kisah

Rekrutmen Nusrah dan ISIS di Turki

ISIS merekrut orang-orang kurang secara ideologi dan jaringan, sedangkan calon jihadis Jabhat Nusrah mesti lulus indoktrinasi dan direkomendasikan anggota lainnya.

04 Januari 2017 23:59

Komitmen Turki buat memerangi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) telah mendapat sorotan sejak milisi ini muncul awal 2014. Kritikan, termasuk dari para pejabat senior Amerika Serikat dan Uni Eropa, menyangka Ankara memberlakukan kebijakan pintu terbuka bagi jihadis, sehingga membikin negara ini menjadi jalan keluar masuk para jihadis ke Suriah dan Irak.

Tahun lalu, Amerika dan Uni Eropa mengakui ada kemajuan dalam kerja sama dengan Turki untuk melenyapkan kelompok bersenjata dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu, seperti dilansir Institute for Strategic Dialogue dalam hasil penelitian terbaru mereka tahun lalu.

Meski begitu, kedua negara ini masih meragukan apakah kemauan Ankara itu sejalan dengan usaha mereka menyingkirkan PKK (Partai Buruh Kurdistan) atau komitmen untuk memperkuat sistem presidensial menjadi ambisi Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Ada sejumlah isu penting terkait upaya Turki memerangi ISIS. Tiga dari lima serangan teror mematikan berskala besar di Turki melibatkan warga negaranya telah bergabung dengan ISIS, membunuh hampir 150 orang dan melukai sekitar 650 lainnya sejak 2015.

Warga negara Turki juga ikut membantu logistik anggota ISIS asal Rusia, Uzbekistan, dan Kirgistan saat menyerbu Bandar Udara Internasional Ataturk di Kota Istanbul. Teror pada 28 Juni tahun lalu ini menewaskan 45 orang dan mencederai lebih dari 230 lainnya.

Selain sel-sel tidur lokal berpotensi menyokong jihadis Turki dan asing, jiehadis veteran bisa menjadi pelaku teror lebih mematikan. Artinya, Turki akan makin menghadapi ancaman berbahaya karena keterpurukan ISIS di Irak dan Suriah, serta kepulangan jihadis Turki.

Perusahaan intelijen keamanan the Soufan Group (TSG) memperkirakan ada dua ribu hingga 2.200 warga negara Turki bergabung dengan kelompok-kelompok pemberontak di Irak dan Suriah. Prediksi TSG berdasarkan data Kementerian Luar Negeri Turki.

Menurut laporan Kementerian Luar Negeri Turki, hingga Juni 2016, 500 warga Turki tewas sebagai jihadis di Irak dan Suriah. Sekitar 1.100 lainnya tengah bertempur dengan kelompok-kelompok jihadis di kedua negara itu. Kementerian ini mengklaim Turki telah menangkap sekitar 900 warganya terbukti terlibat dengan kelompok-kelompok jihadis.

Sesuai data dari TSG itu, Turki menjadi pemasok jihadis terbanyak keempat di Irak dan Suriah, setelah Tunisia, Arab Saudi, dan Rusia.  Rasio jihadis Turki jauh lebih sedikit ketimbang Tunisia tapi lebih banyak dibanding Rusia.

Sebagian besar warga negara Turki cenderung berafiliasi dengan satu dari dua kelompok jihadis beroperasi di Irak dan Suriah: ISIS dan Jabhat an-Nusrah. Sebagian kecil lainnya bergabung dengan Ahrar asy-Syam dan batalion-batalion berafiliasi dengan Nusrah, termasuk Gerakan Islam Turkistan dan Jaisy al-Islam.

Pada 2013, ISIS dan Jabhat Nusrah memutuskan kolaborasi berlangsung di awal permulaan Perang Suriah. Pola rekrutmen kedua kelompok bersenjata ini pun berbeda.

Nusrah, cabang Al-Qaidah di Suriah, dipimpin dan kebanyakan anggotanya adalah orang Suriah. Milisi ini memusatkan tujuan mereka buat menggulingkan Presiden Suriah Basyar al-Assad.

