kisah

Gilas sejarah gusur penduduk

"Mereka telah mengubah tempat suci ini menjadi sebuah mesin, kota ini tidak lagi memiliki identitas, warisan sejarah, budaya dan lingkungan alami," kata Anggawi.

16 September 2016 16:33

Sekitar 1,8 juta jamaah haji sudah pulang ke negara asal mereka setelah lima hari melaksanakan rukun Islam kelima di Kota Makkah, Arab Saudi. Bertawaf, melempar jumrah, menginap di Mina, dan minum air Zamzam.

Saat mengelilingi Kabah, bangunan kuno di tengah kompleks Masjid Al-Haram, para jamaah haji mesti mendongak untuk melihat salah satu menara masjid, terlihat kerdil ketimbang Menara Abraj al-Bait, kompleks hotel, pusat belanja, dan bangunan terjangkung kedua sejagat.

Tahun depan, kota suci itu bakal dihuni Abraj Kudai, hotel terbesar di planet ini.

Makkah memang tengah berpacu dengan modernisasi. Bangunan-bangunan kuno raib, berganti dengan derek raksasa dan tiang-tiang pancang menghiasi langit Makkah. Semua ini demi kenyamanan dan kelegaan jamaah haji diperkirakan jumlah mereka bakal membengkak di masa depan.  

Sebanyak apapun jamaah haji dan umrah datang, namun mereka cuma memikirkan bagaimana mendekatkan diri kepada Allah. Tapi mereka tidak pernah tahu dua juta penduduk Makkah berjuang menghadapi perubahan massal dipaksakan akibat pembangunan besar-besaran di sana.

Pada 1960-an, sebelum berangkat haji menjadi lebih mudah, jumlah jamaah haji saban tahun di kisaran 200 ribu orang. Kini angkanya dua hingga tiga juta jamaah, ditambah 12 juta jamaah umrah sepanjang tahun, kecuali musim haji.

Anjloknya harga minyak mentah global sejak pertengahan 2014 telah mengakibatkan Arab Saudi defisit, bahkan diperkirakan sampai lima tahun ke depan menurut IMF (Dana Moneter Internasional). Tentu saja, wisata ziarah dan religi di Makkah bisa menjadi sumber pendapatan sangat menggiurkan bagi perekonomian negara Kabah itu.

Perubahan drastis Makkah hanya menyisakan bangunan kuno berumur ribuan tahun dalam hitungan jari. Benteng zaman Kesultanan Usmaniyah dan bukit-bukit sudah raib berganti dengan kompleks Menara Jam. Rumah Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad, sudah menjadi toilet umum.

Ribuan rumah dan permukiman tua juga sudah dihancurkan untuk perluasan kota. Sebanyak 13 dari 15 permukiman kuno di Makkah telah dibuldoser untuk menjadi lahan pembangunan hotel dan pusat belanja.

Sami Anggawi adalah satu dari sedikit orang paling memahami rusaknya Makkah akibat proyek modernisasi.

Arsitek kini tinggal di Kota Jeddah itu menghabiskan masa kecilnya di rumah peninggalan leluhurnya di Makkah. Seperti kebanyakan orang asli Makkah, ayahnya adalah pemandu bagi jamaah umrah atau haji. Ketika masih belia, Anggawi mengaku membantu ayahnya membawakan dan menjaga sepatu para jamaah sedang salat.

Keluarga besar Anggawi tadinya menetap di Syab Ali, kawasan katanya tempat Nabi Muhammad dilahirkan. Namun rumah mereka dirobohkan karena terkena proyek perluasan Masjid Al-Haram pada 1950-an. Anggawi tahun lalu bilang kepada Al-Jazeera, keluarganya dipaksa pindah rumah lebih dari dua kali gara-gara perluasan Makkah.

Lelaki 65 tahun ini juga pendiri Pusat Riset Haji, telah menghabiskan tiga dasawarsa untuk meneliti dan mendokumentasikan situs-situs bersejarah di Makkah dan Madinah. "Mereka telah mengubah tempat suci ini menjadi sebuah mesin, kota ini tidak lagi memiliki identitas, warisan sejarah, budaya dan lingkungan alami," kata Anggawi kepada the Guardian pada 2012.

Kisah Anggawi mirip banyak keluarga asli Makkah lainnya, menggantungkan kehidupan mereka dari haji dan umrah, namun kian sebal melihat laju modernisasi kota kelahiran mereka itu.

Irfan al-Alawi, juga warga asli Makkah namun sekarang menetap di Ibu Kota London, Inggris, menilai kaum muslim sudah terlambat buat menyelamatkan  Makkah. Sudah terlalu banyak bangunan bersejarah Islam dilenyapkan.

Selain kediaman Khadijah, yang sudah raib adalah rumah kelahiran nabi dan Darul Arqam, kediaman sahabat nabi dijadikan tempat rapat sekaligus sekolah. Di sana pula Umar bin Khattab bersyahadat. Hotel Hilton berdiri tegak sekarang dulunya lokasi rumah Abu Bakar.

