kisah

Kayuhan Marina dobrak tradisi Irak

"Solusinya adalah pengulangan akan membikin hal itu menjadi lazim," tutur Marina Jabir.

07 Desember 2016 11:15

Beginilah tanggapan diterima Marina Jabir saban kali bersepeda di Ibu Kota Baghdad, Irak. Ada yang memandang keheranan, sebagian tersenyum, dan yang lain menatap sinis.

Maklum saja, kaum hawa bersepeda di tempat-tempat umum itu aneh bagi orang-orang di negara Dua Sungai tersebut, namun perempuan Irak muslim berusia seperempat abad ini cuek saja. Dia memiliki ambisi lebih dari bersepeda.

"Mengendarai sepeda adalah simbol untuk mendobrak status quo masyarakat Irak," kata Marina kepada Al-Arabiya. "Sebelum saya menyalahkan masyarakat atas banyak hal tidak bisa dilakukan perempuan, saya telah menemukan masyarakat itu adalah saya sendiri."

Foto-foto Marina bersepeda di beragam tempat di Baghdad dipajang dalam laman Facebook Baghdad al-Azamiyah akhir bulan lalu. Dua fotonya diberi keterangan: "Seorang gadis Baghdad menantang tradisi dan bersepeda di pusat kota" serta "Kalian adalah masyarakat, kalian merupakan kenyataan."

Lima jam setelah diunggah, dua foto itu dibagikan 141 kali dan disukai lebih dari tiga ribu kali. Laman Baghdad al-Azamiyah memiliki setidaknya 932.444 pengikut.

Foto-foto Marina bersepeda di Baghdad merupakan bagian dari pameran bertajuk Tarkib, digelar April tahun lalu, dan dia mengulangi lagi pameran itu pada 1 Januari tahun ini.

"Saya mulai mengendarai sepeda di tempat-tempat berlainan di Baghdad dan itu bagian dari pameran saya untuk mempelajari realitas," ujar Marina. "Saya ingin mengetahui kenapa bagi orang-orang Irak, perempuan tidak boleh bersepeda dan apa solusinya."

Marina, berprofesi sebagai pelukis, memulai proyeknya itu di kawasan-kawasan masyarakatnya lebih terbuka. Hingga dia akhirnya bersepeda di daerah-daerah konservatif. Dia mengunggah sebagian fotonya bersepeda di Twitter dengan tanda pagar dalam bahasa Arab "Saya adalah masyarakat."

"Saya mulanya takut," tuturnya. "Jadi saya mulai bersepeda di Abu Nuwas, Syawaka, Jadriyah, Mansyur, dan Al-Mutanabi.

Tapi ketika Marina mulai menapaki permukiman lebih konservatif, seperti Syurjah dan Al-Midan, dia mendapat pengalaman berbeda.

"Mereka mendorong saya dan berusaha menarik roda sepeda agar saya jatuh. Saya mendengar ucapan-ucapan kotor," kenangnya. "Saya diam beberapa detik dan turun dari sepeda. Saya mulai ragu namun saya melanjutkan mengayuh sepeda saya."

Marina mengakui yang membikin dia nekat melanjutkan bersepeda keliling Baghdad karena dia ingin kaum hawa melawan tradisi kolot.  

Dalam salah satu foto di laman Baghdad al-Azamiyah, Marina bersepeda di depan seorang lelaki tua terkejut dan satu pemuda tersenyum menyaksikan kenekatannya.

Marina terus saja menggenjot sepeda di kawasan pasar itu sampai empat kali keliling. Mulanya kakek tersebut tidak menerima namun dia akhirnya berpaling meneruskan kegiatannya sendiri.

"Solusinya adalah pengulangan akan membikin hal itu menjadi lazim," tutur Marina. "Orang Irak perlu lebih sering melihat perempuan bersepeda. Mereka menjadi korban sebab kaum hawa sendiri setuju untuk diam atas apa yang tidak diterima masyarakat."

Sampai kemudian Marina memutuskan bersepeda menjadi kegiatan hariannya. "Saya membiasakan diri bersepeda untuk rutinitas harian," katanya. "Sekarang saya tidak peduli dan saya harus kuat hingga tabu itu lenyap."

Mulanya, ayah dan abangnya tidak mengetahui kegiatan Marina bersepeda.

Dia pun tidak berhenti di situ, dia merencanakan menggelar sepeda maraton bagi kaum hawa di Baghdad. Rencananya ini mendapat banyak sokongan dari pengguna media sosial.

"Hal terbaik dalam hidup bagi seseorang adalah melakukan sesuatu dia anggap benar tanpa mempedulikan apa kata orang," ujar perempuan bernama Muna asy-Syatawi.

Wanita bernama samaran Ummu Rukyah al-Mayahi berkomentar, "Dengan izin Allah, saya bakal menerobos tradisi ini."

Sejatinya, bersepeda bagi perempuan itu tidak dilarang di Irak. Bahkan kaum hawa pernah ikut sepeda maraton di Najaf, kota suci bagi kaum Syiah.

Namun ketika mereka beranjak dewasa, keluarga-keluarga di Irak melarang anak-anak perempuan mereka bersepeda di muka umum. Alhasil, di mata masyarakat pun tidak bisa diterima dan jarang terlihat perempuan berkeliling naik sepeda.

Pelan tapi pasti, ambisi Marina merobek tradisi Irak mulai berhasil. Senin pekan ini, dia berhasil menggaet lebih banyak perempuan untuk bersepeda di Jalan Abu Nuwas.

"Lelaki dan perempuan meminta saya melakukan kegiatan bersepeda bersama," tutur Marina. "Kegiatan ini berlangsung spontan. Sebagian orang memberikan perlindungan dan sebagian lagi membagikan pin buat kami pakai."

Tentu saja itu bakal membuat Marina kian semangat buat mengkampanyekan kaum hawa bersepeda, supaya tidak lagi tabu bagi oarng Irak.

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Maha as-Subaii (28 tahun) dan adiknya Wafa as-Subaii (25 tahun), dua gadis asal Arab Saudi meminta suaka ke Georgia. (Twitter/@GeorgiaSisters)

Pelarian Maha dan Wafa

Jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR