kisah

Pekerja Arab fulus Israel

Israel dan Yordania telah memulai proyek percontohan, mengizinkan 700 dari 1.500 warga Yordania bekerja di hotel-hotel di kota wisata Eilat di Israel.

21 September 2016 19:51

Ini barangkali potret kecil soal perdamaian di Timur Tengah. Pembersih ruangan bernama Ahmad, tukang cuci piring bernama Muhammad, seorang lelaki dengan alat pengisap debu dalam lobi sebuah hotel di tepi pantai di Eilat.

Israel dan Yordania telah meneken perjanjian damai pada 1994 - itu satu generasi lalu - tapi kenyataannya perdamaian berjalan hambar, tanpa ada lalu lintas orang di antara kedua negara, tanpa pekerja, gaji, atau bos.

Yordania dan Israel kini telah meluncurkan sebuah proyek percontohan begitu kecil dan sangat ambisius.

Selama setengah tahun terakhir, sangat dirahasiakan, Israel telah membolehkan warga Yordania menyeberangi perbatasan menuju kawasan wisata di tepi Laut Merah buat bekerja dengan upah minimum di hotel-hotel. Sebanyak 700 dari 1.500 orang Yordania telah mulai bekerja di negara Zionis itu. Sejauh ini tidak ada kejadian buruk.

Shabtai Shay, Ketua Asosiasi Hotel di Eilat, Israel, mengungkapkan untuk mencapai kesepakatan agar warga Yordania bisa melintas dari Aqabah ke Eilat memerlukan perundingan tiga tahun dengan sepuluh kementerian di Israel.

"Orang-orang Yordania butuh pekerjaan dan kami memerlukan pekerja," kata Shay. "Itu sebuah misi tidak mungkin."

Di pihak Israel, ada kekhawatiran mengenai keamanan, pensiun, pos pemeriksaan, serikat kerja, jam kerja, dan bagaimana perasaan para pelancong Israel dilayani pekerja-pekerja hotel muslim dari Kerajaan Bani Hasyim itu.  

Yordania dan Israel sudah dua kali berperang pada 1948 dan 1967. Hubungan kedua negara ini tegang lantaran banyak pengungsi Palestina mendiami Yordania. "Saya tidak pernah mengira saya akan hidup untuk melihat pekerja Yordania pertama di hotel kami," ujar Shay.

Kawasan wisata Eilat tidak mirip Riviera di Prancis. Cuma ada pantai pendek dengan jalan setapak bagi para turis dipenuhi gerai-gerai toko bebas cukai, jaringan restoran, dan kolam renang di tepi Laut Merah.

Selama puncak musim panas, Juli-Agustus, kawasan Eilat kebanjiran keluarga-keluarga Israel. Di sebelah timur berbatasan dengan Yordania dan di bagian berat bersebelahan dengan Mesir. Di seberang lautan ada Arab Saudi.  

Terdapat 55 ribu warga Israel tinggal di Eilat dan 40 hotel dengan 12 ribu kamar mempekerjakan sembilan ribu karyawan, sepertiganya bekerja di bagian bersih-bersih, jenis pekerjaan tidak akan dilakukan warga Israel atau tidak mau mereka lakoni karena gajinya kecil.

Selusin pekerja hotel asal Yordania telah diwawancarai oleh surat kabar the Washington Post mengaku senang dengan pekerjaan baru mereka di Eilat.

"Ini telah mengangkat kehidupan saya," ucap Ahmad Riasyi, 25 tahun, menjadi tukang cuci piring di Hotel Royal Garden. Dia sebelumnya bekerja sebagai pelayan di sebuah hotel bintang lima di Ibu Kota Amman, Yordania.

Dia mengaku mendapat gaji dua kali lipat di Israel karena itu dia bisa menabung. "Saya kaget ketika tiba di sini," kata Riasyi. Dia bilang orang-orang Israel juga terkejut melihat orang Yordania bekerja di negara mereka. Bahkan ada yang mengajak berfoto selfie bareng.

"Kami belum mendapat satu keluhan pun dari tamu," ujar Etty Krichly, manajer rekrutmen untuk Isrotel, mempekerjakan sekitar 170 orang Yordania.

Jika ini kelihatan seperti perdamaian, masih mencemaskan dan lemah.

Para pekerja hotel dari Yordania tiap hari melintasi perbatasan ke Israel pukul enam pagi dan harus pulang paling lambat jam delapan malam tiap. Mereka tidur di wisma perusahaan di Yordania. Mereka tidak diizinkan jalan-jalan keluar dari Kota Eilat atau pindah pekerjaan tanpa mendapat izin baru. Orang-orang Yordania ini hanya boleh bekerja menjadi pembersih, bukan tukang masak, pelayan, atau bartender.

