kisah

Eksekusi guncang negeri

"Siapa saja tidak boleh takut menuntut anggota keluarga kerajaan jika mereka merasa diperlakukan tidak adil," kata Raja Salman.

23 Oktober 2016 18:45

Kabar muncul Selasa pekan lalu membikin heboh seantero negeri. Bukan lantaran Arab Saudi menghentikan gempuran atas Yaman telah berlangsung sejak Maret tahun lalu. Tidak juga karena negara Kabah ini menarik dukungan dari kaum pemberontak di Suriah, sudah bertempur buat menggulingkan rezim Presiden Basyar al-Assad sedari 2011.

Tapi kabar amat mengejutkan dilansir Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi itu berupa pelaksanaan eksekusi mati terhadap seorang anggota keluarga kerajaan. Pangeran Turki bin Saud al-Kabir dipenggal karena membunuh seorang warga negara Arab Saudi.

Pembunuhan atas Adil bin Sulaiman bin Abdul Karim Muhaimid itu terjadi dalam sebuah perkelahian di kawasan Ath-Thumama, pinggiran Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. dua tahun lalu. "Turki bin Saud al-Kabir sudah membunuh warga negara Saudi bernama Adil bin Sulaiman," kata Kementerian Dalam Negeri. "Dia didakwa atas kasus pembunuhan dan telah dieksekusi sebagai hukumannya."

Abdurrahman al-Falaj, paman korban, mengaku senang dengan eksekusi mati ini. "Pelaksanaan hukuman mati itu menggambarkan sistem hukum di Saudi berjalan adil," ujarnya.

Pengadilan banding dan Mahkamah Agung juga mengesahkan vonis mati itu. Raja Salman bin Abdul Aziz telah mengeluarkan perintah untuk melaksanakan hukuman mati atas Pangeran Turki bin Saud al-Kabir.

Keluarga Pangeran Turki telah berulang kali meminta maaf dan menawarkan uang darah jutaan dolar Amerika hingga menjelang detik-detik pelaksanaan hukuman mati. Namun kerabat korban menolak, seperti dilansir situs berita Al-Marsad.

Al-Marsad melaporkan eksekusi berlangsung tertutup Senin minggu lalu setelah salat asar, sekitar pukul 16.13 waktu setempat.  

Tapi Imam Masjid As-Safa Muhammad al-Maslukhi mengungkapkan eksekusi mati dilakukan 4,5 jam setelah matahari terbit atau sekitar jam sepuluh pagi. Dia menggambarkan betapa hancurnya perasaan Pangeran Turki ketika dikunjungi keluarganya untuk terakhir kali. Apalagi setelah mengetahui permintaan maaf dan uang darah ditolak keluarga korban.

Sepulang keluarganya, Pangeran Turki salat, berdoa, dan membaca Al-Quran sepanjang malam hingga surya bangkit.

Ketika eksekusi berlangsung, ayah Pangeran Turki dan ayah korban hadir. "Ayah pangeran bercucuran air mata, sedangkan bapak korban menyaksikan eksekusi itu dengan wajah tegang," ujar Maslukhi melalui Twitter.

Pangeran Turki menjadi anggota keluarga kerajaan pertama dieksekusi dalam 41 tahun terakhir. Pada 1975, Pangeran Faisal bin Musaid dipenggal kepalanya setelah membunuh pamannya, Raja Faisal bin Abdul Aziz. Dua tahun kemudian, seorang puteri dieksekusi lantaran berzina.

Pangeran Faisal bin Farhan as-Saud menegaskan eksekusi mati atas sepupunya, Pangeran Turki, membuktikan tidak ada satu pun orang di Arab Saudi lebih tinggi dari hukum. Dia menambahkan kasus Pangeran Turki ini menjadi pesan penting bagi semua anggota keluarga kerajaan.

"Tidak ada satu pun orang di negara ini kebal hukum," tutur Pangeran Faisal bin Farhan. "Eksekusi atas Pangeran Turki akan meningkatkan kepercayaan masyarakat Saudi soal hukum akan terus diterapkan secara adil kepada semua orang dalam praktek, bukan sekadar teori."

Dia menambahkan beberapa tahun lalu juga ada seorang pangeran divonis mati karena membunuh. Tapi di menit-menit akhir menjelang pelaksanaan hukuman mati, dia dibebaskan karena keluarga korban memberi maaf.

Bagi orang luar, eksekusi mati terhadap Pangeran Turki kabar sangat menghebohkan, namun menurut Pangeran Faisal bin Farhan, untuk keluarga kerajaan berita itu biasa saja. Sebab Raja Salman sudah dikenal tegas dalam menegakkan hukum jauh sebelum dia naik takhta.

Pangeran Faisal menjelaskan semasa menjabat Gubernur Riyadh, Pangeran Salman bertanggung jawab mengatur perilaku keluarga kerajaan, khususnya pangeran-pangeran muda. Dalam beberapa kasus, dia memberlakukan hukuman disiplin kepada pangeran karena bertindak tidak sepatutnya.

Dia mengatakan saat ini terdapat sejumlah pangeran mendekam dalam penjara karena terlibat kejahatan. Dia bilang pengadilan perdata atas sengketa bisnis melibatkan keluarga kerajaan hal lumrah di Arab Saudi.

"Raja Salman pernah bilang tidak boleh ada orang segan menuntut seorang pangeran ke pengadilan, termasuk dirinya sebagai individu, juga bisa diadili," tutur Pangeran Faisal. "Faktanya, beberapa pangeran senior kalah dalam kasus perdata."

Lewat Twitter, Pangeran Al-Walid bin Talal, datang ke Indonesia Mei lalu, berharap Allah bakal mengampuni pelaku dan korban. "Hukum adalah basis dari pemerintahan."

Dalam sebuah rekaman video tersebar luas di media sosial, Raja Salman pernah menyatakan kepada para pejabat Senior Saudi: "Siapa saja tidak boleh takut menuntut anggota keluarga kerajaan jika mereka merasa diperlakukan tidak adil."

Raja Salman boleh jadi telah membuktikan ucapannya. Eksekusi atas Pangeran Turki telah mengguncang seantero negeri.

Kedutaan Besar Turki di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. (Twitter)

Israel dan topeng Erdogan

Turki dan Israel juga sudah menandatangani perjanjian perdagangan bebas bilateral pada 14 Maret 1996 di Yerusalem dan berlaku mulai 1 Mei 1997.

Pemandangan pada Selasa sore, 31 Mei 2016, di pusat belanja Lale di Ibu Kota Teheran, Iran. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Eksodus kaum jenius dari negara Mullah

Sebanyak 43 persen atlet olimpiade, 30 persen profesor di berbagai disiplin ilmu, seperti mekanik dan komputer di sejumlah universitas, dan tiga ribu dokter sudah dan siap keluar dari Iran.

Menteri Energi Israel Karin Elharrar, Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab (UEA) Mariam al-Muhairi, dan Menteri Air Yordania Muhammad an-Najjar pada 22 November 2021 di Dubai, UEA, menandatangani kerjasama pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Yordania. (Courtesy)

Kalah air dekap Israel

Kerjasama soal air antara kedua negara sudah berlangsung sejak satu abad silam. Pada 1921, Yordania dan Israel sepakat membangun pembangkit listrik tenaga air di simpang Sungai Yordania.

Mordy dan Natali Oknin ( keduanya duduk) didampingi dua pejabat konsuler Kementerian Luar Negeri Israel di dalam pesawat pribadi akan mengantar mereka pulang ke Israel setelah dibebaskan dqri penjara. (Israel's Ministry of Foreign Affairs)

Natali dan azan di Istanbul

Penahanan keduanya menjadi ujian terberat bagi pemerintahan Bennett. Pemimpin dari Partai Yamina ini sudah bertekad untuk membebaskan empat warga Israel masih dalam tawanan Hamas di Jalur Gaza.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Israel dan topeng Erdogan

Turki dan Israel juga sudah menandatangani perjanjian perdagangan bebas bilateral pada 14 Maret 1996 di Yerusalem dan berlaku mulai 1 Mei 1997.

03 Desember 2021
Kalah air dekap Israel
26 November 2021
Natali dan azan di Istanbul
19 November 2021
Relasi Libya-Israel
15 November 2021

TERSOHOR