kisah

Dua putra Revolusi Islam

Reputasi Khamenei sebagai orang senang menyendiri dan bersahaja memperpanjang usianya dalam berpolitik, tapi harta dikumpulkan Rafsanjani dan anak-anaknya menenggelamkan karier politiknya.

11 Januari 2017 23:55

Dalam buku The Prince, Niccolo Machiavelli menggambarkan kaidah umum dari poltik tidak pernah atau jarang salah. "Dia telah menyebabkan seseorang berkuasa akan hancur," tulis Machiavelli. "Karena kekuasaan telah dicapai oleh kelihaian atau paksaan, keduanya tidak diyakini oleh dia telah naik menjadi penguasa."

Pandangan itu tepat bagi mantan Presiden Iran Ali Akbar Hasyimi Rafsanjani, meninggal Ahad lalu dalam usia 82 tahun. Pada 1989, hampi 500 tahun setelah The Prince diterbitkan, Rafsanjani membantu memuluskan jalan bagi kawan lamanya Ayatullah Ali Khamenei menjadi pemimpin tertinggi Iran. Selama tiga dasawarsa selanjutnya, dia berusaha dan gagal merebut kekuasaan dari orang dia naikkan ke singgasana.

Persahabatan sekaligus persaingan Rafsanjani-Khamenei mirip drama Shakespeare ala Syiah. Bermula lima dekade lalu, ketika keduanya menjadi pelayan setia Khomeini, tengah melancarkan agitasi politik menentang rezim Syah Muhammad Reza Pahlavi.

Keduanya menghabiskan beberapa tahun keluar masuk penjara pada 1960-an dan 1970-an. Rafsanjani ditahan karena diduga berperan dalam pembunuhan Perdana Menteri Iran Hasan Ali Mansyur pada 1965. Sedangkan Khamenei mendekam dalam hotel prodeo lantaran menerjemahkan buku-buku karya ulama Mesir Sayyid Qutub.

Rafsanjani telah menulis sebuah buku mengenai perdana menteri nasional di abad ke-19 bernama Amir Kabir, akhirnya dibunuh. Abbas Milani, bekas rekan satu sel dengan Rafsanjani dan sekarang pengajar di Universitas Stanford, Amerika Serikat, mengenang Rafsanjani sebagai orang antusias tapi pemain bola voli kikuk.

Revolusi Islam 1979 melontarkan kedua lelaki itu dari bukan siapa-siapa menjadi orang berpengaruh. Khamenei menjadi presiden Iran, sedangkan Rafsanjani jauh lebih berkuasa: sebagai ketua parlemen dia berkewajiban melapor langsung kepada Khomeini.

Ketika Khomeini wafat pada 1989 tanpa pengganti jelas, Rafsanjani mengklaim tanpa bukti, pemimpin revolusi itu berwasiat agar Khamenei menggantikan dirinya. Sebuah rekaman video istimewa soal pesan terakhir Khomeini ini dibocorkan keluarga Rafsanjani untuk film dokumenter asal Swedia beberapa tahun lalu.

Rafsanjani barangkali meyakini Khamenei bakal menjadi pemimpin agung lemah, liar, dan mampu dia kontrol. Gambaran seperti itu terlihat saat pidato pelantikan Khamenei. "Saya orang ddengan banyak dosa dan kelemahan, serta bukan santri kacangan," kata Khamenei.  

Perebutan kekuasaaan di antara keduanya berlaku secara wajar dan perbedaan pandangan mereka makin jelas. Rafsanjani didorong oleh keinginan membangun kembali kehancuran akibat Perang Iran-Irak dan menciptakan kekayaan pribadi serta negara ketimbang ideologi. Sebaliknya, Khamenei percaya berkompromi terhadap prinsi-prinsip Revolusi Islam bakal mempercepat kejatuhan rezim, seperti perestroika membantu bubarnya Uni Soviet.   

Untuk bertahan di tampuk kekuasaan, keduanya ingin memenjarakan dan membunuh para pengkritik rezim, baik yang ada di dalam dan luar negeri. Namun perbedaan-perbedaan kunci muncul antara Rafsanjani dan Khamenei soal kebijakan luar negeri.

Bagi Rafsanjani, dukungan Iran pada radikalisme bisa menjadi cara buat menumpas, tapi Khamenei menegaskan radikalisme harus diakhiri. Khamenei menolak berhubungan dengan Amerika Serikat dan bermusuhan dengan Arab Saudi, sedangkan Rafsanjani menyukai berunding dengan Washington dan menjalin hubungan kerja hangat dengan Riyadh.   

Perbedaan mendasar antara kedua tokoh ini terlihat dalam keluarga mereka. Khamenei berasal dari keluarga ulama miskin di Kota Masyhad dan keempat putranya menjadi ulama. Rafsanjani berasal dari keluarga pedagang kacang kenari di Provinsi Kerman, tenggara Iran, dan ketiga anak lelakinya meenjadi pengusaha.

Reputasi Khamenei sebagai orang senang menyendiri dan bersahaja memperpanjang usianya dalam berpolitik, tapi harta dikumpulkan Rafsanjani dan anak-anaknya menenggelamkan karier politiknya.

Ini terbukti dalam pemilihan presiden 2005, ketika Rafsanjani bertarung menghadapi tokoh pujaan rakyat, Wali Kota Teheran Mahmud Ahmadinejad.diputaran kedua. Bagi orang Iran hidup pada 1980-an dan 1990-an, Rafsanjani bukanlah tokoh antikorupsi dan penindasan. Dia termasuk golongan itu.

Seiring menuanya Revolusi Islam, ia tumbuh lebih bergaya militer. Garda Revolusi menenggelamkan kewenangan politik dan ekonomi kaum mullah. Rafsanjani sebaliknya, kian luntur dimakan umur.

Pada 2009, Rafsanjani menolak terpilihnya lagi Ahmadinejad, memicu unjuk rasa besar-besaran. Namun akhirnya dia menghentikan kritikan karena bakal mengguncang tatanan Republik Islam Iran, di mana dia ikut andil dalam mewujudkannya. Dia mungkin membenci Khamenei, tapi dia sadar kalau tidak bersama-sama, mereka akan terpisah.  

Generasi baru Iran mengenal Rafsanjani sebagai tokoh relatif bebas dari korupsi dan sebagai penantang layak bagi kaum garis keras. Banyak anak-anak muda di negara Persia itu berharap, meski usianya tidak muda lagi, Rafsanjani dapat mengantarkan mereka ke era baru. "Bukan berarti kami menyukai dia," tulis seorang pemuda Iran di Twitter. "Kami membutuhkan dia."

Rafsanjani barangkali ingin dikenang sejarah sebagai pahlawan memodernisasi Iran. Dia memang pantas diacungi jempol karena telah menciptakan sebuah sistem "Universitas Terbuka", mendidik jutaan anak muda Iran dan generasi teknorat serta diplomat muda berbakat, seperti Menteri Luar Negeri Javad Zarif.

Tapi sejarawan bakal mencatat karier politik Rafsanjani diwarnai masa kelam, ketika Iran mengasingkan jutaan rakyatnya, memenjarakan dan mengeksekusi puluhan irbu orang, dan terlibat perang panjang menghadapi Saddam Husain dari Irak, mengakibatkan sekitar setengah juta orang terbunuh. Dia mengkampanyekan kasih sayang dan sikap moderat saat tidak berkuasa, tapi dia tidak cukup menunjukkan komitmen itu ketika dalam lingkup kekuasaan.

Pengaruh dari kematian Rafsanjani terhadap politik Iran akan lebih dipahami dalam beberapa bulan ke depan. Presiden Hasan Rouhani merupakan anak didik Rafsanjani akan maju dalam pemilihan presiden Mei tahun ini. Apapun hasilnya, kematian Rafsanjani tidak akan mengubah kekuatan fundamental di Teheran, di mana Rafsanjani ikut membantu membentuknya.

Walau dia disebut penganut Machiavelli dalam sejumlah obituari, dia ditaklukkan oleh orang dia tunjuk, Ali Khamenei.


Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

Presiden Suriah Basyar al-Assad bertemu pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di Ibu Kota Teheran, Iran, 25 Februari 2019. (Twitter)

Assad bertemu Khamenei di Teheran

Qasim Sulaimani juga hadir.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

01 April 2019
Bertemu pemuka Yahudi
04 Maret 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR