kisah

Faradj Martak, sahabat Arab Soekarno terlupakan

Lelaki berdarah Hadramaut ini menghibahkan rumahnya di Jalan Pegangsaan nomor 56, Jakarta, untuk negara. Di rumah inilah Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

18 Januari 2017 23:31

Namanya seolah tenggelam dilindas zaman. Ia tidak ditulis dalam buku-buku sejarah, apalagi masuk dalam mesin pencari Google.

Dia kalah tersohor ketimbang pahlawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia keturunan Arab lainnya, seperti Sultan Hamid al-Gadri, Abdul Rahman Baswedan, dan Husain Mutahar. Padahal jasa dan kisah heroiknya tidak kalah penting dibanding mereka atau pejuang-pejuang pribumi.

Hingga akhirnya momentum itu tiba awal bulan ini. Setelah terkubur selama lebih dari tujuh dasawarsa sejak negara ini dibentuk, nama Faradj bin Said Martak muncul bahkan tersiar luas di beragam media sosial. Kisah kepahlawanan lelaki kelahiran Hadramaut, Yaman Selatan, pada 1897, ini dibagikan karena muncul tudingan orang-orang keturunan Arab kurang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia.

Yusuf Muhammad Martak, keponakan dari Faradj bin Said Martak, berterus terang keluarga besarnya selama ini memang sengaja menyembunyikan jasa putra ketiga dari empat bersaudara itu - Djuslam, Muhammad, Faradj, dan Ahmad. "Karena kami ikhlas membantu perjuangan bangsa dan negara ini," kata Yusuf Martak saat ditemui Albalad.co hari ini di sebuah restoran Arab di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.

Dia bercerita kedekatan Faradj Martak dan Soekarno dimulai sejak 1940-an, ketika Indonesia belum merdeka. Menurut dia, Soekarno memang perlu bantuan para pengusaha untuk membidani kelahiran negara baru. Faradj bin Said Martak bersama tiga saudara kandungnya membikin N.V. Alegemeene Import-Export en Handel Marba.

Yusuf Martak menambahkan Marba saat itu termasuk dari sedikit konglomerasi di Indonesia, selain milik pribumi, seperti Hasjim Ning dan Agus Musin Dasaad. Marba - kepanjangan dari Martak Badjened - sejatinya dirintis pada 1940 oleh keluarga Faradj Martak bareng keluarga dari klan Badjened, sama-sama asal Hadramaut.

Seperti pahlawan keturunan Arab lainnya, Faradj Martak sudah menganggap Indonesia sebagai tanah airnya. Karena itu, dia tidak segan-segan menggelontorkan fulus atau memberikan asetnya buat negara ini.

Yusuf Martak bilang menjelang proklamasi kemerdekaan, Faradj Martak meminta Soekarno dan keluarga tinggal di rumahnya di Jalan Pegangsaan nomor 56. Dia pun mendapat pelayanan istimewa dan ketika sakit - konon menderita beri-beri dan malaria - Faradj Martak memberi madu Sidr untuk mengobati sang proklamator kemerdekaan Indonesia itu hingga sembuh.

Madu Sidr berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan, merupakan madu paling mujarab dan mahal. Madu ini dari bunga pohon Sidr dan hanya bisa dipanen 1-2 kali setahun saat musim dingin.

Pohon Sidr juga dikenal dengan sebutan pohon Lote, Jujube, atau Nabkh. Kabarnya, Sidr merupakan buah pertama dimakan Nabi Adam ketika turun ke bumi. Pohon ini juga dipakai di masa Nabi Sulaiman dan para Firaun Mesir untuk membangun istana dan kuil-kuil. Pohon ini sangat kokoh dan suci seperti, disebutkan hingga empat kali dalam Al-Quran, yaitu di Surat Saba.

Madu Sidr dari Hadramaut memiliki kemampuan membunuh aneka bakteri lebih hebat dibanding antimikroba paling hebat digunakan kedokteran modern dan tanpa efek samping. Madu ini bersifat antibiotik, antiseptik, dan antijamur.

Menurut Yusuf Martak, Soekarno rutin mendapat pasokan satu dus madu Sidr saban satu atau dua bulan sekali. Satu karton madu itu terdiri dari 20 botol masing-masing seberat satu kilogram. "Harganya mungkin sekitar Rp 1 juta per botol kalau dikira-kira dengan uang sekarang," katanya.  

