kisah

Curiga Ankara

"Kami tidak akan pernah lupa akan kolusi mereka dengan teroris. Kami selalu berpendapat dan akan selalu berpendapat pengkhianatan adalah hal terburuk dan paling memalukan," tutur Putin.

28 Desember 2016 21:13

Barangkali mirip pasangan baru rujuk. Rasa sakit hati sekaligus curiga menghantui normalisasi hubungan Rusia dan Turki. Hubungan kedua negara sempat membeku setelah Turki menembak jatuh jet tempur Rusia karena dituding memasuki wilayah udaranya tanpa izin di perbatasan Suriah.

Ankara menolak meminta maaf atas insiden pada November tahun lalu itu. Moskow pun menjatuhkan sanksi ekonomi dan membekukan semua penerbangan Rusia menuju Turki.

Relasi kedua negara mulai mencari setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Juni lalu menyurati Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam surat tersebut, Erdogan mengaku menyesal sekaligus meminta maaf atas kejadian penembakan pesawat tempur Rusia.

Bulan madu Turki-Rusia boleh jadi dirusak lagi setelah Senin pekan lalu Mevlut Mert Altintas, polisi antihuru-hara Turki, menembak mati Duta Besar Rusia Andrei Karlov di sebuah galeri di Ibu Kota Ankara. Motifnya sementara ini adalah dendam atas keterlibatan Rusia dalam pengepungan dan pengeboman di Aleppo. Namun kelompok pemberontak di Suriah, Jabhat Fatih asy-Syam, mengaku bertanggung jawab atas tindakan lelaki 22 tahun itu.  

Jabhat Fatih asy-Syam tadinya bernama Jabhat an-Nusrah. Mereka mengubah nama karena tidak mau lagi menjadi bagian dari Al-Qaidah.

Dalam jumpa pers di kediamannya, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin menekankan di Aleppo dan wilayah lain di Suriah, pasukan Rusia memerangi terorisme internasional atas permintaan pemerintahan Suriah yang sah.

"Kami menetapkan sasaran kami di Suriah, termasuk Aleppo, dengan sangat cermat," kata Galuzin dua hari setelah tewasnya koleganya, Karlov. "Jadi untuk menyasar fasilitas-fasilitas teroris, bukan rumah sakit, pesta pernikahan, atau posisi pasukan pemerintah Suriah."

Dia mengungkapkan sudah lama militer Rusia dan pasukan pemerintah Suriah membuka koridor kemanusiaan untuk membiarkan warga sipil mengungsi ke wilayah mereka inginkan. Rusia telah memberikan bantuan kemanusiaan, layanan kesehatan, dan membangun rumah sakit lapangan bagi penduduk di timur Aleppo.

Rusia, menurut Galuzin, juga membuka satu atau koridor bagi kaum militan untuk meninggalkan Aleppo setelah mereka melucuti senjata. Di tahap akhir dari operasi militer ke Aleppo bakal selesai, dia menambahkan, Rusia menyediakan bus-bus untuk warga sipil dan militan meninggalkan Aleppo.
 
Dia menegaskan semua tudingan menyebut Rusia membombardir rumah sakit dan warga sipil merupakan kebohongan dari musuh-musuh Rusia menerapkan standar ganda. "Sebagai contoh, tidak ada perbedaan antara apa yang dilakukan pasukan koalisi Amerika di Mosul, Irak, dan apa yang kami lakoni di Aleppo, yakni memerangi teroris internasional," ujar Galuzin.

Sejatinya, Rusia dan Turki berlawanan posisi dalam Perang Suriah. Putin menyokong sekutunya, Presiden Suriah Basyar al-Assad, untuk memerangi pemberntakan meletup sejak 2011. Sedangkan Erdogan menyokong kaum pembangkang ingin menggulingkan rezim Assad, termasuk Al-Qaidah dan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) beroperasi di negara Syam itu.