Sedangkan ISIS, kepemimpinannya oleh orang-orang Irak dan memiliki lebih dai 30 ribu jihadis asing. Kelompok bersenjata ini bertujuan memperluas wilayah kekuasaan untuk mendirikan khilafah islamiyah.

Di dunia Barat, ISIS menggaet warga negara asing dengan polesan publikasi dan video propaganda, mempertontonkan tindakan kejam. Perekrutan juga dilakukan di Turki melalui propaganda cerdas dan gambaran soal keberhasilan militer secara dramatis.

Meski rekrutmen dilakoni Nusrah kurang bergaung, situs-situs dan media sosial berbahasa Turki mendukung Nusrah mudah diakses, tidak terlalu dibatasi di Turki ketimbang yang dimiliki para pendukung ISIS. Pemerintah Turki mulai memblokir situs dan akun-akun media sosial pro-ISIS musim panas 2015.

Ini mengisyaratkan meski Ankara menetapkan Nusrah sebagai organisasi teroris pada Juni 2014, milisi ini lebih bisa bermanuver di Turki dibanding ISIS. Sebab Nusrah tidak melakoni serangan teror di Turki atau menunjukkan keinginan untuk itu.

Menurut Kementerian Luar Negeri Turki, ISIS mampu menggaet dua pertiga lebih banyak warga Turki ketimbang Nusrah. Di Turki, ISIS dikenal menerapkan proses seleksi agar longgar diabnding Nusrah dan merekrut orang-orang secara ideologi tidak berakar. Dua hal ini menarik minat warga Turki untuk bergabung ke ISIS dibanding Nusrah.

Kalau ISIS menyambut anggota baru siap untuk mati syahid, Nusrah - di dalam dan luar Turki - lebih disiplin, terpusat, dan pilih-pilih dalam rekrutmen. Calon anggota Nusrah harus mendapat remonedasi dari anggota lainnya dan lebih disukai yang bisa berbahasa Arab.

Seorang sumber mengungkapkan calon jihadis Nusrah harus lulus indoktrinasi ideologi digelar selama tiga pekan di rumah-rumah aman di Turki sebelum dikirim ke Suriah. Kandidat juga mesti memiliki keahlian berguna bagi Nusrah, seperti kemampuan medis, membangun situs, atau memakai senjata.

Masalah jaringa juga menjadi pembeda dalam pola rekrutmen antara Nusrah dan ISIS. Nusrah sangat mengandalkan pada jaringan-jaringan Al-Qaidah sudah terbentuk dalam beragam perang sebelumnya. Warga Turki bergabung dengan Nusrah adalah mereka yang berafiliasi dengan Al-Qaidah.

Jaringan lama Al-Qaidah ini muncul dari beragam perang, termasuk saat melawan Uni Soviet di Afghanistan selama 1980-an dan menghadapi Serbia di Bosnia pada 1990-an. Ratusan warga Turki ikut bertempur dalam dua perang itu dan kerap dianggap pahlawan di kampung halaman mereka.

Dalam jumlah lebih kecil, warga Turki juga ikut bertempur bareng jihadis di Somalia dan Ogaden di Ethiopia, serta melawan pendudukan Amerika Serikat di Irak di awal 2000-an.

Banyak warga Chechnya bergabung dengan Al-Qaidah menilai Turki sebagai negara aman bagi kaum jihadis. Sebagian rekrutan awal Nusrah untuk bertempur di Irak dan Suriah adalah warga Chechnya dan Uzbekistan menetap di kota-kota di Turki, seperti Zeytinburnu, Basaksehir, dan Distrik Fatih, Istanbul.

Sebaliknya, rekrutmen ISIS di Turki setengah-setengah, lebih personal, dan tidak terlalu mengandalkan jaringan Al-Qaidah. "Pola rekrutmennya lebih tidak disengaja dibanding Nusrah, sehingga lebih sulit dideteksi," kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Turki.

