kisah

Eksekusi guncang negeri

"Siapa saja tidak boleh takut menuntut anggota keluarga kerajaan jika mereka merasa diperlakukan tidak adil," kata Raja Salman.

24 Oktober 2016 01:45

Kabar muncul Selasa pekan lalu membikin heboh seantero negeri. Bukan lantaran Arab Saudi menghentikan gempuran atas Yaman telah berlangsung sejak Maret tahun lalu. Tidak juga karena negara Kabah ini menarik dukungan dari kaum pemberontak di Suriah, sudah bertempur buat menggulingkan rezim Presiden Basyar al-Assad sedari 2011.

Tapi kabar amat mengejutkan dilansir Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi itu berupa pelaksanaan eksekusi mati terhadap seorang anggota keluarga kerajaan. Pangeran Turki bin Saud al-Kabir dipenggal karena membunuh seorang warga negara Arab Saudi.

Pembunuhan atas Adil bin Sulaiman bin Abdul Karim Muhaimid itu terjadi dalam sebuah perkelahian di kawasan Ath-Thumama, pinggiran Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. dua tahun lalu. "Turki bin Saud al-Kabir sudah membunuh warga negara Saudi bernama Adil bin Sulaiman," kata Kementerian Dalam Negeri. "Dia didakwa atas kasus pembunuhan dan telah dieksekusi sebagai hukumannya."

Abdurrahman al-Falaj, paman korban, mengaku senang dengan eksekusi mati ini. "Pelaksanaan hukuman mati itu menggambarkan sistem hukum di Saudi berjalan adil," ujarnya.

Pengadilan banding dan Mahkamah Agung juga mengesahkan vonis mati itu. Raja Salman bin Abdul Aziz telah mengeluarkan perintah untuk melaksanakan hukuman mati atas Pangeran Turki bin Saud al-Kabir.

Keluarga Pangeran Turki telah berulang kali meminta maaf dan menawarkan uang darah jutaan dolar Amerika hingga menjelang detik-detik pelaksanaan hukuman mati. Namun kerabat korban menolak, seperti dilansir situs berita Al-Marsad.

Al-Marsad melaporkan eksekusi berlangsung tertutup Senin minggu lalu setelah salat asar, sekitar pukul 16.13 waktu setempat.  

Tapi Imam Masjid As-Safa Muhammad al-Maslukhi mengungkapkan eksekusi mati dilakukan 4,5 jam setelah matahari terbit atau sekitar jam sepuluh pagi. Dia menggambarkan betapa hancurnya perasaan Pangeran Turki ketika dikunjungi keluarganya untuk terakhir kali. Apalagi setelah mengetahui permintaan maaf dan uang darah ditolak keluarga korban.

Sepulang keluarganya, Pangeran Turki salat, berdoa, dan membaca Al-Quran sepanjang malam hingga surya bangkit.

Ketika eksekusi berlangsung, ayah Pangeran Turki dan ayah korban hadir. "Ayah pangeran bercucuran air mata, sedangkan bapak korban menyaksikan eksekusi itu dengan wajah tegang," ujar Maslukhi melalui Twitter.

Pangeran Turki menjadi anggota keluarga kerajaan pertama dieksekusi dalam 41 tahun terakhir. Pada 1975, Pangeran Faisal bin Musaid dipenggal kepalanya setelah membunuh pamannya, Raja Faisal bin Abdul Aziz. Dua tahun kemudian, seorang puteri dieksekusi lantaran berzina.

Pangeran Faisal bin Farhan as-Saud menegaskan eksekusi mati atas sepupunya, Pangeran Turki, membuktikan tidak ada satu pun orang di Arab Saudi lebih tinggi dari hukum. Dia menambahkan kasus Pangeran Turki ini menjadi pesan penting bagi semua anggota keluarga kerajaan.

"Tidak ada satu pun orang di negara ini kebal hukum," tutur Pangeran Faisal bin Farhan. "Eksekusi atas Pangeran Turki akan meningkatkan kepercayaan masyarakat Saudi soal hukum akan terus diterapkan secara adil kepada semua orang dalam praktek, bukan sekadar teori."

Dia menambahkan beberapa tahun lalu juga ada seorang pangeran divonis mati karena membunuh. Tapi di menit-menit akhir menjelang pelaksanaan hukuman mati, dia dibebaskan karena keluarga korban memberi maaf.

Bagi orang luar, eksekusi mati terhadap Pangeran Turki kabar sangat menghebohkan, namun menurut Pangeran Faisal bin Farhan, untuk keluarga kerajaan berita itu biasa saja. Sebab Raja Salman sudah dikenal tegas dalam menegakkan hukum jauh sebelum dia naik takhta.

Pangeran Faisal menjelaskan semasa menjabat Gubernur Riyadh, Pangeran Salman bertanggung jawab mengatur perilaku keluarga kerajaan, khususnya pangeran-pangeran muda. Dalam beberapa kasus, dia memberlakukan hukuman disiplin kepada pangeran karena bertindak tidak sepatutnya.

Dia mengatakan saat ini terdapat sejumlah pangeran mendekam dalam penjara karena terlibat kejahatan. Dia bilang pengadilan perdata atas sengketa bisnis melibatkan keluarga kerajaan hal lumrah di Arab Saudi.

"Raja Salman pernah bilang tidak boleh ada orang segan menuntut seorang pangeran ke pengadilan, termasuk dirinya sebagai individu, juga bisa diadili," tutur Pangeran Faisal. "Faktanya, beberapa pangeran senior kalah dalam kasus perdata."

Lewat Twitter, Pangeran Al-Walid bin Talal, datang ke Indonesia Mei lalu, berharap Allah bakal mengampuni pelaku dan korban. "Hukum adalah basis dari pemerintahan."

Dalam sebuah rekaman video tersebar luas di media sosial, Raja Salman pernah menyatakan kepada para pejabat Senior Saudi: "Siapa saja tidak boleh takut menuntut anggota keluarga kerajaan jika mereka merasa diperlakukan tidak adil."

Raja Salman boleh jadi telah membuktikan ucapannya. Eksekusi atas Pangeran Turki telah mengguncang seantero negeri.

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

Paket makanan dibagikan kepada rakyat Mesir memilih amandemen konstitusi dalam referendum digelar selama 20-22 April 2019. (Twitter)

Intimidasi demi Sisi

Pejabat keamanan memaksa para pemilik toko, pebisnis, pengusaha restoran, dan keluarga-keluarga terpandang memajang spanduk menyokong referendum.

Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

08 Mei 2019
Intimidasi demi Sisi
26 April 2019
Bertemu pemuka Yahudi
04 Maret 2019

TERSOHOR