Namun Putin dan Erdogan mencoba menutupi ketegangan dan kecurigaan kembali meruap. Keduanya bilang pembunuhan Karlov adalah paya provokatif untuk merusak hubungan Rusia-Turki. Kedua pemimpin itu menegaskan provokasi itu tidak berhasil.

Padahal rakyat Turki sudah menyuarakan kemarahan mereka terhadap intervensi militer Rusia di Suriah, termasuk Aleppo, sebelum Karlov terbunuh. Unjuk rasa besar-besaran mengecam negara Beruang Merah itu berlangsung di Ankara dan Istanbul.

Dalam dua suratnya kepada presiden Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Duta Besar Rusia untuk PBB V. Churkin menyampaikan keterlibatan Turki dalam perdagangan minyak di pasar oleh ISIS dan dalam rekrutmen teroris serta memasok senjata ke mereka. Albalad.co berhasil mendapatkan salinan kedua surat itu.

Dalam surat bertanggal 1 Februari 2016, Churkin menceritakan sebagian besar minyak dihasilkan dari wilayah dikontrol ISIS di Suriah diangkut menggunakan truk-truk tangki melalui Turki lewat pos-pos pemeriksaan di perbatasan, yakni Karkamis di Provinsi Gaziantep (570 kilometer sebelah tenggara Ankara), Akcakale di Provinsi Sanliurfa (640 kilometer tenggara Ankara), Cilvegozu di Provinsi Hatay (530 kilomeeter tenggara Ankara), dan Oncupunar di Provinsi Kilis (520 kilometer tenggara Ankara).

Saban hari, seratus hingga 150 truk tangki melintasi pos-pos pemeriksaan tersebut. Minyak-minyak mentah ini dikirim lewat daerah terpencil tidak terkontrol pasukan keamanan Turki. Total hampir 4.500 kendaraan digunakan untuk itu. Sejumlah perusahaan Turki terlibat dalam menyuplai truk-truk tangki ke ISIS, termasuk Serii di Konya (kepunyaan Mustafa Serii) dan Sam Otomotiv di Antakya (milik Habib Haydaroglou).

Di Turki, minyak mentah dijual oleh ISIS itu dikirim ke kilang Tupras milik Turkish Petroleum Refineries Co., terletak di Batman, sekitar 750 kilometer sebelah tenggara Ankara. Minyak selundupan itu juga diproses di pabrik-pabrik kecil dan disalurkan melalui stasiun-stasiun pompa bensin kepunyaan perusahaan-perusahaan kecil.

Hasil dari penjualan minyak itu dipakai oleh ISIS untuk membeli persenjataan, peralatan militer, amunisi, dan material lainnya. Sumber dana ISIS lainnya dari donasi-donasi pribadi dan organisasi-organisasi Islam, kebanyakan di negara-negara Arab Teluk dan Turki.

Wilayah Turki juga digunakan kelompok-kelompok teroris untuk pengiriman senjata dan amunisi secara ilegal. Menurut Turkish Statistical Institute, pengiriman truk, trailer, dan kendaraan lainnya dari Turki ke Suriah naik sembilan kali lipat pada 2012-2015. Selama empat tahun itu, sekitar 400 kendaraan senilai US$ 7,2 juta masuk ke Suriah lewat Turki. Di sembilan bulan pertama tahun lalu, nilainya US$ 3,2 juta.     

"Perlintasan bab al-Hawa, Bab as-Salam, dan Jarablus dipakai untuk pengiriman senjata dan amunisi (buat ISIS) dari Turki," tulis Churkin dalam suratnya.

Dalam surat bertanggal 10 Februari 2016, Churkin menerangkan perwakilan ISIS dengan bantuan agen-agen intelijen Turki telah membangun jaringan luas di Anatolia untuk perekrutan jihadis dari negara-negara bekas pecahan Uni Soviet.

Geng perekrut jihadis ini terdiri dari Abdullah (Kirgistan), Azmet (Adygea), Elnar (Tatarstan), Ilyas (Rusia), Adil Aliev (Azerbaijan), dan Nizam. Mereka semua di bawah komando Ruslan Rastyamovich alias Baris Abdul, warga Rusia tinggal bareng keluarganya di Anatolia. Dia memiliki izin tinggal tetap di Turki.

Churkin mengklaim pada September 2015 lebih dari seribu jihadis ISIS asal Eropa dan Asia Tengah dikirim dari Turki ke Suriah melalui perlintasan Alikaila di Provinsi Gaziantep.

Pada Maret 2014, Kepala MIT (Badan Intelijen Turki) H. Fidan mengatur pengiriman rombongan jihadis ISIS dipimpin Mahdi al-Kharati dari Libya ke Suriah. "Mereka diangkut lewat laut dari Libya ke Suriah melalui melalui perlintasan Barsai di perbatasan Turki-Suriah," tutur Churkin.

Sejak akhir Desember tahun lalu, dengan bantuan intelijen Turki, jihadis-jihadis ISIS diangkut dari Suriah melalui Turki ke Yaman. "Juga sudah diketahui secara luas jihadis-jihadis ISIS disediakan tempat buat berisitrahat dan perawatan di wilayah-wilayah Turki berbatasan dengan Suriah," klaim Churkin. Dia menyebutkan setidaknya 700 jihadis ISIS dirawat di Gaziantep pada 2014.

Inilah membikin Rusia kerap menaruh curiga terhadap Turki. Dalam pidato di hadapan Dewan Federal Rusia di Istana Kremlin, Moskow, 1 Desember lalu, Presiden Vladimir Putin bilang pihaknya mengetahui siapa mengisi saku di Turki dan membiarkan teroris berkembang di negara itu dari penjualan minyak mereka curi dari Suriah.

Salinan pidato Putin ini ini dibagikan Kedutaan Besar Rusia saat jumpa pers di rumah Duta besar Mikhail Galuzin di Jakarta.

Di hadapan seribu undangan, Putin mengaku masih ingat Turki pernah menjadi tempat persembunyian dan memberikan dukungan bagi kaum militan di Kaukasus Utara pada 1990-an dan 2000-an.

"Kami tidak akan pernah lupa akan kolusi mereka dengan teroris. Kami selalu berpendapat dan akan selalu berpendapat pengkhianatan adalah hal terburuk dan paling memalukan," tutur Putin. "Biarlah hal ini diketahui mereka di Turki, menembak punggung pilot kami dan orang-orang munafik berusaha mencari pembenaran atas tindakannya dan berusaha menutupi para teroris."

Bintang sepak bola Mesir Muhammad Salah. (liverpoolfc.com)

Dakwah Salah

Sebagian pendukung Liverpool sampai bernazar untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad kalau Salah terus menambah pundi-pundi golnya.

CEO Saudi Aramco Amin Nasir (tengah dan berkemeja batik biru) berpose bareng Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik usai pertemuan di Jakarta, 7 Juli 2017. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Lika liku IPO Aramco

Pertanyaannya adalah sejauh mana Saudi bakal membuka tabir Aramco untuk memaksimalkan perolehan dana dari IPO?

Pangeran Al-Walid bin Talal, pemilik Kingdom Holding Company sekaligus keponakan dari Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Syed Saleem/Facebook)

Misteri pembebasan Pangeran Al-Walid

Pangeran Al-Walid dikabarkan merelakan hampir seluruh hartanya untuk menebus kebebasannya dan dia akan diberi tunjangan bulanan.

Restoran Merkez, perintis tradisi memberi makan gratis saban hari bagi orang-orang miskin di Kota Karakocan, Turki. (Achhi Khabre)

Kota dermawan nihil kelaparan

Tradisi itu pertama kali berlangsung pada 1940-an di Merkez, salah satu restoran pertama dibuka di Karakocan.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Dakwah Salah

Sebagian pendukung Liverpool sampai bernazar untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad kalau Salah terus menambah pundi-pundi golnya.

16 Februari 2018
Lika liku IPO Aramco
02 Februari 2018

TERSOHOR