kisah

Pacu kuda Beirut

Hippodrome dulu menjadi tempat berkumpul para anggota milisi saling bermusuhan untuk bertaruh dalam pacuan kuda.

23 September 2016 23:56

Hippodrome telah selamat dari beragam perang dan pergolakan tidak kenal belas kasihan. Namun tempat pacuan kuda di Ibu Kota Beirut, Libanon, itu - pernah menjadi tempat para milisi bermusuhan bertaruh saat pertempuran libur - sudah berusia seabad dan menghadapi masa depan tidak pasti.

Hippodrome dibangun pada 1916 oleh Kesultanan Usmaniyah. Selama perang saudara meletup, Hippodrome dipakai sebagai tempat netral buat para kombatan saling bermusuhan untuk bertemu.

Ia merupakan salah satu ruang terbuka hijau masih tersisa di Beirut. Tapi kini menghadapi kesulitan keuangan dan kelangkaan investasi.

Kalau memang terpaksa ditutup, lahan ditempati Hippodrome bisa jatuh ke tangan pengembang properti sudah mengubah Beirut menjadi hutan beton.

"Dewan kota menolak menanamkan modal, saban kali diusulkan selalu punya alasan berbeda," kata Nabil de Freige, Ketua Masyarakat Buat Perlindungan dan Kemajuan Kuda Arab. "Ini benar-benar mencemaskan kami."

De Friege, juga menjabat Menteri Reformasi Administrasi, takut tradisi kuno beternak kuda juga akan terpukul hebat bila Hippodrome benar-benar ditutup. "Tempat pacuan kuda ini memberi kehidupan bagi pelatih, joki, perawat kuda, pekerja, dokter hewan, peternak, dan petani, secara keseluruhan ada 1.500 keluarga dan semua itu bakal lenyap," ujarnya.

Sebelum pecah perang saudara di Libanon pada 1975-1990, Hippodrome satu-satunya trek pacuan kuda di Timur Tengah di mana para penggemar bisa bertaruh di sana. Pacuan kuda biasanya berlangsung dua kali sepekan dengan total nilai taruhan sekitar US$ 500 ribu seminggu.

Namun perang mengakibatkan jumlah kuda pacu berkurang dari 1.500 menjadi 350.

"Pacuan kuda tidak lagi digelar dan nilai taruhan anjlok menjadi tidak lebih dari US$ 150 ribu sepekan," tutur manajer umum kursus berkuda Nabil Nasrallah.

Berlokasi di bekas medan tempur membelah permukiman Kristen, Sunni, dan Syiah, tempat pacuan kuda itu adalah cermin sejarah Libanon. Sebuah dinding, penuh dengan lubang bekas peluru, masih terlihat warna merah dan hijau simbol dari Legiun Asing Prancis, digambar pada 1982 oleh para tentara diterjunkan di negara mungil itu saat puncak perang saudara.

"Para anggota milisi biasa saling menembak dan bertemu di sini saban Ahad untuk bertaruh di balapan kuda," kenang pelatih bernama Ali Ahmad Saifuddin. Para pemimpin milisi biasanya berkumpul di sebuah ruangan rahasia dalam kompleks Hippodrome.

Hippodrome merupakan tambang emas potensial bagi para pengembang karena menempati lahan 200 ribu meter persegi dan berlokasi di jantung Beirut.

"Jika Hippordrome tutup, bakal dibangun apa nanti?" tanya de Friege. Dia mencemaskan bagaimana mencegah Hippodrome jatuh ke tangan pengembang.

Nasrallah percaya satu-satunya cara buat menyelamatkan Hippodrome adalah dewan kota, merupakan pemilik, menggelontorkan dana buat membangun kembali tempat pacuan kuda ikonik itu. "Mesti ada subsidi, seperti di negara lain ada pacuan kudanya."

Wali Kota Beirut Bilal Hamad, muslim Sunni, segan berinvestasi dengan uang pemerintah di tempat pertaruhan, memang diharamkan oleh ajaran Islam. "Hippodrome adalah warisan sejarah. Kenapa hanya para petaruh boleh ke sana?" kata Hamad. Dia baru setuju membangun kembali Hippodrome bila tempat pacuan kuda ini terbuka bagi semua kalangan masyarakat.

Hamad malah berencana membangun apa yang dia sebut Beirut Central Park, sebuah lapangan golf dilengkapi satu danau buatan dan sekolah berkuda.

Namun Muhammad Ayub, mengepalai lembaga nirlaba Nahnu (berarti kami dalam bahasa Arab), mengecam rencana pembangunan lapangan golf itu, dia sebut sebagai proyek bagi kaum tajir. Dia juga mempertanyakan bagaimana mau membikin danau buatan sedangkan Beirut dililit masalah kelangkaan air. "Dewan kota ingin menyiapkan proyek komersial mahal dan kemudian menyerahkan kepada sebuah perusahaan swasta," katanya.

De Freige masih ingat ketika invasi Israel ke Libanon pada 1982, pasukan negara Zionis itu bersembunyi di balik Hippodrome dan menggempur para pejuang Palestina di sisi lainnya. Setelah semua kuda dievakuasi, tentara dan tank Israel menghancurkan seluruh stand di Hippodrome. "Rekonstruksi tidak pernah selesai."

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Isyarat Bin Salman menyerah terhadap Iran

Kurang pengalaman dan kalah strategi membikin Saudi kedodoran dalam palagan di Suriah dan Yaman. 

Dato Tahir tengah bertanding futsal menghadapi anak-anak pengungsi Suriah. (Dokumentasi KBRI Amman)

Bersua Julia Roberts asal Hama

Almar dan ketiga saudara kandungnya juga tidak sungkan berdekatan dengan salah satu keluarga paling tajir di Indonesia itu.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

11 Oktober 2019

TERSOHOR