Dengan tidak mengutamakan ideologi dan jaringan, serta menyebarluaskan propaganda "jihadis pop", rekrutmen ISIS berjalan lebih tertutup dan spontan.

Peneliti sekaligus ahli jihadisme Turki Omer Behram Ozdemir menggambarkan perbedaan pola rekrutmen Nusrah dan ISIS dalam metafora menarik. "Orang-orang Nusrah seperti pecinta jazz. Mereka tahu apa yang mereka cari," ujarnya. " Tapi ISIS lebih mirip (bintang pop Turki) Tarkan, orang-orang terjerumus. Mereka tidak tahu soal lirik, namun ritem dan temponya membikin mereka asyik."

Warga Turki juga diperlakukan berbeda dalam dua milisi itu. Nusrah sering menempatkan orang Turki di level atas. Umit Yasar Toprak, terkenal dengan nama Abu Yusuf at-Turki, merupakan contoh terpopuler orang Turki bertempur bareng Nusrah.

Abu Yusuf memimpin unit penembak jitu Nusrah beranggotakan orang-orang Turki di Idlib, Suriah. Setelah dia tewas akibat serangan udara Amerika, situs-situs Turki dekat dengan Nusrah membikin film soal Abu Yusuf. Banyak ahli senjata berat di Nusrah berasal daeri Kota Bingol, tenggara Turki.

Sedangkan jihadis-jihadis Turki di ISIS kelas rendahan, biasanya dipekerjakan sebagai pengakut makanan ternak, bukan berada di medan tempur. Beberapa orang Turki, terutama Yunus Durmaz ditetapkan sebagai emir ISIS di Gaziantep, merupakan pengecualian. Dia memanikan peran kunci untuk mengatur rute penyelundupan ISIS dan merencanakan serangan teror di Turki.

ISIS dan Nusrah mampu merekrut anak-anak muda Turki, mulai pertengahan remaja hingga pertengahan usia 30-an tahun. Menurut data dikumpulkan Aaron Stein, peneliti senior di the Atlancitc Council, jihadis ISIS asal Turki rata-rata kelahiran 1990 dan mayoritas lelaki.

Di Turki atau negara mana saja, ISIS terbuka pula untuk merekrut perempuan. Namun Nusrah telah mengeluarkan fatwa Irak dan Suriah adalah wilayah perang sehingga perempuan tidak boleh ke sana kecuali ditemani suami.

Orang-orang Turki bergabung dengan ISIS dan Nusrah berasal dari berbagai kota, mulai Izmir hingga Adiyaman.   

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir pada 3 April 2017 mengunjungi keluarga Abu Muhammad, pengungsi asal Suriah kini menetap di kamp Azraq, Yordania. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Harap syahid puja Yesus

Muhammad mengaku lebih tenang setelah membaca Injil ketimbang Al-Quran.

Pemimpin gereja ortodhoks Siriak di Bartella, Irak, berpose bareng pasukan elite Irak membebaskan kota itu dari caplokan ISIS. (ADFA)

Dentang lonceng gereja di tepi Mosul

"Ketika jihadis ISIS itu mulai menurunkan dan menghancurkan salib serta injil, kami sadar kami sudah tidak aman lagi," ujar Nagham.

Seorang jihadis ISIS merobohkan salib di sebuah gereja di Kota Mosul, Irak, pada 2014. (The Assyrian International News Agency)

Nestapa pemuja Yesus

Di tarikan napas terakhir, gadis Kristen berusia 12 tahun meminta ibunya memaafkan jihadis ISIS pembakar rumah mereka.

Abu Abdullah, perancang serangan bunuh diri ISIS di Ibu Kota Baghdad, Irak. (Sam Tarling untuk the Guardian)

Perancang ledakan Baghdad

"Yang saya lakukan ini jihad karena saya membunuh orang-orang Syiah," Abu Abdullah menegaskan. "Mereka itu kafir dan saya yakin itu."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR