa tanda tangan. "Jika dia tidak tahu bagaimana menulis namanya, lalu bagaimana mungkin dia bisa tahu dokumen apa telah dia tanda tangani," tutur Amiri, sekarang berumur 64 tahun.

Hanegbi telah mulai mempelajari dokumen-dokumen rahasia tersimpan dalam Arsip Negara. Bundelan dokumen setebal 1,5 juta halaman itu dikumpulkan oleh tiga komite investigasi telah membahas isu ini sejak 1960-an. Sebagian dokumen lagi masih dirahasiakan.

Sebagai bagian dari investigasi, Hanegbi awal Juli lalu meminta bos Shin Beth dan Mossad membuka dokumen rahasia soal keterlibatan dua badan intelijen ini dalam kasus hilangnya anak-anak imigran Yahudi Arab. Hanegbi bilang dia akan terus mempelajari semua dokumen hingga bulan depan. Selepas itu, dia bakal memberi rekomendasi kepada pemerintah untuk merilis seluruh bahan ke masyarakat.

Besar sekali harapan Yona dan orang tua Yahudi Arab lainnya agar hasil investigasi Hanegbi dapat membuka tabir raibnya anak-anak mereka.

Shimon Peres menandatangani formulir pengajuan untuk menjadi warga negara Palestina pada 1937. (PIC)

Temu rahasia Gus Dur-Peres di Halim

Kalau mau menjadi penengah, Indonesia harus berdialog dengan kedua pihak. Indonesia juga harus dan pantas dilibatkan sebagai mediator dalam proses perdamaian Palestina-Israel.

Daftar produk Turki diserukan untuk diboikot di Arab Saudi. (Twitter)

Gila belanja istri Erdogan

Emine Erdogan memiliki bros seharga Rp 221 juta.

Pangeran Muhammad bin Salman diangkat menjadi wakil putera mahkota. (al-arabiya)

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

Jalan di sekitar Masjid Al-Haram, Kota Makkah, lengang dari kendaraan sejak Arab Saudi memberlakukan jam malam pada 23 Maret 2020. (Haramain Info)

Jejak Yahudi di negeri Dua Kota Suci

Orang-orang Yahudi di Al-Ahsa menduduki posisi-posisi penting di Al-Ahsa, khususnya menjadi bendahara, dikenal dengan sebutan sanduq amini.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Temu rahasia Gus Dur-Peres di Halim

Kalau mau menjadi penengah, Indonesia harus berdialog dengan kedua pihak. Indonesia juga harus dan pantas dilibatkan sebagai mediator dalam proses perdamaian Palestina-Israel.

30 Oktober 2020

TERSOHOR