"Ini adalah kehancuran Makkah dan namanya bukan lagi Makkah tapi Manhattan. Kita sudah kehilangan 98 persen tempat bersejarah di Makkah dan Madinah," kata Alawi, juga Direktur Eksekutif the Islamic Heritage Foundation, berkantor di London, kepada Albalad.co sehari menjelang berganti kalender 2015. "Memang sudah terlambat buat menyelamatkan Makkah tapi kita masih ada peluang untuk melindungi Madinah."

Menurut Jawahir as-Sudairi, akademisi asal Saudi di Harvard’s Kennedy School, penduduk Makkah harus terus beradaptasi dalam hal pendapatan, pekerjaan, dan cara hidup untuk menghadapi perubahan kota ingin menggilas mereka.

"Upaya untuk mengubah kota (Makkah)...tengah menciptakan permusuhan," ujar Jawahir. Karena permukiman-permukiman diratakan, perekonomian informal menghidupi seluruh masyarakat - mereka menjadi penjual sayuran, tukang sepatu, atau pemandu wisata - terganggu.

Makin banyak warga Makkah menghadapi ganjalan buat ikut mengais rezeki haji. Mereka mesti bersaing dengan beragam perusahaan: hotel-hotel menggantikan rumah-rumah penduduk, jaringan makanan cepat saji menggantikan gerai makan pinggir jalan pernah menjejali pasar-pasar tradisional di Makkah.

"Sebagian orang Makkah marah karena telah kehilangan apa yang mereka sebut monopoli ekonomi, telah berganti menjadi monopoli korporasi," tutur Jawahir, dalam beberapa tahun belakangan telah mewawancarai lusinan penduduk dan meneliti akibat sosial ekonomi dari modernisasi terhadap masyarakat Makkah.

Satu-satunya sumber pemasukan dalam jumlah besar tidak terganggu adalah keluarga- keluarga memiliki rumah. Mereka, sekarang tinggal di luar kota, sudah lama menyewakan tempat tinggal mereka bagi para jamaah asing.

"Ketika mereka menyewakan rumah selama musim haji, pendapatan mereka cukup buat hidup setahun," kata Jawahir. "Ini bukan pernyataan berlebihan."

Namun dengan harga tanah 100 ribu pound sterling per meter persegi di sekitar Masjid Al-Haram, banyak penduduk Makkah lebih suka menjual lahan mereka kepada pemerintah atau pengembang permukiman. Sehingga ikatan sejarah mereka dengan kota itu terputus.

Sebagian besar kawasan di Makkah kini milik pengembang real estat dan pertokoan, serta didorong oleh kepentingan sektor swasta.

Ketegangan pun tidak terelakkan. Demi pendapatan negara, Makkah harus mengutamakan jamaah haji dan umrah dibanding penduduk asli.

Tapi paling rentan adalah masyarakat pendatang.

Makkah secara historis sudah menjadi tujuan imigran muslim. Menurut Jawahir, 45 persen dari penduduk Makkah saat ini adalah pendatang non-Saudi. Ini termasuk generasi kedua dan ketiga imigran tidak berkewarganegaraan Arab Saudi.  

Sebagian kaum renta dan komunitas tetap, seperti orang-orang Burma, berjumlah sekitar 250 ribu. Bukan seperti pendatang asal Nigeria dan negara-negara Asia Selatan, merupakan imigran baru dan pekerja musiman di sektor konstruksi dan layanan. "Dalam banyak hal, orang Burma sukses di Makkah," ujar Jawahir.

Gelombang imigran Burma ke Arab Saudi pada 1948 untuk mencari suaka politik. Banyak dari mereka memperoleh izin tinggal tetap tahun lalu, tapi imigran dari negara lain tidak seberuntung mereka.

Banyak pendatang tidak berdokumen hidup di Makkah, kebanyakan sudah habis visa hajinya. Sebagian ingin tinggal di sana karena kesakralan kota itu, yang lain mau mencari nafkah. Bagi kaum tua, mereka ingin meninggal di Makkah.

Tidak ada data resmi soal imigran gelap di Makkah. Jawahir bilang pemerintah seolah menutup mata soal keberadaan mereka. "Secara politik, memaksa kaum muslim meninggalkan Makkah tidak benar," tuturnya. "Tiap orang Islam merasa Makkah adalah rumah kedua mereka."

Berdasarkan rencana induk kota 2011, penduduk Makkah akan dipindah ke wilayah disebut Gerbang Makkah, sebuah permukiman seluas 16 kilometer persegi dengan rumah murah.

Namun prakteknya, setelah rumah dirobohkan dan mereka mendapat fulus kompensasi kecil, orang-orang Makkah ini akan pindah ke desa-desa sekitar berjarak sejam bermobil.

Modernisasi bukan hanya menggilas tempat bersejarah tapi juga mengusir penduduk dari Kota Makkah.

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

Paket makanan dibagikan kepada rakyat Mesir memilih amandemen konstitusi dalam referendum digelar selama 20-22 April 2019. (Twitter)

Intimidasi demi Sisi

Pejabat keamanan memaksa para pemilik toko, pebisnis, pengusaha restoran, dan keluarga-keluarga terpandang memajang spanduk menyokong referendum.

Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

08 Mei 2019
Intimidasi demi Sisi
26 April 2019
Bertemu pemuka Yahudi
04 Maret 2019

TERSOHOR