Di rumah Jalan Pegangsaan nomor 56 itulah Soekarno dan para tokoh pejuang lainnya mempersiapkan proklamasi hingga dibacakan di sana pada 17 Agustus 1945, jam sepuluh pagi. "Faradj Martak dan tiga saudara kandungnya hadir saat proklamasi dibacakan Soekarno dan Mohamad Hatta. Tapi mereka tidak mau kelihatan," tutur Yusuf Martak.      

Rumah itu dibeli Faradj Martak dari orang Belanda, namun dia tidak tahu harganya. Dia memastikan rumah enam kamar tidur itu sangat mahal di zaman itu karena Jalan Pegangsaan termasuk kawasan elite.

Setelah Soekarno dan keluarganya tinggal di sana, Faradj Martak, ayah 19 anak dari tiga istri, pindah ke rumah satunya lagi terletak di seberang jalan, yakni di Jalan Pegangsaan nomor 41.

"Hubungan paman saya, Faradj Martak, dengan Soekarno sangat dekat," ujar Yusuf. "Dia biasa dipanggil ke istana oleh Soekarno."

Sekitar sepekan setelah proklamasi kemerdekaan, Faradj Martak menyampaikan sesuatu sangat mengejutkan saat sarapan berdua dengan Soekarno di rumah bersejarah itu. Dia menghibahkan rumah itu untuk negara.

Tidak cukup sampai di situ, Faradj Martak pun membelikan sejumlah gedung di Jakarta buat pemerintah. Hal ini diakui Menteri Pekerjaan Umum M. Sitompul lewat surat ucapan terima kasih diketik pada 14 Agustus 1950.

Soekarno secara pribadi menulis surat ucapan terima kasih atas pemberian madu Sidr oleh Faradj Martak sehingga dia bisa sembuh dari sakit beri-beri.   

Baca juga: 

Pahlawan Indonesia berdarah Yahudi    

Faradj Martak meninggalkan Soekarno lebih dulu. Dia mengembuskan napas terakhir dalam usia 65 tahun pada 1962 di Kota Aden, Yaman Selatan, setelah sakit dua hari, dan dikuburkan di sana. Karena jauh, Soekarno hanya bertakziah kepada keluarga. "Pesannya, kalau ada perlu atau kesulitan apapun, temui saya secara pribadi langsung," kenang Yusuf Martak.

Soekarno menyusul delapan tahun kemudian. Sahabatnya, Faradj Martak, hilang dari sejarah sepanjang usia negara ini, sekarang telah muncul. Dan dia tidak boleh lagi dilupakan.         

Pangeran Muhammad bin Salman diangkat menjadi wakil putera mahkota. (al-arabiya)

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

Jalan di sekitar Masjid Al-Haram, Kota Makkah, lengang dari kendaraan sejak Arab Saudi memberlakukan jam malam pada 23 Maret 2020. (Haramain Info)

Jejak Yahudi di negeri Dua Kota Suci

Orang-orang Yahudi di Al-Ahsa menduduki posisi-posisi penting di Al-Ahsa, khususnya menjadi bendahara, dikenal dengan sebutan sanduq amini.

Pos pemeriksaan dijaga milisi Syiah di Kota Tikrit, Irak. (thetimes.co.uk)

Konsorsium milisi Syiah di Irak

Beberapa milisi Syiah meraup fulus lebih dari US$ 100 ribu saban hari dari satu pos pemeriksaan di jalan menghubungkan Baghdad dan provinsi-provinsi di selatan Irak lewat pungutan liar.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sepak terjang milisi bayaran bikinan Erdogan

Erdogan telah mewujudkan ideologi ekspansionis atas nama Islam sejak menyerbu wilayah timur laut Suriah Oktober tahun lalu, merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

pangeran muhammad bin salman

Temu rahasia Saudi-Israel

"Kalau bukan karena isu Palestina, hubungan dengan Israel akan sangat terbuka dan disambut karena kami membutuhkan peralatan dan teknologi militer mereka," kata seorang mantan diplomat UEA tahun lalu.

14 Oktober 2020

TERSOHOR