Mereka cuma dibolehkan memasuki Israel dengan pakaian di tas punggung dan sebungkus rokok sudah dibuka, karena Israel tidak mau mereka menyelundupkan rokok, harganya lebih murah di Yordania ketimbang Israel.

Ahmad Salahat, 25 tahun, bekerja sebagai pembersih kamar di Hotel Dan Eilat, bilang gajinya tidak setinggi harapannya. "(Tapi) mereka memperlakukan saya dengan sangat baik," tuturnya.

Seorang pekerja Yordania menyukai manajernya karena suka membagikan permen dan pelukan. Karyawan lainnya tertarik belajar bahasa Ibrani dan pindah menetap di Israel. Dia mengeluhkan lamanya perjalanan melintasi perbatasan kalau cuaca lagi buruk, bisa dua jam.

Yordania dan Israel memang sudah menandatangani perjanjian damai, namun saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melawat ke Amman, tidak ada media dari kedua negara meliput.

Di media sosial, sebagian warga Yordania mengkritik orang-orang Yordania bekera bagi orang Yahudi. Sedangkan warga Israel takut proyek percontohan ini bakal dimanfaatkan pihak-pihak ingin melancarkan serangan teror di negara Bintang Daud itu.

Para pekerja Yordania ini tidak peduli urusan politik, yang penting gaji mereka peroleh memuaskan. "Di Yordania memang ada pekerjaan tapi bayarannya kurang menggiurkan," kata Iman Salim, 33 tahun, pernah bekerja sebagai asisten perawat dan pramugari di Yordania. "Saya bekerja di Israel buat kehidupan saya."

Dia bekerja menjadi tukang cuci piring di sebuah hotel di Israel. Meski begitu, tidak ada yang menghina dia karena bekerja di negara tersebut. "Teman-teman saya berpikiran terbuka."

Para pembersih kamar hotel, tukang bersih kolam renang, dan penyapu lantai itu - 99 persen adalah kaum adam - pertama kali disaring oleh badan tenaga kerja Yordania, kemudian diperiksa oleh Direktorat Intelijen Umum Yordania. Mereka lantas diwawancarai oleh hotel-hotel di Eilat ingin merekrut, baru diperiksa lagi oleh Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri Israel).

Gaji minimum pekerja hotel asal Yordania itu sama dengan upah minimum berlaku di Israel, yakni US$ 1.200 sebulan. Setelah membayar komisi kepada badan perekrut, tarif wisma perusahaan di Yordania, transportasi dan pajak, mereka bisa membawa pulang US$ 700 sampai US$ 800 saban bulan.

Orang-orang Paelstina tidak diizinkan bekerja di hotel-hotel di Israel.

Selama beberapa tahun, pemerintah Israel membolehkan hotel-hotel di Eilat mengimpor pekerja asing dari Nepal, Sri Lanka, dan Filipina. Program ini sudah berakhir.

Kemudian Israel memberi lampu hijau bagi imigran asal Sudan dan Eritrea, lari dari perang dan kemiskinan, untuk bekerja di hotel-hotel di Eilat. Namun sekarang negeri Yahudi itu sudah membangun pagar pembatas di Semenanjung Sinai untuk menyetop masuknya pendatang haram. Orang-orang Afrika pun mulai diusir dari Israel.

Untuk tiap satu warga Yordania direkrut bekerja di hotel di Israel, pekerja asal Afrika mesti dipecat.  

Magi Malul, manajer sumber daya manusia di Isrotel mengaku senang mempekerjakan warga Yordania.

Magi bisa berbahasa Arab, belajar dari neneknya, imigran Yahudi asal Maroko pindah ke Israel. Pada 2004, ibunya dan 16 orang Israel lainnya tewas akibat bom bunuh diri dilakukan dua warga Palestina di dalam sebuah bus.

"Mulanya sulit bagi saya bekerja dengan orang Arab," kata Magi. Dia tidak pernah bertemu orang Yordania.

Namun dia mulai sadar. "Tiap masyarakat ada yang baik dan jahat," ujar Magi seraya menunjuk berkas izin bagi 25 pekerja dari Yordania segera bekerja di hotelnya.

Magi bakal menhyambut mereka di perbatasan. "Kami harus mencoba membuat perdamaian," ujarnya. "Inilah sumbangan kecil saya untuk perdamaian."

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR