kisah

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.

02 November 2016 23:58

Nagham Joseph Abdil Masih senang betul ketika Sabtu dua pekan lalu mendapat kabar milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) sudah lari dari kampung halamannya, Bartella, kota Kristen kuno di selatan Mosul, Irak.

"Selama dua tahun dua bulan dan 12 hari terakhir, kami tidak berpikir apapun sampai kami diberitahu ISIS sudah terusir dari kota kami," kata Nagham, kini bareng para pengungsi Nasrani Assiria tinggal di kamp pengungsian di Irbil, Ibu Kota Provinsi Kurdistan, utara Irak.

Sejak Senin tiga pekan lalu, puluhan ribu pasukan pemerintah Irak disokong milisi Syiah dan Sunni, serta pasukan multinasional menggempur Mosul untuk merebut kota terbesar kedua di Irak itu dari genggaman ISIS. Dalam hitungan pekan, pasukan multinasional juga akan menyerang Raqqah, basis terkuat ISIS di Suriah dan selama ini menjadi ibu kota de facto ISIS.  

Menurut Jenderal Joseph Votel, Kepala Komando Pusat Militer Amerika Serikat, gempuran dari darat dan udara itu hingga kini telah menewaskan sekitar sembilan ribu jihadis ISIS. Militer Irak memperkirakan Mosul baru bisa direbut dalam dua bulan. Pasukan elite Irak kemarin sudah memasuki pinggiran Mosul.   

Nagham masih ingat ketika pasukan ISIS mencaplok Bartella, mereka diberi pilihan: masuk Islam, bayar pajak, atau dieksekusi mati. "Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujarnya.

Di hari itu pula, Nagham, 29 tahun, bersama suami dan dua putrinya berusia enam dan delapan tahun, berjalan berkilo-kilometer melintasi gurun hingga tiba di pos pemeriksaan di Irbil. Dia sekeluarga kini tinggal di kamp pengungsi Ainkawa 2 di Irbil.

Bartella, salah satu kota Kristen tertua di dunia dan berjarak sekitar 22 kilometer sebelah selatan Mosul, tadinya dihuni sekitar 15 ribu penduduk. Sampai akhirnya di musim panas 2014, mereka menyelamatkan diri setelah kedatangan pasukan ISIS.

Para pemimpin Kristen Asiria di Irak memperkirakan 65 ribu dari sekitar 200 ribu umat Nasrani Asiria tidak akan segera kembali ke Provinsi Ninawih. Mereka takut tidak ada yang tersisa lagi.

"Saya memperkirakan ada banyak kerusakan di mana-mana," tutur Usman Najib, 28 tahun, warga Bartella di kamp Ainkawa 2. "Tapi itu tidak akan menghalangi saya untuk pulang."
 
Dia benar. Situasi Bartella memang berantakan setelah ditinggalkan ISIS. Jalan menuju kota kecil ini dipenuhi serpihan-serpihan dari ledakan bom mobil, selongsong peluru, dan bom-bom rakitan tidak meledak.

Tiap rumah di pintu masuknya tertulis "Harta Daulah Islamiyah", "Muslim Sunni", atau "Nasrani."

Kondisi dalam gereja Orthodoks Siriak Mart Shmony tidak kalah berantakan. Sebuah kalender 2014 bergambar Bunda Maria dan bayi Yesus tergeletak di lantai bareng buku-buku lagu pujian dan Allkitab berselimut debu.

"Tuhan kami lebih tinggi ketimbang salib," demikian bunyi coretan ditinggalkan jihadis ISIS di tembok dalam ruangan gereja.  

Thamir Ghayat, 35 tahun, tidak yakin lagi bisa menetap di Irak karena dia percaya umat Kristen tidak lagi aman di Timur Tengah. Dia berencana pulang ke Bartella untuk mengumpulkan harta tersisa dan kemudian menjual tanahnya buat modal pindah ke Eropa. "Tentu saja hati saya hancur, namun saya tidak kuat melewati semua ini," kata ayah dua anak tadinya menjadi petugas keamanan gereja.

Sabtu dua pekan lalu, untuk pertama kali dalam dua tahun dua bulan dan 12 hari, lonceng gereja di Bartella berdentang. Seolah ingin mengabarkan warga Kristen bisa kembali hidup aman.

Evakuasi korban tewas dan luka akibat serangan teror di klub malam Reina, Istanbul, Turki, 1 Januari 2017. (Twitter/@emergensa24)

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

Seorang jihadis ISIS merobohkan salib di sebuah gereja di Kota Mosul, Irak, pada 2014. (The Assyrian International News Agency)

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.

Abu Abdullah, perancang serangan bunuh diri ISIS di Ibu Kota Baghdad, Irak. (Sam Tarling untuk the Guardian)

Perancang ledakan Baghdad

"Yang saya lakukan ini jihad karena saya membunuh orang-orang Syiah," Abu Abdullah menegaskan. "Mereka itu kafir dan saya yakin itu."

Bus Suriah penuh riasan di Palmyra. (Alamy)

Masih ada bus ke Aleppo dan Raqqah

Bus umum rute Beirut-Aleppo atau Beirut-Raqqah kerap menjadi sasaran milisi atau pasukan pemerintah Suriah.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR