kisah

Raibnya wajah damai Israel

Shimon Peres bersalin rupa dari pionir nuklir menjadi master perdamaian.

30 September 2016 18:55

Shimon Peres, mantan Presiden Israel dan penerima hadiah Nobel Perdamaian, meninggal pada Rabu dini hari di usia 93 tahun, dua pekan setelah terserang stoke berat.

Peres telah menjadi anggota Knesset (parlemen Israel) selama hampir setengah abad, dari pemerintahan Perdana Menteri David Ben-Gurion sekaligus proklamator Israel pada 1959 hingga rezim Ehud Olmert di 2007. Dia pernah menjabat menteri buat 12 pos berbeda, termasuk dua kali menjadi perdana menteri. Dia satu-satunya orang Israel pernah menjadi perdana menteri dan presiden.

Dia satu-satunya politikus masih hidup di generasinya, para pendiri Israel. Dia termasuk tokoh paling lama berkecimpung di arena politik. Saat sekutu dan para pesaingnya, jatuh bangun, keluar masuk, pensiun dan wafat, Peres terus bergerak dari satu posisi ke posisi lain, dari satu panggung ke arena lain hingga pada 13 September lalu dia dihantam stroke. Kondisinya kian parah Selasa malam lalu.

Peres menampilkan dua sisi kepribadian. Dia tokoh tragis pernah mengalami kekalahan tapi juga optimistis sampai mampu meraih keberhasilan mengagumkan. Dia pemimpin kontroversial, berselancar di gelombang popularitas, namun diterpa kritikan pedas.

Rekam jejaknya termasuk keterlibatan dalam menyiapkan dan meningkatkan infrastruktur pertahanan Israel. Dia mempersenjatai pasukan Israel dengan persenjataan mutakhir, membangun dan mengembangkan militer dan industri penerbangannya, membikin program nuklir Israel dan salah satu arsitek misi penyelamatan sandera di Entebbe pada 1976.

Karier diplomatiknya mencakup memuluskan jalan bagi pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat serta mencapai perdamaian sekaligus meneken Perjanjian Oslo pada 1993. Kehidupan politiknya ditandai dengan persaingan kejam dengan kolega-koleganya, intrik dan rencana kotor. Sampai akhirnya, sebagai presiden kesembilan Israel, dia menjadi salah satu pemimpin Israel paling dicintai dan termasyhur di dunia.

Shimon Peres (tadinya bernama Szymon Perski) dilahirkan pada 21 Agustus 1923 di Vishnev, Polandia, kini menjadi bagian dari Belarus. Adik lelakinya, Gershon (wafat pada 2011) dialhirkan dua tahun kemudian.

Orang tua Peres, Getzel (Yitzhak) Perski adalah pedagang dan Sara Perski nee Meltzer, pustakawan. Keduanya merupakan keturunan ahli Torah, namun mereka hidup dengan cara sekuler. Shimon malah anak saleh, selalu memakai yarmulke (peci khas orang yahudi) dan menjalankan perintah agama.

"Saya tahu hal paling penting penting dimiliki seorang lelaki ada dalam kepalanya dan sejak kecil saya kerap mempelajari struktur kepala tiap orang, berharap bisa mengorek pikirannya," kata Peres. "Saya sadar dahi tinggi saya punya adalah anugerah Tuhan."

Sekitar 1.500 orang Yahudi hidup di Vishnev kala itu. Peres ingat waktu kecil menyaksikan seorang bocah Yahudi begitu senang membawa oleh-oleh sebuah jeruk sepulang dari Tanah Israel (wilayah Palestina). "Untuk pertama kalinya saya merasakan dengan jelas apa itu Tanah Israel," kenangnya.

Peres adalah murid dari Yehoshua Rabinowitz di Sekolah tarbut, belajar Ibrani, Yiddish, dan Zionisme. Rabinowitz kemudian menjadi wali kota tel Aviv dan menteri keuangan Israel.

Keluarganya pindah ke Israel pada 1934 dan Peres melanjutkan studi di Sekolah Menengah Atas Geula Gymnasia di Tel Aviv. Teman-teman sekolahnya menyukai olahraga tapi Peres, waktu itu dipanggil Perski, lebih senang menulis puisi. Dia mencintai sastra dan Alkitab, serta membenci ilmu pasti.

Dia bergabung dengan gerakan pemuda Noar Haoved. Dia bercita-cita tinggal di kibbutz, mengolah tanah subur di Lembah Jezreel waktu siang dan menyanyikan lagu-lagu religi kala malam, serta menjaga tanah pertanian di tengah malam sambil berkuda.   

Peres dijuluki sebagai Mr Security. Karya monumentalnya adalah pembangunan reaktor nuklir Dimona di Gurun Negev, selatan Israel. "Reaktor nuklir itu telah menumbuhkan rasa percaya diri Israel. Tiap orang merasa pilihan untuk menghancurkan kami hilang begitu saja," ujarnya.

Setelah penandatanganan Perjanjian Oslo pada 1993, Peres bilang ada hubungan antara keamanan dan perdamaian. "Dimona memuluskan jalan buat Oslo. Saya pernah ditanya bagaimana saya bakal menggambarkan biografi saya, dan saya bilang: Dari Dimona ke Oslo."

Dalam karier politiknya, Yitzhak Rabin adalah musuh bebuyutan Peres. Ketika bertarung dalam pemilihan ketua Partai Buruh pada 1974, dia kalah dari Rabin. Waktu Rabin terpilih sebagai perdana menteri, dia dengan berat hati menunjuk Peres menjadi menteri pertahanan.

Kebencian mendalam Rabin kepada Peres kian memperburuk hubungan keduanya. Rabin menuding Peres sebagai orang tidak bisa dipercaya.

Tapi Peres menggambarkan hubungan mereka dengan nada lebih lunak. "Lebih mudah bagi saya menjadi rekan Rabin ketimbang Rabin menjadi rekaan saya karena saya cenderung tergoda dan dia lebih realitis," tutur Peres.

Saat berusia 61 tahun, Peres mengupayakan perdamaian menjadi misi utamanya sebagai perdana menteri. Dia mengatakan perdamaian itu bagai cinta. "Perlu sedikit saja memejamkan mata, banyak kebaikan dan hal utama untuk diingat Anda tidak sendirian."

Dia sering bilang, "Bangsa Palestina adalah tetangga kami paling dekat. Saya yakin mereka bisa menjadi teman terdekat kami."  

Tapi hingga dia menutup mata, mimpinya menwujudkan perdamaian sejati dengan Palestina tidak tercipta. Wajah damai Israel itu hari ini masuk ke tempat perinstirahatan terakhirnya.  

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

Rahaf Muhamnad al-Qunun, 18 tahun, gadis asal Arab Saudi kabur dari keluarganya dan ingin meminta suaka ke Australia. (Twitter)

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, November 2013. (faisal assegaf/albalad.co)

Pemimpin Hamas serukan perang gerilya buat bebaskan seluruh Palestina

Misyaal menegaskan perlawanan bersenjata adalah satu-satunya cara untuk menjadikan Palestina negara merdeka dan berdaulat.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

15 Februari 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR